PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #19

Dosa-Dosa Pewaris

Ruang kamar tidur utama itu kini terasa seperti sebuah ruang persidangan di alam baka. Udara yang menguar dari perapian tak lagi membawa kehangatan, melainkan hawa panas yang menyesakkan, menyerupai lidah api penyucian yang siap menjilat dosa-dosa manusia. Di tengah ruangan, Ryan masih bersimpuh di atas karpet tebal. Wajahnya yang tampan dan selalu terlihat inosen kini berantakan oleh keringat dingin, darah kering, dan kepanikan absolut yang meruntuhkan kewarasannya. Pemuda yang beberapa menit lalu merasa menjadi dewa atas nyawa saudara-saudaranya, kini menyadari bahwa ia tak lebih dari sekadar debu di bawah telapak kaki sang kaisar bisnis, ayahnya sendiri.


Hendra duduk tak tergoyahkan di atas kursi rodanya. Kulitnya pucat dan berkerut dimakan usia dan penyakit, namun sorot matanya menyala terang oleh api kekecewaan yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Di belakang Hendra, Chintya berdiri mematung layaknya malaikat maut yang bisu, menjadi saksi atas penghakiman terakhir keluarga konglomerat yang telah membusuk dari dalam ini.


"Kau bertanya kepadaku, mengapa aku melakukan semua ini?" suara Hendra memecah keheningan, berat dan bergema di setiap sudut kamar. "Kau bertanya mengapa aku mengundang kalian ke vila ini seolah-olah aku sedang mengantarkan domba-domba ke tempat penjagalan?"


Ryan menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa seperti diisi oleh pecahan kaca. "Pa... aku hanya berusaha melakukan apa yang menurutku benar. Aku berusaha melindungi warisan kita dari orang-orang yang tidak pantas."


"Orang-orang yang tidak pantas?" Hendra mengulang kalimat itu dengan nada mencemooh yang sangat tajam. Pria tua itu tertawa pelan, sebuah tawa getir yang dipenuhi rasa sakit yang terlampau dalam. "Kalian semua tidak pantas, Ryan. Tidak satu pun dari kalian. Kalian adalah racun yang menggerogoti pohon keluarga ini hingga mati."


Hendra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke arah putra bungsunya. Malam ini, seluruh tirai kepalsuan akan dirobek hingga tak bersisa.


"Kau pikir aku buta? Kau pikir aku hanya seorang lelaki tua pesakitan yang menghabiskan waktunya meratapi nasib di atas kursi roda, sementara kalian dengan bebas membagi-bagi bangkaiku?" desis Hendra, setiap suku katanya dipenuhi oleh racun kekecewaan. "Aku telah mengamati kalian. Aku telah memberikan segalanya: pendidikan terbaik di luar negeri, fasilitas mewah, dana perwalian yang tak akan habis tujuh turunan. Tapi apa balasannya? Kalian membalasku dengan pengkhianatan yang paling menjijikkan."


Ryan terdiam, bahunya merosot turun. Ia tak berani menatap mata ayahnya.


"Mari kita mulai dari kebanggaan keluarga ini. Adrian," ucap Hendra perlahan, menyebut nama putra sulungnya yang kini telah terbaring tak bernyawa di kamar seberang dengan lubang peluru di kepalanya. "Bagi dunia, dia adalah CEO muda yang brilian. Pewaris tahta yang tak tergoyahkan. Tapi bagiku? Dia adalah ular berbisa yang menunggu aku tertidur untuk mematuk leherku."


Chintya menundukkan pandangannya saat mengingat dokumen-dokumen rahasia yang pernah ia temukan dan laporkan kepada majikannya.


"Adrian memalsukan tanda tanganku untuk menjual aset-aset krusial perusahaan ke perusahaan cangkang miliknya sendiri," lanjut Hendra, suaranya semakin mengeras. "Dia tidak pernah melihatku sebagai ayahnya. Di matanya, aku hanyalah batu sandungan menuju kekuasaan mutlak. Yang lebih keji lagi, dia dan Maya telah bersekongkol mencari panti jompo terpencil di Swiss. Mereka merencanakan penculikanku yang dibalut dengan dalih 'perawatan medis'. Mereka ingin membuangku, mengasingkanku agar mereka bisa menguasai rumah utama tanpa perlu mendengar suara batukku lagi. Apakah itu tindakan seorang anak?"


Ryan menggelengkan kepalanya perlahan, air mata kembali menggenang di matanya, namun kali ini air mata itu lahir dari kengerian mendengar rahasia gelap saudara-saudaranya yang selama ini tak pernah ia ketahui secara detail.


Hendra kembali menyandarkan punggungnya. Matanya kini beralih pada bayangan api di perapian. "Lalu kita memiliki Ricko. Si penguasa malam yang merasa dunia berada di bawah telapak kakinya."


Napas Hendra terdengar sedikit bergetar ketika menyebut nama anak keduanya itu. Bukan karena sedih, melainkan karena amarah murni yang kembali mendidih.


Lihat selengkapnya