PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #20

Anak yang Tidak Pernah Dibedakan

Udara di dalam kamar tidur utama itu terasa seperti membeku, menyedot habis oksigen yang tersisa dan menggantikannya dengan gas beracun dari masa lalu. Pernyataan Hendra baru saja dijatuhkan layaknya sebuah guillotine yang memenggal habis kesombongan Ryan. Pemuda berwajah pucat itu masih bersimpuh di atas karpet, tubuhnya kaku, matanya terbelalak menatap sang ayah seolah pria tua di kursi roda itu tiba-tiba berubah wujud menjadi entitas dari neraka.


Di sudut ruangan, perapian mulai kehilangan tenaganya, menyisakan bara merah yang berkedip lemah layaknya detak jantung yang hampir mati. Angin pegunungan di luar jendela melolong semakin panjang, menabrak kaca dengan suara yang menyerupai rintihan.


"Kesalahan fatal?" ulang Ryan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa seperti disumpal oleh segumpal pasir. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menolak untuk mempercayai apa yang baru saja ia dengar. "Tidak mungkin. Papa... Papa pasti sedang mengujiku lagi, kan? Maya itu bukan siapa-siapa! Dia tidak punya hak setetes pun atas darah keluarga kita! Dia hanya anak pungut yang kebetulan beruntung!"


Mendengar kata-kata kasar itu, rahang Hendra mengeras. Pria tua yang ditakuti oleh ribuan karyawan dan lawan bisnisnya itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya yang berurat menekan sandaran tangan kursi roda dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran orang sakit.


"Jaga mulutmu saat kau menyebut nama putriku, Ryan," desis Hendra. Suaranya tidak meledak, namun getarannya begitu rendah dan mengancam, sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.


Ryan tersentak. Ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin kembali membasahi pelipisnya.


"Putri... putri Papa?" gumam Ryan kebingungan. "Tapi... dokumen itu! Kak Adrian menemukan dokumen adopsinya bertahun-tahun yang lalu. Kami semua tahu! Mama Lidya juga tahu! Papa mengadopsinya dari panti asuhan kecil di pinggiran kota karena Mama saat itu mengalami depresi setelah keguguran, kan? Dia hanya alat untuk membuat Mama senang, sebelum akhirnya Kak Ricko, aku, dan Kevin lahir!"


Hendra menatap putranya dengan pandangan yang kosong, sebuah tatapan yang menyiratkan rasa kasihan sekaligus rasa jijik yang luar biasa.


"Itulah yang dipercayai oleh dunia, dan itulah yang kubiarkan kalian semua percayai," ucap Hendra perlahan. Ia menyandarkan punggungnya kembali, matanya menerawang jauh menembus batas-batas dinding kamar, kembali ke masa-masa di mana kerajaan bisnisnya masih baru dibangun dan jiwanya belum sepenuhnya membusuk.


Hendra menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa-sisa udara untuk menceritakan sebuah kebenaran yang selama ini ia kubur rapat-rapat di bawah fondasi kemegahan keluarganya.


"Maya memang bukan darah dagingku secara biologis," Hendra memulai pengakuannya, membiarkan keheningan malam menyerap setiap kata yang ia ucapkan. "Aku membawanya dari panti asuhan saat ia masih bayi merah yang rapuh. Ibumu, Lidya, saat itu memang sedang hancur. Tapi kau salah jika mengira Maya hanyalah sebuah alat pereda duka."


Chintya, yang masih berdiri tegak di dekat pintu sebagai tameng pelindung majikannya, mendengarkan dengan saksama. Ia telah mengetahui banyak rahasia keluarga ini, tetapi kisah tentang Nyonya Maya selalu menjadi ruang gelap yang tak pernah tersentuh oleh siapa pun.


"Ketika aku pertama kali menggendongnya," lanjut Hendra, suaranya melembut, membawa setitik kehangatan yang sangat langka. "Dia tidak menangis. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang polos, dan tangan kecilnya menggenggam jari telunjukku dengan sangat kuat. Pada detik itu juga, aku membuat sebuah sumpah di dalam hatiku. Sumpah bahwa anak ini, yang tidak memiliki siapa pun di dunia ini, akan menjadi tanggung jawabku seutuhnya. Aku memberikan nama belakangku padanya. Aku memasukkannya ke dalam kartu keluargaku. Dan sejak hari itu, di mataku, di hadapan Tuhan, Maya adalah putriku."


Ryan tertawa sumbang, sebuah tawa histeris yang menutupi kepanikannya. Ia merangkak maju beberapa sentimeter, menatap ayahnya dengan pandangan memelas yang bercampur dengan kemarahan.

Lihat selengkapnya