Kabut semakin pekat menyelimuti villa kematian itu, menarik tirai kepekatan yang lebih dalam di atas punggung bukit pegunungan. Di dalam kamar tidur utama villa yang luas itu, bara api di dalam perapian perlahan meredup, meninggalkan pijar kemerahan yang memantul lemah di atas lantai marmer. Udara di ruangan tersebut terasa padat oleh sisa-sisa nafas emosi yang baru saja dilepaskan. Ryan masih bersimpuh di atas karpet persia, tubuhnya bergetar hebat dalam keputusasaan yang absolut, sementara Hendra duduk tegak di kursi rodanya, membiarkan keheningan mengambil alih setelah pengakuan mengerikan tentang identitas Maya terungkap.
Di sudut ruangan, Chintya perlahan melangkah maju. Bayangan tubuh gadis itu memanjang di bawah temaram cahaya api, mendekati pusat perhatian dengan gerakan yang tenang namun dipenuhi beban sejarah yang berat. Ia menatap punggung Ryan yang hancur, lalu mengalihkan pandangannya kepada Hendra, majikannya—atau lebih tepatnya, sosok yang selama ini ia panggil dengan sebutan 'Tuan', namun memegang takdir darah di dalam nadinya sendiri.
"Kau terkejut, Ryan?" suara Hendra memecah kesunyian, terdengar datar namun sarat akan getir masa lalu. Pria tua itu menoleh perlahan, menatap putra bungsunya yang kini tak lebih dari reruntuhan ego. "Kau mengira rumah ini hanya dihuni oleh orang-orang kaya yang sah secara hukum dan para pelayan rendahan yang bisa diperlakukan sesuka hati?"
Ryan mendongak perlahan, matanya yang sembab menatap sang ayah dengan kebingungan yang bercampur rasa ngeri. "Apa... apa hubungannya semua ini dengan Marni dan anak ini? Kenapa Papa tiba-tiba membahas mereka di tengah kekacauan ini?"
Hendra menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang membawa beban berpuluh-puluh tahun penyesalan. Ia mengisyaratkan dengan gerakan tangan kecil agar Chintya mendekat. Chintya menurut. Ia berdiri tepat di sisi kursi roda Hendra, tangan kanannya dengan lembut menyentuh pundak pria tua itu, memberikan gestur perlindungan sekaligus pengakuan yang selama ini disembunyikan dari dunia luar.
"Karena rahasia terbesar dari keluarga ini tidak terletak di lemari tempat kau menyembunyikan mayat Maya, Ryan," ucap Hendra dingin. "Melainkan terletak pada masa lalu yang sengaja kubangun di balik dinding-dinding rumah utama."
Melalui kilas balik memori yang perlahan dibuka kembali oleh sang patriark, tirai waktu terangkat, memperlihatkan kebenaran yang selama ini terkubur rapat di balik status sosial dan kemunafikan keluarga konglomerat.
Puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum anak-anak kandungnya lahir dari rahim Lidya, Hendra bukanlah pria dingin tanpa hati seperti yang mereka kenal. Di masa-masa awal perjuangannya membangun kerajaan bisnis dari reruntuhan kecil, ia mengenal seorang wanita bernama Marni. Bagi publik luar, Marni adalah gadis desa yang direkrut menjadi pelayan rumah tangga. Namun, kenyataannya jauh melampaui batasan kasta tersebut. Marni bukan sekadar pembantu yang mengabdi lebih dari dua puluh tahun kepada Hendra; Marni adalah istri kedua yang dinikahi secara siri dalam kesederhanaan, jauh dari sorotan kamera media dan ambisi sosial masyarakat elit.
"Ibumu, Lidya, adalah wanita pilihan keluarga terpandang yang dipaksakan padaku melalui pernikahan bisnis," kenang Hendra, matanya menerawang menembus kobaran api perapian. "Pernikahan tanpa cinta, yang dibangun di atas fondasi saham dan merger perusahaan. Di tengah dinginnya rumah utama bersama Lidya, aku menemukan kehangatan yang sesungguhnya pada diri Marni. Dia tulus, sederhana, dan mencintaiku bukan karena lembaran saham atau kartu kredit black card."
Ryan menatap Chintya dengan mata membelalak lebar. Kepingan-kepingan teka-teki dari pemakaman minggu lalu, air mata histeris Hendra di liang lahat, dan bagaimana Chintya memperlakukan pria tua itu selayaknya seorang anak, mendadak jatuh tepat ke tempatnya.