PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #22

Dosa Pertama Ayah

Malam di villa pegunungan itu semakin larut, namun waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar tidur utama. Bara api di dalam perapian perlahan berubah menjadi kelabu, menyisakan kehangatan yang semakin menipis dan digantikan oleh hawa dingin merayap yang menusuk tulang. Di atas lantai persia yang dingin, Ryan masih tertegun dalam kebisuan yang meremukkan sisa-sisa kewarasannya. Di hadapannya, Hendra duduk tegak di atas kursi roda, wajah tuanya terpahat dalam bayang-bayang gelap.


Pria tua itu tidak langsung menghabisi nyawa putra bungsunya. Sebelum takdir merenggut nafas mereka berdua, Hendra ingin membuka lembaran hitam paling busuk yang menjadi akar dari seluruh kutukan keluarga ini. Sebuah dosa asal yang tidak pernah tercatat di buku sejarah keluarga konglomerat, dosa yang melahirkan rantai pembantaian berdarah yang baru saja merenggut nyawa anak-anaknya.


"Kau mengira kehancuran keluarga ini dimulai sejak aku mengundang kalian ke vila ini, Ryan?" suara Hendra memecah keheningan, berat dan bergetar, membawa luka purba yang tak pernah sembuh. "Kau salah. Benih dari tragedi ini ditanam puluhan tahun yang lalu, pada malam dimana aku menulis dosa pertamaku dengan darah tanganku sendiri."


Chintya, yang berdiri tegak di dekat pintu, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia tahu cerita apa yang akan segera meluncur dari bibir sang ayah. Sebuah kisah tentang rahasia kelam yang selama ini dijaganya di balik status kepatuhannya sebagai pelayan.


Ingatan Hendra ditarik mundur melewati kabut waktu, kembali ke masa ketika rumah utama keluarga besar itu masih berdiri megah di pusat kota, puluhan tahun silam, jauh sebelum anak-anak kandungnya tumbuh menjadi monster yang rakus. Saat itu, Lidya—istri sahnya dari pernikahan bisnis—mendiami kamar-kamar mewah bersama kemewahan sosialita yang hampa. Di sayap belakang rumah, dalam kesederhanaan yang tenang, Marni hidup sebagai istri siri yang tulus mencintai Hendra.


"Ibumu, Lidya, bukanlah wanita yang bodoh," kenang Hendra, matanya menatap nanar ke arah lantai marmer. "Ia tahu ada rahasia yang kusembunyikan di balik dinding rumah utama. Ia mencium bau perselingkuhan itu, ia tahu bahwa ada wanita lain yang memberiku ketenangan yang tidak pernah bisa ia berikan."


Mata Hendra menyipit, mengenang malam jahanam yang mengubah hidupnya selamanya. Badai di luar jendela saat itu mengamuk hebat, menyerupai badai kemarahan yang meledak di dalam kamar tidur utama puluhan tahun lalu. Lidya, dengan mata melotot karena cemburu dan amarah yang membakar harga dirinya sebagai nyonya besar, berhasil membongkar tempat persembunyian Marni.


"Malam itu, Lidya menemukan Marni dan Chintya kecil yang baru berusia beberapa tahun," bisik Hendra, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kemarahannya berubah menjadi histeria yang mematikan. Ia menyerbu masuk ke dalam pondok belakang, mencaci maki Marni dengan kata-kata paling hina yang pernah didengar oleh telinga manusia."


Di tengah kilas balik ingatan itu, rasa sakit kembali merobek dada Hendra. Ia melihat kembali bagaimana Lidya, dalam kemurkaannya yang membabi buta, melayangkan tamparan keras ke wajah Marni hingga wanita malang tersungkur ke lantai, lalu mencengkram kerah baju Chintya kecil yang menangis ketakutan.


Lihat selengkapnya