Badai di luar jendela kamar tidur utama akhirnya benar-benar reda, meninggalkan hamparan kabut putih yang membeku di atas pucuk-pucuk pohon pinus. Namun, di dalam ruangan yang diterangi oleh sisa-sisa bara api perapian itu, badai yang sesungguhnya baru saja dilepaskan. Udara terasa begitu berat, dipenuhi oleh keheningan yang mencekam setelah pengakuan demi pengakuan membuka borok paling busuk dari keluarga konglomerat tersebut.
Ryan masih terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. Punggungnya bersandar lemah pada dinding panel kayu mahoni, nafasnya tersengal-sengal tidak teratur. Peluh dingin bercampur dengan sisa darah kering di wajahnya menciptakan pemandangan yang menyedihkan. Di hadapannya, Hendra tetap duduk tegak di atas kursi roda, menatap putranya dengan sorot mata yang sepenuhnya kosong dari rasa iba.
"Kau lelah, Ryan?" suara Hendra memecah keheningan, terdengar begitu tenang dan berwibawa, sangat kontras dengan kekacauan batin yang menghancurkan jiwa pemuda di hadapannya.
Ryan mendongak perlahan, matanya sayu menatap sang ayah. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, bagaikan ditelan oleh gurun pasir yang membakar. Ia mencoba menelan ludah, namun rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk dinding kerongkongannya.
"Pa..." bisik Ryan parau, suaranya terdengar serak dan melemah. Ia mengerutkan kening, merasakan sensasi terbakar yang menjalar dari leher hingga ke dalam rongga dadanya. "Ada apa... dengan tenggorokanku? Rasanya... sangat panas..."
Namun, beberapa menit setelah cairan itu mengalir ke dalam lambungnya, sensasi hangat tersebut berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
Sebuah rasa terbakar yang luar biasa hebat menghantam perut Ryan, ia meraih cangkir yang sebelumnya dia minum isinya, dia melihatnya lalu tiba-tiba Ia terbatuk keras, menjatuhkan cangkir porselen itu hingga pecah berkeping-keping di atas lantai marmer. Cairan teh yang tersisa menciprat ke mana-mana.
"Aargh...!" rintih Ryan, mencengkeram dadanya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya yang pucat pasi mendadak berubah menjadi kemerahan, lalu berangsur-angsur menjadi kebiruan karena kekurangan oksigen. Ia merosot semakin rendah ke lantai, tubuhnya kejang-kejang kecil menahan rasa sakit yang merobek isi perutnya dari dalam. "Pa... teh ini... apa isi teh ini?!"
Hendra meletakkan cangkirnya yang kini sudah kosong ke atas meja nakas dengan bunyi denting pelan. Ia menatap putranya yang mulai sekarat tanpa menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun.
"Racun, Ryan," jawab Hendra tenang, seakan ia sedang menyebutkan daftar belanjaan harian. "Racun pelan yang melumpuhkan sistem pernapasan dan menghancurkan organ dalam dalam hitungan menit."
Mendengar pengakuan itu, mata Ryan membelalak lebar, dipenuhi oleh teror yang absolut. Ia terkejut bukan kepalang. Nafasnya terengah-engah, berebut oksigen yang seolah lenyap dari ruangan.
"Papa... Papa meracuniku?!" teriak Ryan histeris, air mata kesakitan mengalir deras membasahi pipinya. Ia mencengkeram ujung celana Hendra dengan sisa tenaganya, memohon belas kasihan. "Kenapa, Pa?! Aku anak Papa! Aku satu-satunya yang bertahan! Kenapa Papa membunuhku?!"