Udara di dalam kamar tidur utama itu terasa semakin tipis, menipis seiring dengan degup jantung yang perlahan-lahan melambat di balik dinding dada yang terdiam. Di luar jendela, kabut malam yang pekat telah berubah menjadi gulungan kelam keperakan, menyambut datangnya senja yang dingin dan hampa di atas pegunungan. Tidak ada lagi suara badai, tidak ada lagi gema letusan senjata api, dan tidak ada lagi jeritan keputusasaan. Yang tersisa hanyalah keheningan absolut yang merayap di atas lantai marmer berdarah, merengkuh jasad-jasad yang terkulai tak bernyawa dalam pelukan dosa-dosa mereka sendiri.
Di atas lantai dingin dekat perapian, Ryan meregang nyawa dalam detik-detik terakhir keberadaannya di muka bumi. Racun pekat itu telah melumpuhkan seluruh fungsi organnya, merobek dinding lambung dan menghentikan aliran udara ke paru-parunya. Matanya yang terbuka lebar menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong yang mengerikan, merekam kebusukan akhir dari seorang pemuda yang mengira dirinya bisa menipu takdir. Kejang-kejang kecil di tubuhnya berangsur-angsur melemah, hingga akhirnya lenyap tak bersisa. Pemuda bermuka malaikat itu tewas dalam balutan tipu daya dan pengkhianatannya sendiri.
Beberapa langkah dari jasad Ryan, di atas kursi rodanya yang kokoh, Hendra menundukkan kepalanya dalam-dalam. Racun yang sama juga telah merambat ke dalam pembuluh darah sang patriark, mematikan denyut nadinya secara perlahan namun pasti. Napas pria tua itu terdengar berat, berderak di dalam tenggorokannya yang kering. Namun, di ambang kematiannya, mata Hendra yang mulai meredup tidak menatap ke arah pintu, tidak juga menatap harta kekayaan triliunan rupiah yang berserakan di luar sana.
Pandangan pria tua itu perlahan terangkat, menatap ke arah cermin besar di sudut ruangan yang memantulkan bayangan kamar yang bersimbah darah. Di dalam pantulan itu, seolah-olah berkelebat bayangan kelima anaknya—Adrian yang ambisius, Maya yang penuh kepalsuan, Ricko yang arogan, Kevin yang penuh ketakutan, dan Ryan yang keji. Mereka semua telah hancur, binasa di atas panggung sandiwara yang ia ciptakan sendiri.
Chintya berdiri terpaku di sudut ruangan. Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya. Ia hanya memandangi sang ayah, pria yang baru saja ia mengakuinya secara terbuka sebagai orang tua kandungnya, meregang nyawa di hadapannya setelah menanggung beban batin yang terlampau purba untuk diukur oleh nalar manusia.