Beberapa minggu telah berlalu sejak malam kelam yang merenggut nyawa seluruh anggota keluarga inti di vila pegunungan tersebut. Garis polisi yang tadinya membentang di gerbang utama kini telah lama dilepas, meninggalkan bangunan batu megah itu dalam kesunyian yang abadi. Musim gugur berganti dengan hembusan angin sejuk yang membawa guguran daun-daun pinus cokelat ke atas pelataran kerikil. Di bawah langit kota yang cerah, sebuah ruangan kantor notaris berpanel kayu mahoni mewah menjadi saksi penutupan lembaran terakhir dari sebuah kekaisaran bisnis yang dibangun di atas ambisi dan runtuh karena keserakahan.
Di hadapan meja kerja yang besar, duduk seorang notaris senior bernama Pak Hartono yang mengenakan setelan jas rapi berkacamata tebal. Di hadapannya, seorang diri tanpa didampingi oleh pengacara mahal ataupun kerabat darah, duduklah Chintya. Mengenakan pakaian sederhana berwarna hitam polos, gadis muda itu menatap lurus ke arah map dokumen legal berukuran tebal yang tergeletak di atas meja. Tidak ada kilat ambisi di matanya, tidak ada seringai kemenangan, yang terpancar dari wajahnya hanyalah ketenangan batin yang mendalam setelah melewati badai kehancuran yang mengerikan.
"Nona Chintya," suara Pak Hartono memecah keheningan ruangan kantor tersebut. Notaris itu membuka lembaran demi lembaran kertas bermeterai dengan tangan yang sedikit bergetar. "Berdasarkan akta wasiat terakhir yang disahkan dan ditandatangani oleh almarhum Tuan Hendra tepat sebelum malam tragedi itu... seluruh aset kekayaan, kepemilikan saham mayoritas, properti, dan portofolio perusahaan di bawah kendali konglomerat keluarga resmi diwariskan kepada satu nama."
Chintya mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan respons pertamanya dalam pertemuan legal tersebut.
"Saya mendengarkan, Pak Hartono. Silakan lanjutkan pembacaan dokumennya," ujar Chintya dengan suara tenang, datar namun sangat jelas mengisi ruangan.
Pak Hartono menatap gadis di hadapannya dengan tatapan penuh rasa kagum bercampur keheranan. Sebagai orang kepercayaan Hendra selama puluhan tahun, ia tahu persis betapa rumit dan berdarahnya perebutan kekayaan bernilai triliunan rupiah ini di antara anak-anak kandung sang patriark.
"Seluruh harta kekayaan bergerak maupun tidak bergerak, termasuk vila pegunungan dan rumah utama keluarga, diwariskan secara mutlak dan penuh kepada “Chintya Hendrawan”," lanjut Pak Hartono membacakan pasal penutup wasiat tersebut. Notaris itu menutup map dokumen, lalu mengangkat kepalanya menatap Chintya. "Dengan tanda tangan anda di lembar terakhir ini, Nona Chintya akan resmi menjadi orang terkaya di negeri ini. Anda memegang kendali atas perusahaan multinasional yang mencakup sektor properti, pertambangan, hingga media. Apa yang ada dalam pikiran anda sekarang?"
Chintya terdiam sejenak. Ia memandang pena perak yang disodorkan oleh sang notaris, lalu mendongak menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
"Saya tidak akan mengambil satu sen pun dari uang itu untuk kepentingan pribadi saya, Pak Hartono," jawab Chintya dengan nada tegas yang membuat sang notaris terperanjat kaget.
Pak Hartono membelalakkan matanya di balik kacamata tebalnya. Ia bersandar ke belakang kursinya, tak percaya dengan apa baru saja ia dengar. "Tidak mengambil satu sen pun? Nona Chintya, anda sadar kan apa yang sedang anda katakan? Ini bernilai puluhan triliun rupiah! Anda bisa membeli apa saja di dunia ini, hidup bergelimang kemewahan hingga tujuh turunan!"