PIJARAYA

Meliana Melati
Chapter #1

Rencana Liburan

Alira benar-benar tidak habis pikir, hanya untuk mendapatkan ijin berlibur satu minggu dirinya harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Belum lagi dengan segerombol pertanyaan tak masuk akal, yang harus dirinya jawab hanya untuk mengambil hak cuti tahunan. 


"Kenapa aku harus terlahir sebagai budak corporate, bukan seorang miliyader! " Cibir Alira merasa pekerjaan yang sedang dirinya semakin banyak, belum lagi banyaknya email yang belum dia balas dan beberapa laporan yang belum dia kerjakan. 


Helena yang kebetulan lewat hanya tertawa, sebelum memberikan satu ticket kapal very dengan brosur paket liburan ke karimun jawa. Alira hanya bisa mendengus kesal, sambil menatap brosur yang diberikan oleh Helena dengan perasaan bahagia tentunya. Sudah sangat lama Alira merencanakan liburan ini, dan akhirnya bulan ini akan terwujud karena dirinya tidak sabar untuk menikmati libur ke karimun jawa, dan tinggal menunggu beberapa haro saja dirinya akan cuti. 


"Apa ini bagian dari life after break up?" Ujar Helena setelah tau jika sahabatnya baru saja ditolak cintanya oleh Refaldi, teman kuliah mereka dulu. 


Memang sangat lucu, bukan hanya sekali Alira menyatakan perasaanya pada laki-laki itu, melainkan tiga kali dirinya menyatakan cintanya pada Refaldi. Walaupun sudah tau jawabanya akan ditolak, tapi sepertinya Alira tidak kenal menyerah. 


Alira yang dari tadi tersenyum tidak sabar untuk pergi berlibur, benar-benar merasa kesal dengan ucapan Helena. Ayolah, apa salahnya menyatakan cinta tiga kali walaupun pada akhirnya terus di tolak? Lagipula, terakhir kali Alira menyatakan perasaanya pada Refaldi laki-laki itu sepertinya benar-benar muak padanya, hingga benar-benar membuat Alira sadar untuk melepaskan Refaldi. Lagipula, Refaldi juga sudah memiliki kekasih, dan gosip terakhir mengatakan dia akan bertunangan. 


"Jangan bahas dia lagi, lagipula aku sudah tidak ingin tau apapun tentang dia!" Mendengar ucapan Alira yang benar-benar bertekat keras melupakan Refaldi, sepertinya kali ini benar-benar serius. 


"Ya sudah aku hanya ingin mengatakan, jika kemarin aku melihatnya pergi ke toko perhiasan. " Ujar Helena menatap Alira yang sama sekali tidak merespon apapun dan malah melanjutkan perkerjaannya. 

****

Alira menatap keluar jendela Kamar kosnya, tampak sunyi karena saat ini jam telah menunjukan pukul tengah malam. Mata Alira benar-benar tidak lepas dari city light yang terlihat jelas dari dalam kamarnya. Malam ini Alira benar-benar tidak bisa menutup matanya, sekalipun seharian dirinya menghabiskan waktu untuk bekerja. Apa dia sedang memikirkan Refaldi? 


Jika dihitung hari dimana dirinya lost contact dengan Refaldi mungkin tiga bulan yang lalu. Entahlah, Alira sendiri sudah tidak ingin tau apapun tentang laki-laki itu, mengingatnya saja benar-benar membuat dirinya sakit kepala. Lagipula, sekeras apapun Alira berjuang Refaldi, tidak akan mungkin melihat dirinya. 


Apakah Alira sedang menghindar interaksi dengan Refaldi? Tentu, bahkan Alira sengaja tidak aktif di sosmed untuk menghindarinya, selain itu Alira juga ingin focus untuk bekerja. Tidak ada lagi yang perlu diperjangkan dari Refaldi. Bukankah, sudah jelas laki-laki itu akan bertunangan, entah kapan itu yang pasti Alira tidak ingin tau, jangan sampai banyang-bayang Refaldi mengisi otaknya kembali. 


Benar saja, Alira tidak bisa tidur semalam dan barakhir menghabiskan waktu dengan membaca buku dan meminum tiga shot Americano. Ini benar-benar membuat Alira merasa buruk dengan hari libur yang sama sekali dia tidak bisa tidur seharian. Kini Alira, memutuskan untuk menghabiskan waktu liburnya untuk membeli beberapa buku untuk dibawa liburan minggu depan. 

Lihat selengkapnya