Meskipun mendapat penolakan dari anak keenam, aku tetap memberanikan diri untuk pergi ke Garut. Karena ini kali pertama aku akan menemui orang tua dari seorang perempuan yang sedang aku perjuangkan. Aku tentu pulang terlebih dulu untuk menemui kedua orang tuaku.
"Pulang ke mana?"
Pangandaran. Sebuah kabupaten baru buah pemekaran dari Kabupaten Ciamis, menjadi kabupaten paling muda di Jawa Barat pada masanya.
"Berarti dekat pantai, dong?"
Banyak yang mengira seperti itu saat mengetahui kalau aku berasal dari Pangandaran. Faktanya rumahku, lebih tepat rumah kedua orang tuaku berjarak kurang lebih 30 kilometer atau 50 menit lamanya perjalanan, jika perjalanan lancar tanpa macet. Karena beda urusan jika bertepatan dengan momen liburan, hari raya dan akhir tahun. Macet akan selalu menjadi bumbu sedap menemani perjalanan para penikmat wisata alam Pangandaran.
Seolah lelahnya perjalanan kereta api dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Banjar, lalu berlanjut menggunakan bus berukuran sedang menuju rumah, hilang dilalap kobaran semangat.
"Memangnya tidak ada tujuan akhir Stasiun Pangandaran?"
Sejak tahun 1982, stasiun dan jalur ke arah Pangandaran resmi dinon-aktifkan dengan alasan prasarana jalur kereta api yang sudah tidak memadai. Padahal andai saja masih beroperasi, jalur yang penuh dengan keindahan alamnya bisa dinikmati kembali oleh banyak orang. Selain bus, alternatif kereta api sebagai transportasi umum menjadi semakin baik dan terjangkau, sangat mempermudah semua kalangan yang hendak liburan ke Pangandaran. Banyak wisata alam Pangandaran yang bisa dinikmati seperti : Green Canyon, Citumang, Batu Hiu, Krapyak, Batu Karas yang terkenal menjadi tempat para turis mancanegara dan warga lokal untuk bermain selancar, tak lupa tentunya Pantai Pangandaran itu sendiri yang indah dengan ombaknya yang bersahabat juga keindahan biota lautnya. Namun, entah sampai kapan jalur kereta itu akan terwujud.
"Dan mempermudah juga mobilitas dari Pangandaran ke Garut, bukan?"
Betul, sayangnya saat momen pertemuan pertamaku dengan Safira, aku menggunakan kendaraan lain. Motor. Setelah bercerita malam sebelumnya kepada kedua orang tuaku, keesokan paginya aku pamit meminta izin dan doa terbaik mereka, berharap apa yang aku semogakan terkabul.
"Sebentar, bagaimana respon kedua orang tuamu saat itu, Ganda?"
Aku menceritakan se-detail mungkin tanpa ada satu variabel pun yang kulewati, jadi aku rasa mereka sangat paham maksud dan tujuanku menemui Safira ke rumahnya.
"Contoh, aku memposisikan diri sebagai orang tuamu, ya. Kenal dari mana?"
Awalnya dari Tiktok, Pak, Bu. Terus kenal lebih jauhnya lewat Instagram.
"Apa itu Tiktok dan Instagram?"
Media sosial, Pak, Bu. Sedikit mirip sama Whatsapp yang Bapak Ibu pakai.
"Coba lihat yang mana orangnya?"
Ini. Aku tunjukan sambil membuka akun Instagramnya.
"Ini siapa, ini siapa, ini siapa, ini siapa?"