Laut selalu jujur.
Ia tidak menjanjikan apa pun selain gerak yang terus berjalan—kadang tenang, kadang berisik—tanpa peduli siapa yang berdiri di tepinya.
Di atas kapal layar berwarna gading itu, senja turun perlahan seperti napas yang dilepaskan setelah hari panjang. Angin asin menyentuh kulit, ringan, seolah hanya ingin memastikan bahwa dunia masih berputar dengan caranya sendiri. Seorang perempuan berdiri di sisi dek, memegang gelas kaca berisi air dingin, memandangi garis cakrawala yang memudar.
Ia terbiasa mengendalikan hal-hal besar: angka, rapat, keputusan yang memengaruhi banyak orang. Tapi di sini, di tengah laut, kendali itu ditanggalkan. Tidak ada jadwal. Tidak ada nama jabatan. Hanya langkah pelan dan pikirannya yang akhirnya diberi izin untuk diam.
Suara langkah lain menyusul—tidak tergesa, tidak mencari perhatian. Seorang pria berhenti beberapa langkah darinya, menjaga jarak yang sopan, seakan paham bahwa senja adalah ruang pribadi. Wajahnya terlihat lelah, bukan oleh usia, melainkan oleh hari-hari yang menuntutnya menjadi seseorang di depan banyak mata. Di kapal ini, ia memilih menjadi anonim.