Pagi di laut tidak pernah tergesa.
Ia datang perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu pikiran siapa pun.
Perempuan itu berdiri di dek kapal layar, memeluk secangkir teh hangat. Rambutnya diikat seadanya, kemeja tipis menahan angin pagi. Ia memilih kapal ini bukan untuk liburan, tapi untuk diam—sesuatu yang jarang ia dapatkan di darat.
Sebagai pengusaha, ia terbiasa memimpin.
Sebagai pribadi, ia terbiasa sendiri.
Di tempat ini, dua hal itu tidak perlu dipertemukan.
Ia tidak sadar ada orang lain sampai suara langkah berhenti tak jauh darinya. Seorang pria berdiri menghadap laut yang sama, menjaga jarak dengan naluri yang mirip dengannya—tidak terlalu dekat, tidak ingin mengganggu.
Pria itu tampak biasa saja. Terlalu biasa untuk seseorang yang, di dunia lain, tidak pernah benar-benar sendiri. Di sini, tidak ada kamera. Tidak ada nama. Tidak ada peran.