Pilu Pila

Magia
Chapter #1

Kehidupan Baru

ADA suara tubuh pukul-memukul, memudarkan irama langkah kaki Pila menuruni tangga. Masih ada lima anak tangga sisa, Pila akhirnya berhenti. Di bawah, dua pemuda sedang adu jotos. Orang-orang sekitar mencoba melerai—pelan-pelan mundur ketika menyadari salah satu pemuda menarik badik terselip di lingkar pinggang celana. Tiada ragu lagi tangan pemuda itu mengayun ke tubuh lawan—menikam sisi kiri perut. Lawan hanya bisa mengerang, mata terbelalak, rebah dengan tangan bergetar memegangi perut. Putih keramik lantai di sekitar perkelahian seketika menjadi merah—titis-titis darah seolah gambar gugusan pulau-pulau kecil.

Si jagoan terbirit-birit lari. Tiada satu pun yang berani mengejar, semua pandangan tertuju pada yang luka. Pila bergidik menyaksikan darah tak berkesudahan keluar dari sobekan perut itu. Mendengar erangan dan panik orang-orang, Pila ikut memucat, merasakan dadanya bergemuruh dan napasnya ikut memburu. Jelas bukan pemandangan seperti itu yang ingin ia saksikan sebelum melanjutkan langkah-langkahnya ke sekolah.

Ia sempat berpikir balik badan, kembali ke huniannya, lantas menceritakan perkelahian itu pada Risa, ibunya. Pikiran itu cepat ia singkirkan. Walau berat, ia tetap meneruskan langkahnya menuruni lima anak tangga sisa, kemudian cepat-cepat melewati kerumunan.

Sepatu hitamnya sempat menginjak titis darah pada lantai, menimbulkan jejak-jejak merah berukir sol sepanjang langkah-langkahnya ke depan. Ia terus melangkah—melindas rumput di halaman. Tepat di sisi jalan ia berhenti, menggesek sepatunya pada sehimpun tebal rumput belulang tumbuh liar di antara serakan kerikil. Hijau belulang semakin basah bukan hanya sisa embun, juga jejak darah dari sepatu Pila.

***

GEDUNG itu memang ramai penghuni dari berbagai latar belakang, seakan magnet bagi orang-orang baru yang datang ke kota itu—orang-orang yang butuh tempat sembunyi dari suatu masalah mengejar. Papan plakat di halaman depan bertuliskan besar-besar, RUMAH IDAMAN. Kadang ada menyebutnya rusun, tetapi lebih banyak menyebutnya sebagai Rudaman. Tak peduli letaknya hanya di pinggiran kota, selalu jadi hunian pelarian berkat kemurahan yang ditawarkan.

Titik keramaian yang paling membludak ada di lantai satu dan lantai dua. Semua pintu memiliki penghuni. Sedangkan di lantai tiga beberapa ruangan kondisinya memprihatinkan, butuh direnovasi, namun tak kunjung ada perbaikan dari pengelola Rudaman. Lantai paling sepi ada di lantai empat, lebih banyak lagi pintu yang kosong. Setiap Rudaman kedatangan pengunjung baru, pasti diarahkan ke lantai empat. Di lantai itu pula ada beberapa pintu hunian yang disewakan hanya semalam atau hitungan jam saja. Pila tahu itu, beberapa kali menyaksikan sepasang muda-mudi tiba-tiba muncul dari tangga tanpa barang bawaan yang banyak, pasti mereka hanya menyewa sementara saja, bukan untuk menetap lebih lama.

Pertama kali Risa dan Pila tiba di Rudaman mereka tak bisa memilih di lantai mana harus tinggal. Pengelola Rudaman mengarahkannya ke lantai empat. Risa tak protes, kendati tak ada lift, toh di lantai empat sedikit lebih murah daripada lantai satu, dua, dan tiga.

***

DI sekolah, semua teman-teman kelas Pila khidmat mendengarkan guru sedang memaparkan operasi perkalian dan pembagian bilangan pecahan. Alih-alih cepat paham, Pila malah terus memikirkan darah itu, suara tubuh pukul-memukul, dan ketika mata belati merobek perut. Ia bertanya, bagaimana nasib pemuda yang terluka? Apakah masih selamat? Ataukah sudah mati?

Kejadian itu menambah pengalaman buruknya menjadi penghuni Rudaman. Kemarin-kemarin ia sempat membayangkan hidupnya akan lebih bahagia, apalagi ulang tahunnya yang ke-10 baru saja berlalu. Ia tak akan pernah lagi melihat Risa menangis di sudut kamar, termenung di tepi ranjang—tak berdaya menyembunyikan persoalan-persoalan pelik tak berkesudahan menerjang. Pila bisa saja mengangguk setiap Risa terkesan mendiktenya melupakan banyak hal sulit di masa lalu, mensyukuri masa kini sebagai kehidupan baru. Ia paling tahu dirinya tak sungguh-sungguh bahagia. Banyak sekali pertanyaan yang bergumul di benaknya.

Sepulang sekolah, Pila sempat berpikir mengambil arah jalan lain menuju Rudaman. Sebuah jalan yang menghubungkan ke salon, tempat Risa bekerja. Pila menduga ibunya pasti tahu ribut-ribut perkelahian. Bisa saja saat Risa berangkat ke salon masih mendapati kerumunan itu.

 Sekalipun amat ingin membicarakan itu pada ibunya, niatnya ke salon buyar oleh suatu hal. Pila tak suka melihat Risa bekerja di salon itu. Beberapa kesempatan sepulang sekolah, di sana mereka tak bisa leluasa saling mengobrol. Risa sibuk dengan pelanggan. Di antara pelanggan-pelanggan perempuan yang ingin rambut ikalnya diluruskan, diberi warna, hingga dipangkas, semakin banyak saja pelanggan pria berdatangan. Apalagi Mami Lis, seorang waria pemilik usaha itu sangat senang meningkatnya pelanggan pria sejak Risa bekerja.

Pila tak suka ketika tangan pelanggan pria liar ke tubuh ibunya. Tangan itu bisa semakin panjang sampai pada betis dan paha. Pernah Pila kesal karena Risa pasrah pada sentuhan itu. Alih-alih menyingkirkan tangan nakal itu, Risa malah menatap Pila dari balik cermin. Pandangan yang membulat seakan menusuk mata Pila. Seketika Pila mengangkat pantat dari kursi tunggu pelanggan, lekas masuk ke kamar istirahat. Sesaat saja Pila di kamar itu, ia mengendap-endap, menaruh matanya di balik gorden, menyaksikan Risa masih bekerja, dan tangan pria itu semakin dalam menyentuh paha ibunya yang berbalut jin.

Mata Pila masih menggantung di balik gorden sampai pekerjaan Risa selesai. Pria itu bercermin, puas dengan rambut barunya, lantas mengeluarkan isi dompetnya. Beberapa lembar uang ia masukkan ke dalam baju Risa melalui leher. Pila memberengut, bisa-bisanya Risa memasang senyum mengantar pria itu keluar dari salon.

“Mengapa Ibu hanya diam?” cecar Pila ketika Risa menghampirinya di kamar istirahat. Mereka bersisian di tepi ranjang. Risa tentu paham arah omongan Pila, tetapi Risa hanya diam.

“Jawab, Bu!” Pila mendesak.

“Ada banyak hal yang belum bisa Ibu sampaikan,” ucap Risa. “Ibu bisa menepisnya. Ibu selalu sadar tadi tak patut. Tapi sadar saja tak cukup. Ada kuasa yang tak bisa orang macam kita lawan. Bekerja di sini adalah keputusan yang Ibu ambil dengan akal sehat bagaimanapun risikonya. Bayangkan jika Ibu kesal, marah, menggerutu kepada lelaki tadi. Bagaimana nanti responsnya? Bagaimana reaksi Mami Lis?”

Lihat selengkapnya