Pilu Pila

Magia
Chapter #2

Demo di Kepala Pila

PADA kehidupan lama, sekali-kali Pila menyaksikan demo di televisi. Tentu selalu ada pertanyaan mengalun di kepalanya. Mengapa sekumpulan orang-orang itu ribut? Mengapa jalan tiba-tiba jadi kacau? Mengapa polisi menembak, pedemo melempar batu? Sebelum memikirkan semakin banyak pertanyaan, ia cepat-cepat menekan remot memindahkan ke kanal lain yang menayangkan kartun.

Menonton televisi yang menjengkelkan bagi Pila saat bersama ibunya. Selalu remot dalam kendali Risa. Seolah jika yang namanya ibu bergabung di depan televisi, anak tak leluasa memutuskan tontonan. Pila yang ingin menonton kartun, ia biasa apa ketika Risa lebih tertarik pada berita. Apalagi jika berita itu mengabarkan tentang demo, Risa akan sangat serius, sulit menarik perhatiannya dari televisi, tak boleh melewati sekata pun omongan pembaca berita. Sama seriusnya ketika menyaksikan sebuah tayangan bincang-bincang, ada lelaki paruh baya sedang memaparkan sesuatu oleh pertanyaan pewara, suka betul Risa menyaksikan lelaki itu. Sedangkan Pila tak suka, tetapi rasa-rasanya mengenal sosok itu, namun ia ragu-ragu dengan ingatannya ketika masih sangat kecil. Apalagi Risa menampik kalau sosok itu hanyalah seorang politikus biasa.

Ketika pertama kali mendengar rencana memulai kehidupan baru, Pila membayangkan akan leluasa menonton televisi jika Risa sibuk kerja. Sayangnya bayangan Pila runtuh sejak hari pertama tiba di Rudaman. Matanya meleleh ke segala sudut ruangan yang jauh lebih sempit daripada kondisi rumah di kehidupan lama. Mengecek kamar tidur, Pila tak menemukan televisi.

Cepat Risa memahami kekecewaan Pila, “Namanya kehidupan baru, tentu beda dengan kehidupan lama. Salah satunya, di sini tak ada TV.”

“Apa selamanya kita takkan punya TV, Bu?”

“Untuk saat ini kita tak bisa memilih itu, Sayang,” ucap Risa. “Ibu akan berusaha cari kerja, siapa tahu ke depannya kita bisa punya TV, yang lebih penting kamu harus terus sekolah. Kita tak boleh berharap sama siapa pun. Kita hanya bisa percaya pada diri sendiri. Pila masih kecil, maka Pila harus percaya pada Ibu, percaya kalau Ibu bisa bertanggung jawab.”

Omongan Risa sedikit menenangkan Pila, tetapi tetap saja ia butuh waktu untuk bisa menghilangkan kekecewaannya tanpa ada televisi di kehidupan baru. Walau tak ada televisi, bukan berarti Pila jauh dari dunia kartun. Sesekali ia masih bisa menyaksikan Masha and the Bear, Upin & Ipin, hingga SpongeBob melalui ponsel Risa.

Sayangnya ponsel itu bukan barang yang bebas Pila gunakan sebagaimana saat menyalakan televisi. Risa tak melulu berkenan meminjami Pila ponsel itu. Bagi Risa selalu lebih penting buku daripada ponsel. Oleh itu, sejak bekerja di Salon Mami Lis, untuk mengobati kekecewaan Pila karena aksesnya menonton televisi sudah tak ada—ia bahkan tak berencana lagi menghadirkan televisi di hunian itu, nyaris setiap pekan Risa harus mengeluarkan isi dompetnya hanya untuk berburu buku-buku. Seiring waktu buku di hunian mereka semakin banyak.

Pada ulang tahun Pila yang ke-10 dirayakan kecil-kecilan saja bersama Risa dan Tante Linda. Sehari setelahnya, Pila menghampiri ibunya di tempat kerja, di sana Mami Lis tahu hari ulang tahun Pila, perayaan itu diulangi. Pacar Mami Lis juga hadir, memberikan Pila sebuah boneka barbie. Sedangkan Mami Lis menghadiahi Pila 20 buku cerita anak yang dihimpun dalam kardus, dikemas dengan kertas pembungkus kado corak bunga berhias pita. Perayaan hari ulang tahunnya begitu menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Pila selama menjalani kehidupan baru.

Di Rudaman, rak kecilnya mulai semarak buku-buku. Pila selalu suka membaca buku, bahkan mulai belajar mandiri mengarang cerita-cerita sederhana. Menuggu Risa pulang kerja, lebih banyak ia mengisi waktu dengan membaca. Ada pula hari ia bosan membaca buku, maupun belajar mengarang, seperti hari ketika dua orang pemuda baku pukul berujung penikaman. 

Televisi yang tak ada di Rudaman, bukan berarti Pila jauh dari menyaksikan demo. Bahkan di kehidupan barunya, demo terasa lebih dekat dan sangat nyata ia rasa. Pernah pada suatu hari, Risa tak masuk kerja setelah gajian, berusaha membawa Pila yang telah pulang sekolah jalan-jalan jauh ke pusat kota. Mereka mencicipi jajanan murah pedagang kaki lima, menyambangi toko buku, Pila diberi kebebasan untuk memilih sendiri bacaan yang diinginkan. Mereka tak lupa menyambangi kebun binatang. Pila memohon dibawa ke mal demi mencoba wahana permainan seperti anak-anak orang kaya di televisi. Risa selalu punya seribu alasan menepis keinginan itu.

Saat sedang jalan-jalan begitu, mereka melewati kerumunan pedemo di jalan depan sebuah gedung pemerintahan. Saat itulah Pila menyaskikan demo secara langsung. Ia kesal di dalam mobil, sopir tiba-tiba memutar haluan, menyisiri jalan yang lebih panjang ke tempat tujuan. Rupanya jalan yang seharusnya dilewati menjadi macet, karena ada kerusuhan antara pedemo dan aparat. Mudah saja Pila membayangkan bagaimana rusuhnya demo itu, sebagaimana yang pernah ia saksikan di televisi.

Bahkan sudah beberapa kali saat pulang sekolah, entah menyusuri jalan menuju Rudaman atau melewati jalan yang terhubung ke Salon Mami Lis, Pila harus menepi hingga ke batas pagar, atau menyembunyikan dirinya di balik pohon oleh iring-iringan kendaraan pedemo. Bising oleh suara motor, semakin bising oleh suara-suara mereka seperti menyanyikan sebuah yel-yel, seakan sudah tak sabar untuk menumpahkan suara lebih banyak di tempat demo.

Kendati berada di Rudaman pun, dari balkon lantai empat sedang mengemut permen, Pila pernah menyaksikan iringan-iringan pedemo. Keseringan menyaksikan itu, Pila sampai punya cara lain mendefenisikan kota tempatnya menjalani kehidupan baru; sebuah kota yang begitu mudahnya demo pecah.

Pertanyaan tentang demo yang pernah tebersit di kepala Pila pada kehidupan lama, namun tak pernah benar-benar ia lisankan kepada Risa, di kehidupan baru, demo yang terasa dekat dalam hari-harinya dan begitu nyata terasa, pertanyaan-pertanyaan itu bangkit dalam benaknya, seperti telur yang sudah terlalu lama dierami, butuh segera menetas.

*** 

ITU pada sebuah malam, sejatinya mereka telah meluruskan punggung di kasur. Lampu kamar telah dipadamkan, remang oleh percikan cahaya yang berasal dari luar. Risa telah membawa Pila ke dalam hangat peluknya, membaui rambut yang masih wangi oleh sampo. Sunyi, detakan jarum jam yang menggantung di dinding begitu jelas menusuk kuping, bersahutan dengan gerak napas mereka. Risa telah memejam, matanya tiba-tiba terbuka kembali oleh suara Pila.

“Bu, mengapa orang-orang harus demo?” 

Risa melihat kedua mata Pila menyala di keramangan itu. Saat Pila mengulangi pertanyaannya, napasnya yang masih tercium sisa odol menusuk hidung Risa.

“Orang-orang berdemo karena itu adalah hal yang bisa dipilih, sekaligus untuk mengubah pilihan.”

Selalu begitu, sejak di kehidupan lama, terhadap banyak pertanyaan Pila, jawaban Risa selalu berkemas. Untuk mengetahui isinya, Pila perlu membuka kemasan itu dengan pikirannya sendiri. Ketika Pila mencoba mempermasalahkan cara-cara Risa menjawab, Risa akan balik menyerang, menganggap pertanyaan itu tak layak dipikirkan dan disampaikan anak-anak sepertinya. Seolah anak-anak hanya perlu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, apakah hujan bisa membuat banjir? Maka seorang ibu akan menjawab, tentu bisa membuat banjir. Pila nyaris tak pernah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan bernada begitu, terlebih-lebih di usianya yang ke-10 yang telah membaca cukup beragam buku.

Bagaimana mungkin ia bertanya pada hal-hal yang sudah ia ketahui, yang bisa ia cari tahu sendiri jawabannya. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti, mengapa merah disebut merah? Ia selalu butuh orang-orang di sekitarnya. Risa yang paling dekat dengannya, menjadi sasaran untuk pertanyaan-pertanyaan begitu, sayangnya Pila kerap dikecewakan jawaban Risa yang terlalu berkemas.

Juga ketika di sebuah malam yang lain—malam ketika Risa menghapus mekapnya di depan meja rias, Pila menceritakan kejadian baku pukul dua orang pemuda berujung penikaman, Pila lebih detail oleh informasi yang ia dengar dari dua orang ibu penghuni lantai tiga.

Risa awalnya memasang telinga dengan sabar setiap kesaksian Pila, kendati ia tahu betul informasi itu. Sebelum berangkat kerja ia tahu ribut-ribut itu, bahkan ia ke lantai satu ketika Pila sudah berangkat ke sekolah. Apa yang terjadi setelahnya, juga Risa ketahui.

“Tidak semua kejadian di sekeliling kita harus diketahui anak-anak sepertimu, Sayang,” begitulah Risa akhirnya menginterupsi. “Masih banyak hal lain yang lebih penting kamu tahu daripada kekerasan macam itu.”

Sekalipun Risa mengucapkan dengan nada lembut, Pila memberengut kesal. Padahal banyak yang ingin Pila sampaikan. Alih-alih memaksa meneruskan, ia menarik kursinya dari samping Risa yang kembali masyuk membersihkan wajahnya dengan kapas. Kursi itu ia atur di depan meja belajar bersampingan dengan ranjang. Lantas Pila cepat-cepat ke kamar mandi, menggosok gigi, lalu meluruskan punggung di kasur dengan separuh tubuhnya tenggelam dalam selimut.

Pila tampak mudah terlelap oleh pejam matanya, tenang tubuhnya memeluk guling. Ia mempertahankan posisi itu sampai Risa memadamkan lampu, ikut baring di sisi Pila. Risa mulai memejam mengira Pila benar-benar tidur, saat itulah mata Pila menyala di keremangan.

“Utang seberbahaya itu ya, Bu? Sampai-sampai ada orang yang dulu temanan tiba-tiba baku pukul dan menikam.”

“Ah, kamu ini. Masih juga dipikirkan,” ucap Risa memencet hidung Pila.

“Hanya ingin tahu, Bu,” Pila terdengar sengau.

“Kalau rasa percaya pada orang lain sudah hilang, akibatnya bisa sangat fatal, sedekat apa pun kita pada orang itu. Memang ada orang yang bisa menahan amarah, tapi banyak juga yang tak bisa melakukannya berlarut-larut. Seperti Ibu kepada ayahmu, tapi Ibu tak harus menikam kayak pemuda itu, kan.”

“Ibu memilih meninggalkan Ayah.”

“Karena itu sebaik-baik pilihan.”

Lihat selengkapnya