PILA semakin tak tertarik menyusul Risa di salon, bukan lagi semata-mata kesal tangan-tangan nakal pelanggan pria pada tubuh ibunya, ia telah memiliki teman baru. Adanya teman baru itu sempat Pila rahasiakan dari Risa. Malam saat mereka bersama, Risa suka bertanya, bagaimana sekolah Pila. Bawellah Pila menceritakan tentang kesehariannya, berapa nilainya, jajan apa di sekolah, ia mengunjungi perpustakaan, ada teman-temannya yang iseng merundung teman yang lain. Semua Pila sampaikan dengan penuh semangat. Tiba pertanyaan Risa berikutnya— bagaimana Pila di Rudaman setelah pulang sekolah?
“Sebenarnya kesepian, Bu. Tapi tak usah dipikirkan, di sini aku punya banyak buku,” ucap Pila. “Juga ada Tante Linda, sekali-kali kan aku bisa berkunjung ke kamarnya.”
“Boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu sering, kan Tante Linda juga punya kerjaan.”
Mendengar itu Pila teringat satu hal, “Bu, mengapa tak coba kerja seperti Tante Linda? Maksudku....”
Risa cepat-cepat menimpali, “Kan Ibu sudah bilang, Ibu bukan Tante Linda, Ibu takkan pernah bisa seperti dia. Ibu masih punya pilihan lain.”
“Maksudku, Tante Linda bisa kerja dari kamarnya, nyanyi dan goyang. Ibu bisa coba juga. Dapat uang banyak lho, Bu.”
Risa merenungi itu sejenak. “Tapi Ibu tak bisa nyanyi dan goyang, Sayang.” Persis saat Pila hendak membuka mulutnya, Risa cepat-cepat mendahuluinya, “Kalau sudah benar-benar bosan nunggu Ibu pulang, kamu bisa ke salon. Kamu bisa kerja tugas di kamar Ibu, bisa membaca. Mami Lis sering nanyain kamu tahu.”
Betapa Pila ingin blak-blakan mengapa ia enggan lagi menemuinya di salon.
Beruntung obrolan di malam itu Risa tak sampai curiga ada yang belum Pila sampaikan. Menunggu Risa pulang, memang sempat merasakan kebosanan, semakin bosan ketika suasana hatinya sedang kacau membaca buku, pun belajar membuat karangan, apalagi jika ia mengetuk-ngetuk pintu hunian Tante Linda, tetapi tak ada sahutan. Beberapa hari terakhir, ada warna lain yang terukir dalam hari-harinya, yakni kehadiran teman baru yang ia rahasiakan.
Teman baru itu tak lain adalah kakak-adik pemulung. Saling senyum dan saling lambai di antara mereka tak cukup, mereka perlu hubungan yang lebih dekat. Siang itu, kakak-adik pemulung kembali muncul di Rudaman, meneriaki Pila, “Tak mau temanan sama kami?”
Teriakan itu seperti mantra yang membuat Pila berani menyahut. “Tunggu aku!” Ringan betul kakinya melangkah keluar huniannya, tak lupa mengunci pintu, dan menuruni anak tangga demi anak tangga. Tiba di halaman depan Rudaman, ia berlari-lari kecil mengitari area samping hingga sampai di halaman belakang. Napasnya tersengal, bulir-bulir keringat mudah muncul di pelipis dan di atas bibirnya.
Berdiri di dekat mereka, Pila jadi bisa membandingkan tinggi badannya dengan tinggi badan kakak-adik pemulung itu. Si adik tingginya hanya sampai pundak Pila. Si kakak lebih tinggi dua atau tiga sentimeter dari Pila.
Pila tak ragu mengulur tangan lebih dulu ke arah mereka, pertama kepada si kakak, menyusul si adik, sembari menyebut namanya, dan nama sekolahnya, serta tentangnya yang masih duduk di kelas empat. Mereka membalas hanya menyebut nama. Si kakak bernama Kani, dan adiknya bernama Opi.
Seperti yang Pila duga sejak awal, mereka tak sekolah. Mereka buta huruf, buta mengenali lambang bilangan, tetapi bisa melisankan bilangan. Opi hanya mampu membilang dari angka 1-20. Kani jauh lebih baik, bahkan ia bisa berhitung dasar dan membilang uang.
Karena Pila hendak memastikan siapa di antara ia dan Kani lebih dulu lahir, bertanyalah soal kelahiran. Kani menggeleng tak tahu.
“Emang tanggal lahir penting ya harus diingat?” tanya Kani.
“Sangat penting!” ucap Pila.
“Kan aku tak sekolah. Apa pentingnya?”
“Sekolah tak sekolah tetap penting. Tahu tanggal kelahiran maka tahu sekarang kita umur berapa.”
“Umur sepenting itu kita tahu? Tak cukup kita hanya disebut anak-anak?”
“Anak-anak beragam usianya. Anak-anak umur enam tahun beda dengan anak-anak usia sepuluh tahun.”
“Ah, anak-anak tetap anak-anak.”
“Ya, memang. Kamu dan Opi memang anak-anak, tapi tak sama.”
“Sama. Bedanya Opi laki-laki, aku perempuan. Sehari-hari kami sama, sama-sama kerja.”
Pila kesal mendengar Kani yang rada-rada keras kepala. Karena itu kebersamaan mereka pertama kali, Pila tak ingin berdebat panjang. Ia mencoba maklum dengan kata-kata Kani sebagai anak yang tak bersekolah. Teman-temannya di sekolah pun yang setiap hari mendengar pelajaran dan petuah dari guru, namun masih ada yang berpikirnya seperti Kani terhadap suatu persoalan.
Pila diam sejenak tampak memikirkan apa lagi yang harus ia ucapkan, seolah diamnya itu dipahami Kani sehingga perlu bicara. “Aku hanya tak hapal tanggal lahir, tapi bapakku tahu, kakakku Ruhana juga tahu. Bapakku sering cerita, saat aku lahir kami masih punya rumah yang lebih besar dari gubuk kami sekarang.”
***
RUMAH yang Kani maksud itu berdiri di bantaran sungai. Sungai yang lebih besar dari aliran sungai di belakang Rudaman. Sungai itu terletak di timur kota. Ketika gubernur baru terpilih pada masa itu, seratus hari kerja setelah dilantik hendak menorehkan pencapaian-pencapaian hebat sebagi bukti bahwa ia betul-betul kerja. Salah satunya, kebijakan revitalisasi sungai. Sungai di timur kota dibersihkan dari sampah-sampah demi melancarkan aliran, bantaran sungai juga perlu dibuat lebih kondusif dengan menggusur rumah-rumah kumuh. Rumah-rumah itu tak kuasa bertahan dari amuk roda-roda besi menggilas dan mematuk.
Kani masih kecil, Opi bahkan belum lahir, Ruhana masih sering bertualang ke jalan-jalan, terutama saat sedang lampu merah, menawarkan tisu dan kerupuk kepada pengemudi mobil atau siapa pun yang lalu-lalang di sekitarnya. Tentu masa itu ibunya masih tinggal bersama mereka.
Sekuat apapun usaha mempertahankan rumah, ingin tetap tinggal di sana lebih lama dan lebih lama lagi, orang tua mereka punya kartu tanda penduduk, tetap tidak bisa menolong dari penggusuran. Sekalipun rumah itu telah dihuni bertahun-tahun lamanya, orang macam mereka mana bisa melawan klaim bahwa bantaran sungai dan sekitarnya adalah tanah milik negara.
Mereka terusir dari kawasan sungai timur kota. Mereka sempat melanglang buana di pinggiran demi pinggiran kota. Membangun gubuk di bawah jembatan. Terpaksa menjadi pengemis. Terusir bila sekelompok Polisi Pamong Praja sedang berang-berangnya pada kaum seperti mereka.
Tak lama setelah itu, ibunya hamil mengandung Opi. Tak lama setelah lahiran, masa-masa Opi masih butuh ASI, suatu bangun tidur ibu mereka tiba-tiba raib. Benar-benar raib, tanpa diketahui ke mana. Ditunggu kemunculannya, tetapi tak kembali lagi. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan kini telah berlalu bertahun-tahun, ibu mereka belum pulang. Di mana ia berada? Masihkah hidup atau sudahkah mati? Siapa yang tahu?
Akhirnya mereka punya gubuk di bantaran sungai kecil dekat tempat pembuangan akhir sampah. Menjadi pemulung tak perlu lagi mengemis di jalan-jalan, mereka bisa menguangkan setiap botol kemasan minuman dan kardus, juga kadang-kadang dari mengais sampah menemukan barang-barang berharga lantas mereka jual.
Ruhana telah tumbuh menjadi gadis belasan tahun, namun dunianya tampak lebih dewasa dari usianya, oleh ia yang mengasuh Kani dan Opi sepeninggal ibu mereka. Kini Ruhana telah punya cara sendiri mendapatkan uang tanpa harus memulung, itu banyak-banyak membantu kebutuhan mereka sehari-hari.
Bapak mereka mungkin sudah bisa merelakan kepergian ibu mereka, tetapi digusurnya rumah mereka di bantaran sungai timur kota—bertahun-tahun telah lewat dari kejadian itu—gubernur baru telah terpilih, lelaki itu tak pernah sungguh-sungguh melupakan penggusuran demi revitalisasi sungai. Ia selalu kecewa, mengingat kembali bagaimana gubernur penggusur itu ketika masih berstatus calon, tampak tak segan berbaur dengan kaum miskin pinggiran macam mereka. Menyalami tangan-tangan kotor mereka, menggendong bayi-bayi mereka yang kurang gizi dengan iming-iming jaminan kesehatan. Bersama-sama mereka turun ke gorong-gorong mengecek apa yang membikin saluran pampat. Gubernur yang masih jadi calon tampak teman rakyat, mengerti penderitaan para kaum miskin, seolah juru selamat yang akan menyejahterakan kehidupan pinggiran kota.
Itu hanya tegas di lisan calon gubernur, ketika simpati rakyat telah berhasil diraih, ia yang telanjur diagung-agungkan, ramai-ramai dipilih, hingga terpilihlah ia, tiba-tiba teman rakyat berubah menjadi musuh. Oleh kebijakan-kebijakkan yang digalakkan menggusur ruang hidup kaum pinggiran macam mereka. Kenyataan itulah yang tak bisa bapak mereka lupakan, seolah sebuah borok yang terpelihara di tubuhnya, tak lekas sembuh sekalipun anak-anaknya telah tumbuh dan bisa membantunya memulung.