SEJAK pertama kali membawa Kani dan Opi ke huniannya, Pila kembali mengulanginya pada kesempatan-kesempatan yang lain. Kecuali ketika Kani dan Opi datang dengan pakaian kotor, rambut kering kusut, pakaian bolong, mengepit lipatan karung di ketiak, itu pertanda mereka tak punya banyak waktu luang. Kebersamaan mereka singkat saja di halaman belakang Rudaman, lantas kakak-adik pemulung itu melesat pergi.
Lain jika rambut mereka basah, baju mereka agak lebih baik, wajah mereka cerah usai mandi, kedatangan mereka seperti itu selalu menggembirakan Pila. Ia antusias menjemput, membawa mereka ke hunian.
Sebelum serangkaian bermain dimulai, selalu Pila akan bertindak sebagai guru kepada Kani dan Opi. Buku-buku dibentang, pelajaran membaca dan menulis dimulai. Diselingi dengan cerita-cerita Pila membagi pengalamannya di sekolah. Berkat penjelasan itu, Kani dan Opi punya gambaran bagaimana anak sekolah di dalam kelas, bagaimana guru saat memulai pelajaran.
Pila selalu gembira ketika menyadari Kani semakin maju dalam membaca. Setelah mampu melisankan kata-kata yang terdiri dari dua sampai tiga suku kata, mulai bisa membaca kalimat-kalimat pendek: Rapunzel memilki rambut panjang berkilau bagai emas.
Seiring berulangnya kunjungan mereka, Pila mulai memberi keleluasaan Kani membaca sebuah cerita. Kani sanggup membacanya walau terbata-bata, beberapa kata sulit Kani lisankan. Misalnya menyebut wangi menjadi wan gi. Pila akan meralatnya.
Sedangkan Opi jauh lebih sulit mengerti. Pila paham, Opi masih terlalu muda untuk mengenal banyak huruf. Pila tetap bersyukur karena Opi tetap ada kemajuan sekalipun lambat. Setidaknya Opi sudah bisa membedakan angka dua dan tiga, bahkan bisa menuliskan lebih banyak angka di kertas, kendati tulisannya sangat jelek.
Setiap selesai belajar selalu akan disusul dengan bermain. Belakangan mereka memanfaatkan ujung lorong lantai empat, di kanan kiri lorong adalah hunian-hunian yang kosong, sekali-kali disewa oleh sepasang kekasih. Di lantai lorong, Pila akan menggambar kotak-kotak untuk bermain engklek.
Kalau ada yang Pila cemburui dari Kani maupun Opi, itu adalah kemampuan mereka bermain engklek jauh lebih hebat darinya. Mereka lihai memainkan gayo di punggung kaki yang berayun, dan satu kaki yang lain melompati kotak demi kotak. Begitu pun ketika menaruh gayo di punggung tangan yang berayun, dan di kepala. Sedangkan Pila sering kali gagal di kotak kedua, ketiga, atau keempat.
Jika bosan bermain engklek, mereka rehat sejenak. Mereka menyelingi dengan obrolan. Kani mengakui kalau lantai hunian Pila nyaman. Karena sepi, sehingga mereka tak terusik, pun tak merasa mengusik penghuni yang lain. Sepinya lantai empat, sangat kontras dengan keadaan di lantai satu sampai lantai tiga. Ketika mereka naik turun tangga, kuping-kuping mereka suka disambut pekak obrolan penghuni Rudaman. Pernah di satu kunjungan, Kani dan Opi takut sekali, begitu masuk Rudaman hendak mendekati tangga, ia disambut dengan ribut-ribu penghuni Rudaman.
“Itu sudah biasa,” ucap Pila saat Kani menceritakan keributan itu. Oleh itu Pila balik menceritakan keributan paling parah di Rudaman sejak ia menjalani kehidupan baru, tak lain insiden di sebuah pagi saat berangkat sekolah, dua orang pemuda baku pukul berujung penikaman. “Sepatuku kena darah,” tutur Pila. “Tapi, tak usah takut datang, aku di lantai empat. Aman di sini.”
Ada suatu hari usai belajar, mereka lanjut bermain di lorong belakang lantai empat. Saaat sedang asyik bermain, dari kejauhan Tante Linda memperhatikan mereka. Tante Linda baru keluar dari huniannya membawa kantong plastik berisi sampah. Tante Linda sempat tak acuh, ia menuruni tangga untuk membuang sampah di halaman depan. Sekembalinya, alih-alih gegas menenggelamkan diri di hunian, Tante Linda malah mendekati mereka.
Tante Linda menyasar Pila pertanyaan tentang Kani dan Opi, seolah Tante Linda ingin tahu siapa mereka. Pila agak gagap awalnya, tetapi ia tetap memberanikan diri menjawab, menyebut Kani adalah teman sekolahnya, dan Opi masih duduk di kelas satu. Ia sengaja tak mau berterus terang soal mereka, kekhawatirannya masih sama ketika ia enggan terbuka pada ibunya soal Kani dan Opi tak lain pemulung yang tinggal di gubuk bantaran sungai sana.
Pila lega karena bisa mengelabui Tante Linda. Tetapi, saat sendirinya menunggu Risa pulang, Pila jadi berpikir berlebihan. Bagaimana kalau Tante Linda memberi tahu ibunya kunjungan Kani dan Opi? Bagaimana kalau ibunya lebih banyak tanya? Ia membayangkan hal buruk akan terjadi jika ibunya tahu siapa sebenarnya Kani dan Opi.
Beruntung hari-hari terus berlalu, masih aman-aman saja. Nyata kekhawatiran Pila terlalu berlebihan. Pila lega. Namun, tidak berlangsung lama terjadi sebuah insiden yang tak pernah Pila sangka-sangka.
***
SEMULA Pila kira itu adalah hari yang sungguh-sungguh baik untuk bermain. Di ujung lorong lantai empat telah menjelma tempat bermain yang menyenangkan, tanpa terusik dan tak merasa mengusik. Permainan pada hari itu adalah petak umpet.
Mereka sembunyi di area yang dekat-dekat. Namun, Opi tiba-tiba sembunyi jauh-jauh, sempat menjangkau tangga seakan hendak turun ke lantai tiga. Opi berubah pikiran, ingin bersembunyi di hunian Pila, tangannya sudah menjangkau knop. Lagi-lagi Opi berubah pikiran. Di ujung lorong, Pila menghadap mukanya ke tembok, hitungannya sudah sampai 19, sayup-sayup suara itu terdengar oleh Opi. Jika hitungan sudah sampai di angka 25, itu artinya Pila akan membebaskan mukanya dari tembok, mulai mencari-cari Opi dan Kani. Sebelum hitungan itu usai, Opi harus cepat-cepat mencari tempat bersembunyi.
Ia sempat mendorong pintu di samping hunian Pila, namun terkunci. Kemudian langkahnya menyilang ke pintu samping hunian Tante Linda, salah satu hunian yang tak berpenghuni. Opi memutar knop, ada suara klikkk, pintu seketika terbuka. Hitungan Pila di sana sudah sampai 24, Opi tak punya pilihan lain selain membawa dirinya memasuki ruangan itu.
Mudah saja bagi Pila menemukan tempat persembunyian Kani. Akan tetapi, mencari Opi sangat sulit. Berlalu beberapa menit, bahkan Kani ikut bantu mencari, Opi tetap tak ketemu. Pila dan Kani kesal, mereka menyerah, permainan jadi kehilangan keseruan. Mereka duduk menunggu Opi muncul sendiri. Pila jadi curiga, Opi turun dari lantai empat—keluar dari Rudaman.
Ditepis oleh Kani, “Opi tak begitu.”
“Lalu di mana sembunyi?”
“Tunggu. Nanti muncul.”
Apa yang Kani ucapkan benar saja, Opi tiba-tiba muncul, berjalan mengarah ke mereka. Ia datang dengan wajah yang tampak serius, pertanda ada sesuatu yang harus ia laporkan.
“Kamu curang, Pi, sembunyimu jauh,” semprot Pila.
“Kita tak usah main kalau mainmu begitu,” tambah Kani tak kalah kesal.
Opi tak menghiraukan itu. Napas Opi memburu saat menyampaikan penemuannya; melihat perempuan aneh bertopeng, tetapi telanjang. Kani dan Pila sempat berpandangan. Dahi Pila mengernyit, aneh mendengar laporan Opi.
Pila dan Kani kompak meragukan Opi. Kani bahkan menyebut-nyebut hantu, tetapi meragukan Opi bisa melihat hantu. Pun Pila menampik, walau lantai empat banyak kamar kosong, tetapi tak ada hantu.
“Siapa bilang hantu? Aku tak bisa lihat hantu,” tutur Opi.
“Kalau bukan hantu, lalu siapa, Pi?” tanya Pila.
Opi merasa tak perlu banyak bicara lagi. “Sini kalau mau lihat!” Opi mulai berjalan, sempat menengok ke belakang memastikan Pila dan Kani membuntutinya. Semakin dekat ke ruangan itu semakin pelan mereka melangkah. Sampai-sampai Opi berbalik ke mereka dengan telunjuk di bibir.