PILA tak masuk sekolah selama beberapa hari. Suhu tubuhnya panas. Saat tidur sering mengigau ketakutan, seolah-olah ada hantu yang mengejarnya, bulir-bulir keringat secepat itu mencuat dari pori-porinya. Sebagai ibu, Risa berusaha melakukan yang terbaik demi kesembuhan Pila. Namun, ia merasa usahanya itu belum maksimal. Hanya sebatas mengadukan sakit Pila kepada petugas di apotek terdekat. Beberapa jenis obat diresepkan berdasarkan keluhan dan panas tubuh Pila. Selain rutin membantu Pila minum obat, Risa juga mengompres kening Pila. Melembapi tubuh Pila dengan gosokan kain basah, mulai dari lengan hingga punggung.
Menyaksikan Pila tak berdaya di tengah sakitnya, betapa Risa kasihan, rasa bersalah menyelimuti jiwanya. Ia menyesali tindakannya di malam itu. Baru setelah Pila jatuh sakit, Risa menganggap dirinya impulsif, begitu mudah melampiaskan segala marahnya.
***
APA yang sempat Pila khawatirkan di malam itu terjadilah. Begitu Risa tiba di Rudaman, setelah menyelesaikan dakian tangga terakhirnya dengan napas agak memburu, pandangannya langsung menangkap Tante Linda berdiri di pintu huniannya dengan bahu bersandar ke kosen. Tante Linda memakai gaun tidur merah dengan renda-renda hitam di tepiannya, bagian dada agak terbuka. Tante Linda masyuk menikmati rokoknya, asap berembus dari mulutnya, lalu diisap melalui hidung, dikeluarkan lagi.
Tante Linda memandang kosong ke hunian Risa yang sangat hening, pintu tertutup rapat. Pandangan Tante Linda baru teralihkan setelah menyadari decit sepatu Risa menggesek lantai.
Risa yang belum tahu apa-apa menyapa dengan ramah. Ia yang punya masalah di salon, seakan pandai betul menyembunyikan itu. Tante Linda enggan basa-basi berlarut-larut. Ia tak main-main dengan apa yang telanjur ia tegaskan pada Pila.
Di mulut Tante Linda, Pila bukan lagi anak-anak yang lugu dan polos, yang suka mengajukan pertanyaan apa yang membuatnya bingung. Pila telah menjelma anak yang berusaha menjadi pembohong yang merahasiakan pertemanannya dengan kakak-adik pemulung. Sedikit banyak Pila telah terpengaruh oleh hubungan itu makanya ia nekat mengintip. Begitulah Tante Linda memulai.
Lebih detail aduan itu, seterang-terangnya menjelaskan aksi intip Pila bersama kakak-adik pemulung: ketika Tante Linda sedang berhubungan badan dengan kliennya.
“Tak mungkin Pila seperti itu,” Risa menampik. “Kamu bercanda, Lin, kamu mengada-ada, kan?”
“Mengapa Pila tak mungkin melakukannya? Bukankah sehari-hari bergaul dengan gembel-gembel itu? Pila jelas-jelas telah terpengaruh. Kalau tidak, mana berani mengintipku.”
Karena Risa berusaha terus menampik seakan Tante Linda sedang menyulut fitnah, Tante Linda semakin berbusa-busa mulutnya memberikan penjelasan. Rokok di jarinya masih ada setengah, tak terpikirkan lagi untuk mendorong ke mulutnya, jarinya seakan berasap oleh rokok yang terus membakar diri, puncaknya Tante Linda menarik tangan Risa, membawanya ke ruangan itu.
Ruangan itu gelap, kemudian terang oleh cahaya ponsel dari tangan Risa. Pemandangan pertama yang Risa saksikan adalah telapak sandal yang mengukir di permukaan lantai penuh debu. Ada banyak sekali jejak sandal, sebagian telah memudar. Mereka berhenti di tembok letak lubang itu. Tante Linda perlu berjongkok untuk melepas kayu penutup lubang. Menempelkan matanya ke permukaan lubang dengan dua lutut bertumpu ke lantai, sedikit agak menungging.
“Semuanya jelas sekali dari sini. Sial, nyaris dua tahun aku jadi penghuni Rudaman, tak menyadari lubang sialan ini,” keluh Tante Linda setelah menarik matanya.
Giliran Risa membawa pandangannya ke dalam lubang. Sebuah lubang yang benar-benar pas untuk menyaksikan apa yang terjadi di kamar Tante Linda. “Masih kecil mereka, mana bisa buat lubang begini?” Risa masih berusaha meragukan laporan Tante Linda.
“Siapa yang bilang mereka membuat lubang? Mereka menemukannya, Ris. Seliar itu pergaulan mereka sampai berani menerobos ruangan yang tak harus mereka masuki.”
Risa mulai kehilangan kata-kata. Itulah kesempatan Tante Linda untuk terus memukul. “Bisa jadi lubang ini sejak dulu ada, mungkin sebelum aku di sini. Oh, mengapa aku tak menyadarinya?”
“Pila telah melihatku, Ris,” masih Tante Linda. “Dua kali mereka ngintip, tahu bagaimana sebenarnya yang kumaksud bergoyang dan menyanyi. Masih anak-anak mereka, telah menyaksikan semuanya.”
Ucapan Tante Linda yang lebih panjang menjadi pemantik yang membesarkan api Risa. Kesal, marah, dan kecewa telah menjadi satu. Sesampainya di hunian, ia mendapati Pila baring di kasur. Risa tahu betul Pila belum lelap. Anak itu hanya berpura-pura, jelas dari pejam matanya bergerak-gerak.
Insiden di salon dan semua aduan Tante Linda telah menjadi gumpalan emosi yang mesti segera Risa ledakkan. Ia meraih kemoceng tergantung di belakang pintu kamar. Dengan kemoceng itulah setiap ayunannya menghantam Pila, mulai dari bagian kaki hingga pantat. Demi menambah sakit itu, kemoceng di balik, bagian gagang mendarat keras ke tubuh Pila.
“Ampun, Bu! Ampun! Aku takkan ulangi lagi,” Pila sempat berucap begitu, mencoba menahan sakit pukulan.
“Pila akan jadi anak baik, Bu, Pila janji.”
Tubuhnya telah menjadi samsak. Kata-katanya tak diindahkan. Pila hanya bisa menjerit dan menangis. Sakit tak hanya terjadi pada fisiknya, tetapi jauh dalam lubuk hatinya oleh luapan kata-kata Risa. Seolah Pila telah dipandang anak yang buruk laku dan sangat nakal.
Bahkan Risa melempar kemoceng ke arah Pila. Gagang kemoceng sempat menghantam kepalanya. Semakin berderailah air mata itu. Marah-marah Risa lebih merah, lebih berapi dari kemarahan Tante Linda sebelumnya. Pila sesengguk, hanya bisa memeluk lututnya yang tertekuk. Air matanya seakan mata air yang tak berhenti mengalir. Malah kian deras saja oleh kata-kata Risa seperti peluru menerjang jauh ke dalam hatinya.
“Seharusnya kamu tak usah lahir saja, seharusnya sejak awal aku tak punya anak darinya. Mau jadi kayak bapakmu, hah? Belum juga kamu besar sudah nakal.”
Bagaimana Pila punya keberanian menimpali omongan Risa. Tak ada suara lagi kecuali tangisnya. Berusaha bagaimanapun ia meredamnya, suara itu tetap tak bisa ia tahan. Pila benar-benar merasa kamarnya di malam itu telah menjadi neraka. Ibunya adalah malaikat penyiksa.
Ia baru beranjak dari kasur ketika Risa mendesaknya ke kamar mandi. Di sana ia mencuci muka, matanya begitu sembab. Bagaimana ia harus ke sekolah besok dengan mata seperti itu?
Ia belum makan, kekacauan sejak kepergok mengintip telah membunuh nafsu makannya. Begitu keluar dari kamar mandi, mengganti bajunya dengan piama, ia kembali ke kasur menutup tubuhnya dengan selimut. Sesaat masih terdengar sisa-sisa tangisnya, hening kemudian setelah Risa memintanya berhenti menangis, bahkan Risa memurahkan lisannya mengancam akan menggantungnya. Kata-kata itulah yang kian menambah air matanya, menggenangi bantal.
***
MATAHARI pagi telah menyambut, menerangi kamar melalui setiap celah. Jendela yang terbuka tak hanya membawa cahaya itu, tetapi juga angin yang mengembuskan bau sampah dari seberang sungai kecil sana.
Pila tetap bergeming di kasur. Awalnya Risa tak acuh, seakan membiarkan Pila bangun sendiri. Pila tak kunjung bangun, padahal matahari semakin cerah saja, sudah jam tujuh. Biasanya waktu begitu, Pila telah selesai berseragam bersiap untuk ke sekolah. Tampak begitu sulit membuka matanya, maupun mengubah posisinya.
Risa yang menyediakan sarapan mulai cemas, ia pun menghampiri Pila. Sisa-sisa kecewa dan marah masih tampak, awalnya mengguncang guling yang Pila peluk. Memintanya segera bangun. Pila tak mengindahkan itu. Risa mendaratkan punggung tangannya ke kening Pila. Kulit Risa seperti tersengat panas.
Belum sempat Risa berkata apa-apa, tanpa membuka mata, Pila berkata lirih. “Aku sakit, Bu. Tak bisa sekolah.” Saat itulah Risa mengusap wajah Pila, mengusap anak-anak rambut Pila beracakan di pipi. Risa tak bisa cepat berkata-kata, tetapi bagaimana ia memandang Pila, bagaimana matanya yang hendak berlinang, jelas ada sesal yang ia rasakan.
Kembali ia memikirkan amarahnya. Ia merenung; jauh telah membawa Pila pada kehidupan baru, mengapa ia terlalu berlebihan merespons aduan Tante Linda? Mengapa ia sangat mudah menampakkan wujudnya seolah-olah monster?
“Maafkan Ibu, ya, Sayang!” ucap Risa mengecup Pila. Pila membuka mata, dengan jemari sibuk menyingkirkan belek.
“Pila juga minta maaf, Bu, telah jadi anak nakal. Aku mengecewakan Ibu,” suara Pila tampak serak. Jatuh air mata Risa mendengarnya.
Hari itu Pila tak masuk sekolah, Risa tak berangkat kerja. Hari kedua, Pila semakin demam dan mulai mengigau, Risa semakin cemas dan terus diliputi perasaan bersalah. Tante Linda yang datang berkunjung juga sedih melihat Pila, ada penyesalan ia rasakan. Kalau saja responsnya tak berlebihan begitu, tetapi di sisi lain ia sulit menyingkirkan kekesalannya bila teringat lagi bagaimana Pila dan kakak-adik pemulung itu mengintipnya.
Pila menyadari Tante Linda berusaha ramah padanya, tangan wanita itu ringan memberikan usapan pada wajah Pila, rambut, dan memurahkan lisan menuturkan harapan-harapan baik akan kondisinya. Pila bisa saja bergembira dengan sikap yang Tante Linda tunjukkan, tetapi ia hanya diam di tempat tidur. Tante Linda ada, seolah tak ada di sisinya. Pila tampak sulit menerima semua yang terjadi padanya; kehidupan barunya berderai tangis, merasakan amuk ibunya oleh Tante Linda yang memantiknya.
“Masih marah sama Tante, Sayang?” tanya Tante Linda.
Pila menggeleng, namun matanya sulit membalas tatapan Tante Linda.
Selama Pila sakit, selama itu pula Risa tak masuk kerja. Pada hari ketiga sakit, Tante Linda sempat menawarkan diri untuk menjaga Pila, biarlah Risa berangkat kerja. Risa sesungguhnya senang dengan tawaran itu, ia tetap tak rela meninggalkan Pila yang selalu butuh sosok ibu di sisinya.
Padahal ada alasan lain sehingga Risa begitu sulit kembali ke salon, mengapa kakinya berat melangkah ke sana. Ia masih gamang, butuh waktu untuk blak-blakan semua apa yang ia rasakan dan apa yang ia alami.
***