SEJAK Pila tahu Risa tak lagi kerja di Salon Mami Lis, awalnya Pila masih agak kecewa dengan keputusan itu. Risa terus menenangkannya dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, berharap ucapannya adalah payung yang meneduhkan Pila.
“Ibu akan dapat kerja yang lebih baik.”
“Kenapa Ibu tak kembali saja ke sana? Mami Lis kan baik. Bencong tapi baik. Ibu selalu bilang begitu.”
“Jadi kamu mau Ibu kembali ke sana, supaya Ibu terus disentuh tangan-tangan nakal pelanggan? Dulu Pila suka protes itu, kan?”
“Ibu bilang, tak masalah asal tak kelewatan.”
Risa selalu berat menceritakan apa adanya pada Pila. Obrolan bernada seperti itu terus terulang. Selalu berakhir ketika Pila ingin tahu apa di balik keputusan Risa sehingga berhenti kerja. Kegamangan Risa turut ia sampaikan pada Tante Linda. Suatu hari ia menyeberang ke hunian itu.
“Sampaikan saja apa adanya ke Pila, Ris,” tutur Tante Linda. “Dia berhak tahu juga.”
Risa mendengarkan itu baik-baik. Ketika tiba waktunya Pila kembali menagih alasan. Risa akhirnya berani melepaskan beban itu. Bagaimana ia sangat risi dengan sentuhan pelanggan pria, semakin risi oleh sentuhan itu yang ingin lebih nakal, terang-terangan melecehkan Risa; menyatakan kesukaannya pada tubuh Risa, ada hasrat membuncah harus diledakkan. Informasi-informasi demikian bagi Risa memang terlalu berat untuk Pila, di sisi lain sudah saatnya menerangkan semua itu dalam kepala Pila. Puncaknya, Risa perlu membeberkan ketika ia hendak digagahi pacar Mami Lis.
“Kamu mau Ibu diperkosa, Sayang? Senang jika Ibu menderita? Berhentilah meminta Ibu kembali ke sana. Dunia di sana semakin beracun, terus di sana pelan-pelan Ibu akan mati.”
Pila syok dengan keterusterangan Risa. Sama sekali tak menyangka ada insiden seperti itu. Di balik wajah Risa yang sering memekarkan senyum, ada penderitaan batin yang hebat. Pila pelan-pelan mulai memahami itu.
“Mami Lis tak peduli apa yang sebenarnya Ibu rasakan. Yang dipedulikan hanya uang. Seakan apapun Ibu harus lakukan demi menarik pelanggan. Dia akan gembira sekali jika Ibu harus telanjang di hadapan setiap pelanggan pria.” Risa memberi jeda sejenak menatap kedua mata Pila dalam-dalam. “Kamu mau punya Ibu begitu? Kamu mau Ibu terus-terusan menjadi sapi perah Mami Lis?”
Pila menggeleng lantas melabuhkan peluknya. “Ibu jangan ke sana lagi, ya!” ucap Pila.
“Tentu, Sayang, demi harga diri Ibu, demi nasib kita ke depan.”
Pila mengangkat pandangan ke wajah ibunya, “Kalau Ibu tak kerja lagi apakah Pila akan putus sekolah? Apa kita tak bisa lagi jalan-jalan, beli buku, dan makan enak?”
Risa memaksa tersenyum. “Tak ada Ibu yang akan menyerah pada kesulitan. Semua Ibu di dunia ini akan berusaha bagaimanapun caranya untuk memberikan yang terbaik pada anaknya.”
“Ada, Bu. Ada Ibu yang tegaan,” timpal Pila. “Ada ibu yang menyerah dan meninggalkan anak-anaknya.” Masih Pila, “Ibu Kani dan Opi, Bu. Ibu mereka pergi dan tak kembali lagi.”
“Siapa Kani dan Opi?”
“Kakak-adik pemulung itu, Bu, teman Pila. Aku tahu cerita keluarganya, aku tahu bagaimana ketika rumah mereka digusur. Kalau kehidupan baru kita ini susah, hidup mereka lebih susah.”
“Siapa bilang kehidupan kita susah? Ibu malah merasa semakin jadi manusia daripada di kehidupan lama.” Sebelum Pila menimpali, Risa cepat-cepat melanjutkan, “Semua ini hanya sementara. Ibu akan segera menemukan pekerjaan yang lebih baik dari kemarin. Selalu percaya sama Ibu.”
Pila percaya, tetapi tak berhenti cemas. Ketika pulang sekolah mendapati Risa masih di hunian, Pila bingung. Di kepalanya yang lugu, ketika orang dewasa butuh sebuah pekerjaan, maka orang dewasa itu tak akan sering-sering di rumah, orang dewasa akan sibuk di luar, menyambangi banyak tempat yang disinyalir bisa menawarkannya pekerjaan. Menurut Pila, Risa harus kembali menyambangi banyak tempat-tempat usaha, alih-alih hanya di rumah.
“Sekarang Ibu berpikir bekerja dari Rudaman saja, Sayang. Jadi nanti Ibu tak perlu jauh-jauh dan berjam-jam lamanya ninggalin kamu.”
Risa berharap ucapannya itu adalah kabar gembira bagi Pila. Namun, wajah Pila tampak kian bingung, malah terlihat cemas. Pila tentu ingin bicara menimpali Risa, tetapi suaranya tertahan. Ia menjadi ragu-ragu jika menuturkan apa yang ada di dalam kepalanya.
“Tak senang jika Ibu kerja dari Rudaman ini?” tanya Risa.
“Senang kok, Bu. Sangat senang malah.” Itu kebohongan Pila yang tak Risa sadari.
Sejak tahu Risa punya rencana bekerja dari Rudaman, satu pertanyaan besar di kepala Pila, pekerjaan macam apa itu?
***
SUATU malam ketika Risa sibuk menyiapkan hidangan di meja, alih-alih Pila ikut membantu, malah asyik berdiri di depan jendela, seakan sedang menikmati angin malam berembus pelan menampar wajahnya. Aroma busuk sampah yang abadi tercium dari jendela bukan hal yang mengusik lagi, seakan kalah bau ikan goreng menguar tajam.
Ia sempat menoleh ke dapur, Risa yang berdaster kembang bunga mengucir rambut belum merampungkan hidangan. Kembali kedua mata Pila terbentang keluar jendela, jauh di bukit-bukit sampah sana. Kemudian lama pandangannya ke gubuk-gubuk yang diterangi lampu berdiri seadanya di bantaran sungai.