Pilu Pila

Magia
Chapter #7

Karangan-karangan Pila

ADANYA Salon Risa & Linda di Rudaman, Pila berpikir itu adalah babak baru dalam kehidupan mereka. Menyenangkan bagi Pila karena tak lagi berjarak dengan Risa. Pulang sekolah selalu mudah menemukan Risa, kebersamaan mereka tak lagi singkat oleh pekerjaan. Pila sempat menduga Tante Linda tak akan menggeluti dunia lamanya, pintu huniannya tertutup untuk tamu-tamu pria, pun tak akan lagi mendapat jemputan dari pria bermobil. Begitu hitungan sederhana Pila, karena salon itu sudah berjalan semua akan sibuk dengan pengunjung yang setiap hari datang.

Perkiraan Pila nyata keliru. Di awal-awal saja ia menyaksikan Tante Linda berusaha membantu semampunya, walau hanya duduk di meja kasir. Kendati Tante Linda telah menyaksikan Risa bekerja pada rambut-rambut klien, ada pula hari bagi Risa menggemblengnya, tidak semudah itu Tante Linda mengerti. Jika ada dua pelanggan datang di waktu yang sama, Tante Linda tetap tak punya keberanian menyentuh rambut salah satu dari mereka. Ia mengecilkan dirinya, selalu merasa tak berhak mengerjakan seperti yang Risa lakukan.

Salon itu mendapat sambutan baik bagi penghuni Rudaman. Awalnya pelanggan yang datang hanya coba-coba, seterusnya malah senang dengan hasil sentuhan Risa. Untuk urusan rambut tak perlu lagi jauh-jauh ke luar Rudaman—ke tempat-tempat pencukuran rambut, semua bisa dipenuhi di lantai empat Rudaman.

Tante Linda dan Pila telah menyaksikannya sendiri, betapa andalnya Risa melakukan pekerjaan itu, tampak begitu berpengalaman. Belum lagi sikapnya yang ramah senantiasa ditunjukkan kepada siapa pun pelanggan, tua atau muda, pria atu wanita, terlebih-lebih anak-anak. Seperti ketika masih di Salon Mami Lis, Risa selalu komunikatif dan memberikan sentuhan yang terbaik, siapa pun yang datang selalu pulang dengan kepuasan. Salon Risa & Linda menjelma tempat untuk mengubah tampilan rambut lebih segar, entah oleh potongan, perubahan warna, atau perubahan bentuk.

Pekan-pekan selanjutnya pelanggan semakin meningkat. Bukan hanya sebatas penghuni Rudaman, tetapi juga orang-orang dari luar. Eksistensi salon itu seperti air yang terus mengalir, terus tersebar dari mulut ke mulut.

Pila yang paling bergembira dengan kemajuan itu. Semakin senang lantaran ia tak melihat apa yang pernah ia saksikan di Salon Mami Lis. Semua pelanggan pria sekarang, sekalipun punya tato di lengan, tahu betul menempatkan tangan.

Satu sosok yang berjasa besar bagi usaha itu ialah Tante Linda. Sekalipun Tante Linda tak sesibuk Risa, tanpanya salon itu tak mungkin ada di Rudaman. Pila tahu peran Tante Linda di balik berdirinya salon, tahu tabungannya dikuras demi semua itu, demi Risa punya penghasilan lagi, berpangkal pada sekolah Pila yang tetap berlanjut, serta kebutuhan harian mereka terpenuhi.

Di sisi lain Pila tetap ada kecewa pada Tante Linda. Adanya salon itu tak lantas membuat Tante Linda benar-benar meninggalkan dunianya. Ia tak bisa lebih lama di salon, tiba-tiba akan kembali ke huniannya menanti tamu. Kadang pula Tante Linda keluar dari Rudaman dengan riasan yang anggun, menghampiri pria bermobil di jalan depan Rudaman. Pila menyaksikan itu dari atas balkon. Selalu saat ia melihat Tante Linda dekat dengan pria, apa yang pernah ia saksikan melalui lubang itu terbayang dengan sendirinya.

Suatu malam dalam pelukan Risa di kasur, Pila yang telah memejam tiba-tiba menyalakan matanya. “Apa penghasilan Ibu sekarang cukup?”

Risa tersenyum dengan pertanyaan itu. “Lebih dari cukup, Sayang. Pila lihat sendiri, Ibu makin sibuk. Usaha kita semakin dikenal orang-orang sekitar sini. Semoga seperti itu selalu.”

Pila berpikir sejenak, antara ragu dan ingin sekali menuturkan apa yang ada di kepalanya. Pada akhirnya meletupkan kata-kata itu. “Menurutku tak benar-benar cukup, Bu.”

“Kenapa berpikir begitu?”

“Karena Tante Linda tetap melakukan pekerjaannya.” Masih Pila semakin berani. “Kenapa Tante Linda masih mau begitu, Bu? Dia tak punya anak, sama kayak kita sulit pulang ke keluarga besar. Kalau Ibu cukup dengan bagi hasil itu, Tante Linda mestinya juga cukup.”

Risa mendengus mendengar ucapan Pila. Sudah teramat sering mendengar putrinya menuturkan sesuatu yang baginya anomali dipikirkan oleh anak-anak sebagaimana Pila. “Ada yang sulit kita pahami di balik keputusan seseorang terhadap sesuatu. Kita tak cukup memahami karena kita memandangnya dari satu arah.” Bagi Pila, Risa tetaplah Risa dengan jawaban-jawaban khas seperti itu.

Di malam yang lain, Pila menuturkan pertanyaan baru. “Mengapa aku belum bisa kembali berteman dengan Kani dan Opi? Apa pertemanan antara anak sekolah dan anak yang tak sekolah itu sulit terjadi?”

“Berteman dengan anak yang baik kamu akan ikut jadi baik. Punya teman buruk, kamu juga akan buruk.”

“Tapi Kani dan Opi teman baik, Bu.”

“Benar mereka teman baik?”

“Menurutku baik.”

“Mengintip Tante Linda baik?”

Pila sempat bisu. Cepat ia menemukan kata-kata untuk menimpali. “Itu buruk, tapi hanya sekali kami melakukan keburukan.”

“Dua kali kalian ngintip.”

“Mengintip hanya satu keburukan pertemanan kami, Bu.”

“Makanya kamu tak boleh berteman, karena sudah ada satu keburukan, bisa semakin banyak keburukan nantinya.”

“Bagaimana dengan kebaikan-kebaikan yang kami lakukan?”

“Apa kebaikan yang kalian lakukan?”

“Kami belajar bersama. Mereka tak bersekolah, aku berusaha mengajar mereka.”

“Kamu juga masih perlu belajar.”

“Tak salah, kan, Bu aku membagi apa yang telah kutahu.”

Bisa semakin panjang obrolan itu jika Risa terus mencoba menimpali, Pila tampak tak mau mengalah sehingga Risa memberi instruksi untuk tidur.

*** 

OBROLAN di kasur menjelang lelap kerap berulang di malam-malam berikutnya. Kendati Pila lebih dulu tidur, bisa tiba-tiba terbangun ketika Risa sudah menarik selimut di sisinya. Pila akan menuturkan hal-hal apa saja yang mengeram seharian di kepalanya.

Mula-mula ia akan menceritakan pelajaran mengarang di sekolahnya yang tak sempat ia bagi kepada Risa saat pulang sekolah, lantaran kesibukan di salon. Pila menulis karangan yang diberi judul Salon Rambut Ibu. Kurang lebih memuat bagaimana kegembiraan Pila dengan adanya usaha baru itu. Di dalam cerita itu, selain menggambarkan tentang Risa, juga menyebut-nyebut Tante Linda. Tetapi, Tante Linda dalam karangannya adalah Tante Linda yang saleha dengan pakaian yang tertutup dan berkerudung.

“Kenapa kamu harus mengarang Tante Linda seperti itu?” tanya Risa.

“Tak mungkin aku menceritakan apa adanya tentang Tante Linda, Bu. Lagi pula itu hanya karangan.”

Pila melanjutkan—hasil karangannya dipuji wali kelas. Pila senang dengan apresiasi itu, tetapi ia sedikit kecewa, karena karangannya hanya terbaik kedua. Padahal ia ingin karangannya yang paling baik di antara teman-temannya. Temannya yang berhasil meraih karangan terbaik pertama menulis tentang pengalaman liburan ke kampung nenek. Menggambarkan sosok nenek yang sudah tua, kulit keriput, berkacamata, dan berambut putih. Namun, nenek itu masih kuat, merawat tanaman di pekarangan rumah. Temannya itu bisa menjelaskan tentang budidaya tabulampot dalam karangannya karena pengajaran yang didapatkan dari nenek sebagai sosok yang mencintai tanaman.

“Kalau saja aku juga kenal Nenek dan Kakek, Bu, tak hanya tahu mereka dari foto yang Ibu simpan, pasti aku bisa mengarang lebih baik dari temanku itu,” ucap Pila.

Masih Pila, “Apa sekarang Kakek dan Nenek rambutnya juga putih? Apa mereka juga berkacamata?”

Lihat selengkapnya