SABTU, ketika Pila pulang sekolah, memunculkan batang hidungnya di salon, ia disambut Risa dan Tante Linda bersahutan memberi sebuah kabar. Hari Minggu mereka akan melakukan tamasya: keliling kota, mengunjungi ragam tempat-tempat hiburan, termasuk menjajal permainan di mal yang sejak awal Pila ingin coba, juga akan berburu kuliner kesukaan Pila atau yang belum pernah Pila coba seumur hidup.
“Siapkan dirimu, La,” tutur Tante Linda. “Pokoknya besok akan jadi hari melelahkan, tapi tentu menyenangkan. Nah, setelah pulang tamasya wajib buat karangan.”
Saking senangnya, Pila meluapkan kegembiraan itu dengan selebrasi—menari-nari dan memeluk tubuh dua perempuan itu sembari mengucapkan terima kasih. Malamnya Pila bawel kepada Risa, mengacak-acak isi lemari, mencari-cari pakaian terbaiknya yang akan ia gunakan saat tamasya. “Bagaimana dengan ini, Bu?” membentang sebuah baju berlengan panjang.
“Kamu tak merasa sesak? Ibu lihat itu agak kekecilan, sudah lama tak Pila pakai. Pilih yang lain saja!”
Pila sibuk pilah-pilih pakaian sampai menemukan pakaian yang pas dan disepakati ibunya. Pila melucuti piamanya untuk mencoba baju dan celana itu. “Nah, pas sekali itu, La.” Wajah Pila berseri-seri, berkacak pinggang di depan lemari.
Ketika mereka hendak tidur, masing-masing memberi peluk di kasur, Pila tetap pada kebiasaannya. Seakan ia tak bisa tidur jika tak ada obrolan barang semenit dua menit. “Ibu dapat pemasukan banyak ya sehingga kita tamasya?”
“Dibilang banyak tidak juga, tapi ada,” ucap Risa. “Ibu dan Tante memang sudah sepakat jauh-jauh hari, sekali-kali kita perlu melakukan tamasya. Masa kerja terus. Masa duniamu hanya antara sekolah dan Rudaman, melulu seperti itu. Dunia ini luas, saatnya berpetualang, bukan?”
Penjelasan yang Pila sukai, peluknya semakin erat. Wajahnya menempel di dada Risa menghirup semua wangi di sana.
***
AKHIRNYA Minggu pun tiba, Pila bangun pagi-pagi sekali. Pila mengatur perasaannya di depan jendela. Langit masih kabur, matahari di timur malu-malu memercikkan sinarnya. Sepagi itu di bantaran sungai kecil sana sudah ramai pemulung, ada Kani dan Opi pula mengais-ngais tumpukan sampah yang baru diantar truk.
Menunggu Risa bangun, Pila merenungi satu hal, apakah ada tamasya dalam kehidupan Kani dan Opi? Apakah Kani dan Opi pernah mencoba wahana permainan di mal, pernah mengunjungi kebun binatang, mencicipi aneka makanan enak? Setelah tak berteman lagi, Pila semakin memiliki banyak pertanyaan untuk mereka. Ia selalu menyayangkan tak ada tanda-tanda pertemanan itu akan segera tersambung kembali.
Pila baru menyingkir dari jendela saat menyadari ibunya telah bangun. Matanya yang setengah memicing meraba-raba jam di dinding. Lantas terburu-buru menjepit rambutnya, segera ke kamar mandi. Setelah itu bersama Pila mempersiapkan sarapan.
Tiba waktunya mandi, Risa lebih dulu mengambil giliran, setelah itu Pila. Saking senang yang Pila rasakan ia bernyanyi-nyanyi saat sedang mandi. Nyanyiannya sampai terdengar oleh Risa yang duduk di depan meja rias, kepalanya masih tertutup handuk kecil, dan tubuhnya berbalut handuk putih. Tiba-tiba terdengar ketukan di luar. Satu sosok yang terpikirkan Risa adalah Tante Linda.
Risa menatap jam dinding, belum pukul sembilan sebagaimana waktu kesepakatan untuk berangkat. Begitu membuka pintu, terhenyaklah ia dengan sosok yang berdiri di hadapannya. Risa nyaris menjerit, merasa tak pantas menemui tamu itu dengan hanya berhanduk. Ia tak mungkin lari, kecuali menarik sedikit daun pintu, agar tubuhnya terhalang dari pandangan itu.
Sosok itu tak lain adalah lelaki misterius yang menjadi objek karangan Pila. Sosok lelaki penghuni baru lantai empat Rudaman, memiliki rambut ikal panjang, serta jenggot yang pendek dan kumis tipis di atas bibirnya.
Sejak kehadirannya di Rudaman belum sekalipun mereka saling membuka mulut walau hunian mereka bersampingan. Jika pintu hunian Risa hadap-hadapan dengan hunian Tante Linda, hunian lelaki itu berhadapan langsung dengan salon. Kendati tak menyukai karangan Pila tentang lelaki itu, tetapi Risa tak menampik kalau memang sosok itu misterius.
Risa sama penasarannya dengan Pila, hanya saja ia tak sampai punya kecurigaan berlebihan, baginya kehadiran lelaki itu di Rudaman kurang lebih sama dengan alasannya, sama dengan alasan lebih banyak penghuni Rudaman: selalu ada kehidupan lama yang mengecewakan, tak memuaskan, dan sulit merasakan kebahagiaan. Kehidupan lama pun ditinggalkan, lantas kehidupan baru dijemput dengan segudang harapan-harapan baik. Barangkali lelaki itu pun menjadikan Rudaman sebagai tempat paling pas untuk memulai kehidupan baru. Demikianlah Risa memandang kehadiran lelaki itu.
Risa tentu saja berharap ada saling sapa di antara mereka, sayangnya sosok itu nyata ada di lantai empat seakan tak ada oleh sikap dingin dan tertutup. Ketika salon sedang sepi, Risa suka duduk di kursi tunggu pelanggan dekat pintu masuk, semata-mata hendak melihat lelaki itu. Sayangnya berkali-kali mengambil posisi seperti itu, tak sekalipun ia mendapati pintu hunian lelaki itu terbuka, pun tak terdengar ada aktivitas di dalam walau hanya sayup-sayup suara kaki kursi menggesek lantai, atau suara gelas aluminium jatuh menubruk lantai.
Lelaki itu sebenarnya siapa dan bagaimana dunianya? Risa tak bisa membendung pertanyaan itu di jelaga pikirannya. Pernah suatu malam ketika Risa turun ke lantai satu membeli sesuatu di warung, di tangga menuju lantai tiga, ia berpasasan dengan lelaki itu, tergesa-gesa menaiki tangga demi tangga. Suara sepatunya mengentak tangga seperti irama yang kacau di telinga Risa. Bahkan Risa berhenti memepetkan bahunya ke dinding hanya untuk memberi jalan yang luas bagi lelaki itu.
Begitu dingin lelaki itu, mata mereka hanya beradu beberapa detik saja, persis Risa mulai melebarkan garis bibir, lelaki itu cepat berpaling. Ada dua sampai tiga kali kesempatan lagi berpapasan, pun ketika Risa menjemur pakaian di balkon, lelaki itu ada di sana asyik merokok, duduk di kursi plastik menyilang kaki, pandangannya banyak-banyak tercurah ke jalan depan Rudaman, wajahnya hanya sesaat menoleh ke Risa, hanya memastikan siapa sosok di dekatnya itu, tak ada lagi ulangan pandangan sampai Risa mangkir dari balkon.
Kesan seperti itu ternyata juga dirasakan oleh Tante Linda. Di salon suka mengeluhkan lelaki itu yang baginya seperti bisu, menduga-duga kalau lelaki itu punya kelainan jiwa. Tante Linda sampai-sampai berpikiran lelaki itu psikopat. Punya rencana jahat yang terselubung. Tegas pada Risa untuk waspada.
Sialnya Risa sering-sering terpikirkan dugaan-dugaan itu—terpikirkan karangan Pila, bagaimana kalau lelaki itu seorang mata-mata untuk menyelidiki kehidupan mereka, bukankah ayah Pila punya kuasa mempekerjakan orang seperti itu? Ujung-ujungnya ia menampik kecurigaan itu, tetapi tetap saja ia perlu membisikkan dirinya untuk waspada. Tidak ada orang yang tiba-tiba saja mau menghuni Rudaman, pasti ada latar belakang di belakangnya, entah itu motif ekonomi maupun sosial.
Bagaimana Risa tak terkejut, lelaki itu tiba-tiba mengetuk pintunya. Mata Risa liar pada kedua tangan lelaki itu, ia lega tak melihat senjata, semakin lega karena tak menemukan indikasi yang mencurigakan, justru ia menangkap wajah lelaki itu tampak salah tingkah oleh penampilan Risa. Semakin canggung ketika Risa membebaskan pintu itu terbuka lebar-lebar. Kedua mata lelaki itu tiba-tiba jatuh ke lantai.
“Salonmu buka hari ini?” suara itu terdengar serak. Ujung kalimatnya ia sengaja membuat batuk pelan, seolah ada dahak yang tersangkut di tenggorokannya.
“Hari ini kami tak buka.”
Ia mengangguk-angguk, tampak semakin canggung betul. Ia hendak beranjak pergi, tetapi Risa menahan dengan suara. “Ada yang perlu dibantu?”
Lelaki itu hanya menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya di dekat rambutnya. Risa membaca isyarat itu sebagai isyarat gunting. “Besok saja, bagaimana?”
Lelaki itu mengangguk lagi dan berucap terima kasih, kemudian melesat pergi. Risa mengernyitkan dahi lalu tersenyum sebelum kembali menutup pintu. Aneh, betul-betul aneh, ia melirihkan itu kembali ke meja rias.
Pila yang baru keluar dari kamar mandi, rambut dan tubuhnya basah menitisi lantai sepanjang langkahnya. “Tante Linda sudah siap, Bu?”
Risa baru terpikirkan itu. Entah kenapa Tante Linda tak lagi memberi kabar. Seharusnya ia sudah muncul di hunian mereka, paling tidak memastikan rencana tamasya akan benar-benar dilakukan. Walau begitu, Risa tak begitu cemas, ia menduga Tante Linda pun sedang siap-siap, mungkin sedang mandi. Risa mulai merias wajahnya tipis-tipis, memakai pakaiannya. Pila pun melakukan hal yang sama, masih menampakkan riang gembiranya dengan kembali bernyanyi.
Kurang sepuluh menit sebelum pukul sembilan, Risa dan Pila sudah siap. Huniannya menguar aroma parfum. Risa dengan parfum khasnya, Japanese Cherry Blossom, sedangkan Pila wangi stroberi sebagaimana yang sering ia semprotkan ke seragam sekolahnya. Tante Linda belum juga ada kabar, itulah yang membuat Risa menjadi cemas. Apalagi Pila berulang kali menanyakannya.
“Seharusnya Tante Linda sudah muncul, Bu.”
Oleh itulah Risa mengetuk-ngetuk hunian Tante Linda. Pintu terus diketuk berkali-kali, menyebut-nyebut nama Tante Linda, tak ada sahutan sama sekali. Artinya Tante Linda belum pulang ke huniannya. Risa jadi menyesalkan, sore sebelumnya mengapa Tante Linda menerima ajakan dari kliennya. Datang dengan mobil kuning, berhenti di jalan depan Rudaman. Sebelum menghampiri lelaki itu, Tante Linda masih sempat ke salon menemui Risa. Memastikan kepadanya tamasya akan tetap jadi sesuai kesepakatan.