Pilu Pila

Magia
Chapter #9

Kertas Kecil untuk Risa

PILA masih merasakan kecewa kendati hari-hari baru tiba. Ia masa bodoh pada kabar Tante Linda. Sementara Risa tak bisa seperti itu, dua hari pertama pasca berlalunya Minggu itu, Risa harap-harap cemas lantaran Tante Linda tak ada kabar. Pikiran-pikiran buruk bergentayangan di kepalanya. Ia gelisah, tetapi mencoba menyamarkan kegelisahannya itu dari Pila. Semakin buruk saja isi kepalanya saat mengontak Tante Linda, nomor itu di luar jangkauan. Berkali-kali Risa melakukannya, pagi, siang, hingga malam, selalu tak membuahkan hasil.

Tiba di suatu malam saat Pila telah nyenyak dalam peluknya, awalnya Risa mengatur anak rambut putrinya itu yang beracakan di pipi, tak lama berselang oleh insomnia datang pikirannya banyak-banyak tertuju pada Tante Linda. Berusaha bagaimanapun ia memejamkan mata, lelap itu tak kunjung ia alami, sedangkan Pila begitu pulas dengan dengkur halusnya.

Risa bangun, menjepit rambutnya, menenggak air putih di meja sisi ranjang. Lantas ia meraih ponselnya, duduk di depan meja belajar Pila. Ia mengecek notifikasi. Beberapa komentar mengesalkan ia temukan pada foto yang ia unggah sejak sore. Sudah terlalu sering ia mendapatkan godaan begitu. Ada lelaki blak-blakan menyatakan kesukaan pada wajah Risa, menyematkan istilah tobrut pada dadanya, padahal ia menganggap dadanya sedang-sedang saja, dan pesonanya tak sensual. Risa tak menanggapi setiap komentar yang berbau pelecehan itu. Pun ia abai pada pesan-pesan liar yang masuk: ajakan ngamar, ajakan melakukan panggilan video, hingga ia mendapat kiriman foto kelamin yang sedang ereksi.

Oleh semua itu Risa sampai merenunginya, mengapa banyak lelaki sejauh itu padanya? Padahal ia tak berlebihan dalam bermedsos, sekali dua kali saja membuat postingan menampilkan foto wajah, lebih sering ia mengabarkan suasana salonnya, baik sepi maupun sedang ramai pelanggan. Jika bukan itu maka berbagi potret yang diberi musik, mulai dari potret jendela terbuka, daun pintu, sudut ruangan, hingga rak buku Pila. Ekspresinya yang sebatas begitu di medsos mengapa ia terlalu mudah dilecehkan?

Tentu saja di antara banyak kesempatannya bersama Tante Linda, fenomena lelaki semacam itu sering menjadi bahan obrolan mereka, terutama saat mereka berdua di salon sebelum Pila pulang sekolah, menunggu kedatangan pelanggan. Risa mengeluhkan godaan para lelaki di medsos, Tante Linda tak heran dengan itu. “Kamu saja kena, apalagi aku. Padahal aku tak pernah promosiin diri secara langsung di medsos. Hanya nampilin gambar sedikit seksi, orang-orang langsung nanya harga, ajak ini itu, sampai mengobral kelamin. Senakal-nakalnya seorang perempuan belum tentu senang dikirimi foto kontol.”

“Anggap angin lalu saja,” masih Tante Linda. “Tak usah diladeni, semakin kamu ladeni semakin liar itu. Atau langsung blokir.”

“Padahal foto-fotoku tak sensual. Apa aku harus berjilbab supaya terhindar dari itu?”

“Belum tentu, justru laki-laki sangean seperti itu bisa tetap berfantasi sekalipun pakaian kita tertutup, sekalipun hanya nampilin mata.”

Risa yang masih di depan meja belajar Pila mengecek cerita-cerita keakuriaan teman-temannya di medsos: ada yang berbagi foto keluarga, seakan keluarga cemara paling bahagia di dunia, ada yang membagi pencapaian baru, ada yang memamer gaji, hingga tetek bengek curahan asmara. Jempolnya terus bermain di layar, berlalu satu cerita menuju cerita baru, sampai ia tiba di postingan terbaru Tante Linda. Sedang di keramaian diskotek, musik berdentum seakan menguarkan magis yang membuat orang kompak berjoget dan berdansa. Jemarinya tak bisa diam untuk tidak mengomentar cerita Tante Linda.

Hei! Kenapa tak ada kabar? Kami cemas tahu. Apa kamu baik-baik saja?

Kurang dari dua menit, Risa mendapat balasan. Di sini seru dan menyenangkan. Aku bersama orang baik, jadi jangan cemas. Bagaimana tamasyanya kemarin?

Syukurlah kalau begitu. Balasan Risa. Tamasya tak begitu seru, Pila kecewa karena kamu tak bisa gabung.

Kita atur kembali akhir pekan. Mungkin aku sudah di situ.

Harus sudah di sini!

Terhubungnya percakapan itu kembali walau melalui teks telah melelehkan beku kekhawatiran Risa. Ia mematikan ponselnya, berharap segera mendapatkan lelapnya. Belum lurus betul punggunya di kasur, ia teringat sesuatu. Saking pikirannya kacau oleh Tante Linda tak memberi kabar, sampai-sampai lupa mengangkut jemuran di balkon. Bisa-bisanya Pila juga melupakan itu. Padahal biasanya Pila akan mengingatkan, atau berinisiatif mengangkutnya sebelum malam tiba.

Risa tak peduli lagi pada gaun tidur terusan merah tanpa lengan yang ia kenakan, tak terpikirkan lagi kembali menjepit sehimpun rambutnya yang sepundak itu, saking tergesa-gesanya ia membuka pintu. Lebih tergesa-gesa lagi menuju balkon, melintasi beberapa pintu hunian.

Rupanya ada sosok lelaki sedang duduk di kursi plastik dekat stan jemuran. Sosok itu asyik merokok dengan wajah menghadap jalan. Suara langkah kaki Risa yang mengarah padanya membuatnya bersiaga. Persis ketika Risa hendak menjerit, sosok itu menaruh telunjak di bibir. Isyarat kepada Risa untuk tidak berteriak kencang.

Walau sosok itu sedang mengenakan jaket hitam dengan kepala ditutupi kupluk di tengah remang, hanya ada percikan sinar lampu dari lorong menuju balkon dan lampu jalan dari tiang listrik depan Rudaman, wajah itu tetap Risa kenali, tak lain adalah Dahri.

“Kamu bikin kaget,” ucap Risa dengan nada kesal. “Aku kira penjahat.” Risa perlu menyilangkan dua tangannnya untuk menyamarkan dadanya. Ia tak memakai apa-apa lagi selain gaun tidur itu. Beruntung segera menyambar kardigan dari penjemuran, tergesa-gesa memakainya. Baru setelah itu ia lebih nyaman menghadapkan tubuhnya pada Dahri.

“Aku ingin mengetuk hunianmu tadi. Kamu lupa mengangkut jemuran, mau mengabarkan itu,” ucap Dahri yang mudah paham maksud kedatangan Risa ke balkon.

“Kenapa tak melakukannya?”

“Ini sudah jauh malam. Ketukanku bisa saja tak berkenan bagimu, belum lagi kamu juga punya putri. Temanmu itu belum pulang, siapa yang bisa kamu curigai mengetuk pintumu? Tak mungkin penghuni lain. Bisa saja kamu berpikir penjahat.”

“Aku akan berpikir itu adalah kamu. Sudah kamu lakukan kemarin, Minggu pagi itu.”

“Ya, tapi bisa saja kamu berpikir aku adalah penjahat.”

Risa meletupkan tawanya. “Aku tak pernah ada pikiran seperti itu.” Pengakuan yang sedikit bohong, sejak membaca karangan Pila tentang Dahri yang dicap lelaki misterius, dan mendengar kecurigaan Tante Linda, Risa agak terpengaruh dengan itu. Sempat ia memikirkan bagaimana kalau Dahri adalah penjahat punya maksud terselubung di Rudaman. Dugaan itu gugur dengan sendirinya sejak Minggu pagi itu.

“Kamu tahu aku minggat dari rumah, juga ada orang-orang yang mengawasi gerak-gerikku, aku memendekkan rambut karena berusaha menyamarkan diri. Kamu tak berpikir aku benar-benar penjahat?”

“Sama sekali tidak. Itu tak cukup.”

“Padahal aku sudah mengakuinya.”

“Itu bukan pengakuan langsung.”

“Aku sering di sini pada malam hari, apa kamu pikir aku hanya melamun?”

“Bisa jadi memang begitu. Melamun sambil merokok. Ada masa pelik di masa lalumu.”

“Aku suka di sini, memantau kemungkinan yang mencurigakan di sekitar. Siapa tahu musuh-musuhku sudah berhasil melacak persembunyianku.”

Lihat selengkapnya