KARANGAN terbaru Pila di buku hijau muda berjudul Lelaki yang Baik Hati. Sebuah karangan yang seakan meralat Lelaki Misterius di Rudaman. Risa telah membacanya, dan sangat menyukainya, Pila senang sekali. Tentu saja Risa tahu siapa sosok yang menjadi inspirasi Pila.
“Nah, berbaik sangka ke orang, kan baik, karanganmu juga pasti baik. Kamu semakin hebat, Sayang. Ibu suka ini, sangat suka,” tutur Risa.
Pandangan awalnya terkait Dahri yang jahat telah runtuh. Semuanya berawal saat Pila mengisi hari-harinya di Rudaman dengan membaca buku. Ia punya beberapa stok baru yang harus ia tuntaskan. Di meja makan usai sarapan, ia sempat-sempatnya membaca dua sampai tiga halaman. Di sekolah saat jam istirahat, ia hanya perlu jajan sejenak, kembali ke bangkunya, kemudian asyik membaca, tak terusik kebisingan di sekitarnya. Pulang dari sekolah pun, seakan tak ada hal yang berarti ia lakukan selain melanjutkan bacaannya.
Satu buku tamat, ia membuka buku baru, selanjutnya buku baru lagi. Di salon saat menemui Risa, ia tak jauh-jauh dari buku. Beberapa kali ia protes pada Risa yang mematikan lampu kamar lebih cepat, Pila tetap ingin lampu dinyalakan, minta waktu beberapa menit lagi. “Lagi seru-serunya, Bu. Plis!”
“Bisa lanjut besok.”
“Plis, Bu!”
Risa tentu mengalah.
Di depan jendela menjadi satu tempat favoritnya membaca. Tak peduli jika harus berdiri, kakinya sampai pegal-pegal. Bau busuk bukan penghalang lagi, kalah oleh aroma kertas yang menguar dari lembaran-lembaran halaman. Membaca di depan jendela, ia sejenak berhenti tatkala menyaksikan Kani dan Opi bekejar-kejaran di seberang sungai kecil sana, tawa mereka sayup-sayup terdengar.
Pila turut senang dengan kebahagiaan yang ia saksikan itu. Raut wajahnya akan berubah seketika tatkala kembali menyayangkan berakhirnya tautan kelingking mereka. Pila selalu berandai-andai: kalau saja mereka masih berteman, ia akan dengan senang hati memperlihatkan buku-buku barunya. Bila perlu meminta Risa membelikan buku khusus untuk Kani dan Opi. Sayangnya mereka semakin berjarak saja.
Pila tak yakin setiap berdiri di depan jendela Kani dan Opi tak melihatnya. Pila bisa melihat mereka, tentu sebaliknya juga begitu, demikian pikirnya. Tetapi, tak sekalipun Pila merasa diperhatikan mereka. Pila tak mengharapkan lambaian tangan dari jauh, cukup Kani dan Opi mengarahkan pandangan padanya walau satu menit. Itu menjadi hal yang mustahil terjadi. Pila sampai curiga, jangan-jangan Kani dan Opi membencinya, saking bencinya tak mau lagi memperhatikannya.
Asyiknya membaca buku di jendela selalu terusik oleh pikirannya sendiri. Kalau sudah begitu, ia akan pindah ke titik lain. Tempat favorit berikutnya adalah balkon. Di sana ada kursi plastik, ia duduk khidmat membaca, tanpa terpikirkan lagi Kani dan Opi. Dari balkon ia tak melihat kakak-adik itu, kecuali lalu lalang kendaraan di jalan. Ada sepeda motor memasuki halaman Rudaman, ada penghuni berjalan keluar masuk pekarangan, mobil pikap milik tukang antar galong mendekati teras Rudaman.
Kesibukan seperti itu sama sekali tak mengusik keasyikannya membaca. Bukan berarti di balkon tak luput dari gangguan. Pila kesal, ia sedang larut dalam keseruan cerita tiba-tiba mendengar langkah kaki mendekat. Pila mudah hilang fokus, apalagi jika sosok itu sudah berdiri di balkon, tak begitu jauh darinya. Saat itu Pila belum tahu nama lelaki itu Dahri. Asap rokok yang berembus dari mulut dan hidung Dahri suka bergerak ke arah Pila. Pila akan mengipas-ngipaskan tangannya, mengusir asap-asap itu. Pila tak suka bau rokok, ia batuk-batuk. Tetapi, ia tak mungkin protes walau dalam hatinya kesal. Semakin kesal ketika Dahri yang diketahuinya selama ini cuek, misterius, tiba-tiba berlagak menjadi ramah. Sok tahu tentang buku yang sedang Pila baca.
“Nanti, Nana tokoh dalam cerita itu akan melakukan petualangan ajaib sampai ke Kutub Utara, bahkan berpetualangan sampai ke awan, ke hutan yang sakit dan hutan yang sehat, berkat Jota yang menemaninya dalam petualangan ajaib itu, Nana akhirnya tersadar betapa bumi ini sedang tak baik-baik saja oleh krisis iklim,” papar Dahri. Bagi Pila, lelaki di sampingnya itu berlagak guru yang mencoba menerangkan sesuatu.
Selama ini tak sekali pun saat sedang asyik membaca tiba-tiba mendapat intervensi dari Risa, yang mencoba bawel membocorkan jalan cerita, sekalipun Risa tahu isi cerita tersebut. Jelas Pila tak suka usaha seperti itu, terlepas baik buruk maksud Dahri. Mengapa pula Dahri tiba-tiba menyinggung jalan cerita buku itu? Apa maksudnya? Padahal selama ini di antara mereka belum sekalipun saling membuka mulut. Pila tak pernah memperkenalkan namanya, demikian sebaliknya. Kendati ada kesempatan mereka berpapasan di lorong lantai empat, di tangga, dan di halaman depan, hingga Pila menyaksikannya tergabung dalam iring-iringan pedemo.
Pila agak menyesal, mestinya ketika mulai terserang asap rokok segera angkat kaki dari balkon. Ia tak mengerti dengan dirinya di sore itu, tetap mencoba melanjutkan bacaan, seakan ia memberi ruang pada Dahri untuk terus bicara. Cara memantik obrolan yang paling kacau bagi Pila. Bagaimana bisa tiba-tiba menyinggung jalan cerita dari buku Petualangan Ajaib Nana & Jota hanya mengamati lembaran-lembaran awal buku yang Pila baca.
Di tengah Pila yang diam, Dahri melanjutkan, “Penulis buku itu masih belum dikenal luas oleh banyak pembaca,” ucapnya seakan tak peduli pada mata Pila yang menghindarinya. “Tapi buku-bukunya sejauh ini sarat akan tema lingkungan. Buku-buku seperti itu penting selalu ada di tengah situasi seperti sekarang. Sastra selalu bisa jadi medium yang tepat untuk menyuarakan sentilan-sentilan pada penguasa, termasuk sastra anak, bahwa terkadang banyak kebijakan-kebijakan penguasa yang berdampak buruk pada lingkungan. Hutan yang terus dibabat demi tambang dan perkebunan, laut yang ditimbun demi pembangunan objek wisata. Negara untung oleh usaha-usaha seperti itu, tapi ruang hidup flora dan fauna terusik, ruang hidup masyarakat adat terampas. Keuntungan yang didapatkan negara apakah betul-betul tersalur sampai ke rakyat banyak? Belum tentu, selalu ada permainan bisnis di balik praktik-praktik seperti itu.”
Masih Dahri, “Ini masih rumit untuk kamu pikirkan oleh duniamu seperti sekarang, tapi seiring waktu kamu akan paham. Semakin kamu mudah paham karena sejak dini kamu sudah berani mengendus buku-buku semacam itu.” Setelah itu Dahri menjulur satu tangannya, “Namaku Dahri. Namamu Pila, kan?”
Pila tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bagaimana bisa namanya diketahui oleh lelaki misterius itu. Tetapi, ia tetap menjulur tangan kecilnya, hingga tangan besar Dahri bertautan dengannya. Pila ingin tahu darimana Dahri tahu namanya? Apakah dari ibunya? Mulutnya tiba-tiba kelu, menuturkan pertanyaan sederhana pun tampak sangat sulit.
Ia semakin canggung ketika Dahri malah diam. Pila menunggunya bicara, mewanti-wanti akan berusaha memberikan tanggapan. Alih-alih menghadirkan obrolan baru, menoleh ke arah Pila pun Dahri jadi enggan, pandangannya ke jalan, seakan sedang memperhatikan sesuatu, satu tangannya membimbing sebatang rokok yang keluar masuk mulutnya.
Ia terpikirkan panjang lebar Dahri yang baru saja berlalu. Pila menangkap istilah yang sudah sangat akrab di pikirannya, yakni kuasa, kekuasaan, dan penguasa. Pila tentu paham siapa penguasa yang Dahri maksud, tak lain adalah pemerintah. Memikirkan pemerintah, sosok yang terlintas di kepala Pila adalah presiden dan orang-orang di sekitarnya.
Pila memang mengesalkan cara Dahri membuka obrolan, tetapi apa yang disinggung Dahri selanjutnya menarik baginya. Bahkan ia ingin mendengar lebih banyak. Selalu ada pertanyaan-pertanyaan bergerak dalam kepalanya seperti geliat ulat tersengat panas matahari. Ia malu-malu jika harus mengungkapkannya. Ia menunggu satu dua menit lagi, berharap Dahri kembali bicara, sayangnya Dahri masyuk dengan rokoknya.
Pila kesal oleh Dahri yang tiba-tiba kumat cuek bebeknya, di sisi lain juga kesal dengan ketakberaniannya membuka mulut. Akhirnya tak ada lagi obrolan itu sampai Pila mangkir dengan langkah yang terburu-buru.
Di salon, ia menunggu Risa sedang mengerjakan rambut pelanggan pria. Seorang laki-laki paruh baya, tak lain pengelola Rudaman. Rambutnya yang mulai memutih, tumbuh tak keruan menutupi separuh telinganya. Seketika rambut itu menjadi rapi oleh sentuhan Risa. Kumisnya pun yang putih dengan ujung kemuning, ikut Risa rapikan. Setelah urusan itu beres, Pila bantu-bantu Risa merapikan salon. Pila menyapu lantai. Di tengah-tengah itulah Pila mengeluhkan tentang Dahri yang tahu namanya.
“Aku tak pernah bicara sama dia, ketemu pun tak pernah saling senyum. Bagaimana bisa tahu namaku.” Padahal Pila punya satu kecurigaan: Risa dan Dahri kelihatannya saja saling asing, bisa saja mereka sering mengobrol. Begitulah ia menduga. Maksud keluhan Pila itu ada pertanyaan tersirat, apakah Ibu yang memberi tahu namaku? Dan, Risa pun seolah bisa membaca pertanyaan yang tak Pila katakan itu.
“Jangan sekali-kali kamu pikir Ibulah yang melakukannya,” ucap Risa. “Pernah kamu lihat Ibu mengobrol dengannya?”
Pila menggeleng.
Risa melanjutkan, “Tapi tak usah dikesalkan. Bagus juga kalau dia tahu namamu. Siapa tahu dia tak mau jadi misterius lagi.”
“Ada kesan begitu, Bu. Tadi dia menyinggung buku yang kubaca itu,” Pila menunjuk bukunya di kursi pelanggan dengan gerak bibir. “Seperti saja dia ingin akrab. Tapi tiba-tiba dia cuek kembali. Mengesalkan, kan, Bu orang seperti itu?”
Risa meletupkan tawa.
Bukan hanya karena pertemuan di balkon itu sampai Pila terpikirkan untuk mengarang Lelaki yang Baik Hati, ada kejadian lanjutan yang mengejutkannya. Bukan lagi sore di balkon, melainkan pagi saat Pila sedang berangkat ke sekolah. Persis saat Pila hendak menyeberang jalan, ada panggilan dari arah belakang, menyebut-nyebut namanya. Pila membalik badan, tampaklah Dahri berlari-lari kecil ke arahnya.
Napasnya memburu saat berdiri di hadapan Pila, hanya memakai singlet putih dan celana selutut motif polkadot, kedua kakinya beralaskan sandal jepit. Matanya sedikit membengkak, tampak baru bangun dari tidur. Perhatian Pila langsung tertuju pada tangan Dahri, di sana ada tiga buah buku.