TENTANG ini luput dari pengetahuan Pila, sedangkan Risa terhenyak ketika pertama kali mendengarnya: bagaimana kemuakan Dahri pada lidahnya, lidah yang ia sebut sebagai lidah warisan. Tak menyangka Dahri punya kehidupan seperti itu.
Tahulah Risa, di awal-awal Dahri minggat dari rumah, saat masih di kota lain menghuni kamar sewaan dan bekerja di sebuah toko buku, sebelum menyadari lidah barunya, pernah berkali-kali berpikir untuk memotong lidahnya, tetapi selalu ia menyingkirkan godaan itu—setelah menganggapnya konyol dan naif. Lagi pula apa artinya hidup jika sudah tak punya lidah. Ia sukar membayangkan hal-hal baik. Di sisi lain, ia benar-benar amat benci lidahnya.
Sepi dan sendirinya di kamar saat meluruskan punggung di ranjang, sering kali pejam matanya sukar menggiringnya pada lelap. Ia seolah paranoia. Geliat lidah pada langit-langit mulut, menabrak gigi dan lapisan dalam pipi seolah bisa melahirkan suara-suara yang menusuk kupingnya.
Bayang-bayang perdebatannya dengan keluarga mengusik. Bagaimana suara-suara mereka yang keberatan olehnya mengesampingkan keampuhan lidah warisan itu, nyata pekak di kesunyiannya, menggiring pikirannya semakin liar dan jauh. Lidah yang lentur mesti diikuti dengan punggung yang suka membungkuk, kepala yang mudah tunduk hingga telinga yang mesti tajam mendengar. Niscaya ia akan tumbuh sebagai anak yang disenangi dan kelak akan semakin wangi masa depannya. Petuah-petuah itulah yang sering diulang-ulang ibu bapaknya di masa kecil.
Ia tak terbiasa menuturkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain, apalagi sampai berani mendebat, bahkan ia terlalu mudah memuji sampai orang-orang yang ia puji bahagia. Telinganya pun sering kali menjadi tempat menampung segala keluh dan kesah atau kabar-kabar sukacita dari orang-orang sekitar.
Demi menyenangkan banyak orang, ia tak peduli lagi pada gema di sanubarinya— apakah ia sejatinya senang melakukan itu? Ia selalu ragu-ragu, tetapi tetap berusaha menampik.
Sejauh mana ia bisa abai pada gema itu? Seiring banyak pengalaman melenturkan lidah, menajamkan telinga, membungkukkan punggung, menundukkan kepala, sampai bapak dan ibunya bangga dengan sikapnya. Ia yang telah berusia dua puluh lima tahun waktu itu, menjadi kesal mendengar nasihat perihal lidah warisan.
Akhirnya ia mencoba meniadakan lagi segalah nasihat itu, seolah terempas dari memori ingatannya. Pemberontakan pertama, ia berani mendebat atasannya—saat itu belum minggat dari rumah dan belum bekerja di toko buku. Ia tak bisa lagi hanya diam saat dipersalahkan, seakan sosok paling pasrah.
Bagaimana bisa atasannya tak terkejut oleh sikapnya itu. Rekan-rekan kerjanya pun heran. Semakin berani ia menantang, tak takut dipecat bila perlawanannya terhadap atasan dianggap suatu bentuk pembangkangan.
Lidah yang ia miliki seolah melenceng dari kebiasaan, satu sifat lidah itu dalam keluarganya yang tampak abadi sebagai penjilat, telah ia tinggalkan sejak kegaduhan di kantor, penanda episode mesra-mesranya dengan atasan dan segenap rekan kerja berakhir.
Ia merasa belenggu yang menjerat dirinya berhasil ia singkirkan. Tak peduli raut wajah heran, kesal, dan marah, saat ia menceritakan kegaduhan yang ia buat kepada keluarga.
“Kami tak menempamu menjadi manusia sembrono seperti itu,” ucap bapaknya sehabis menggebrak meja makan, nyaris hidangan kacau padahal acara makan belum lagi usai. Sebuah gelas tak seimbang di atas meja oleh getaran gebrakan, sejenak menggelinding, tak sempat lagi tangan terdekat menjangkau, jatuhlah ke lantai. Pecahlah berkeping-keping.
“Mau jadi apa jika petuah kami kamu abaikan, hah?” air liur si bapak terciprat oleh aksentuasinya.
Tak cukup jika hanya si bapak yang vokal, si ibu pun ambil bagian dengan nada suara kesal, mengungkapkan kekecewaannya, mengungkit bagaimana keluarga di masa lalu, hidupnya enak dan nyaman karena pandai menempatkan lidah.
“Kalau kakekmu mencoba membangkang sepertimu, dia bisa saja dipenjara rezim. Nyatanya, baik dia membawa lidah. Jangan kira tanah, kebun, dan lahan yang diwariskan bukan karena kepandaian menempatkan lidah.”
Sekali ia menimpali bapak dan ibunya, berani ia mengungkapkan lelahnya menjalani hidup oleh patokan-patokan mereka: bahwa ia sudah tak bahagia.
“Tak semua anak mau jadi penjilat,” ucapnya menantang.
Tambah gaduhlah meja makan, tambah tajamlah kata-kata ibu dan bapaknya, bahkan kakak dan adiknya juga ambil kesempatan bicara. Malam itu seolah ada banyak anak panah menghunjamnya.
Pada kesempatan lain, ia kembali melebur di tengah-tengah keluarga, mengobrol tentang seorang politisi. Semua lidah mudah memuji sepak terjang politisi yang tampil dalam talkshow di televisi, ia menjadi beda sendiri.
“Tak lama lagi menteri itu akan dijebloskan ke penjara. Dia korup,” katanya tanpa menimbang-nimbang lagi apakah ucapannya itu disenangi orang-orang di sekitarnya. Peduli apa jika dibenci.
Benar saja, mata semua orang—ibu, bapak, dan saudara-saudaranya seperti tajam mata pisau. Kata-katanya bagai bensin yang dilemparkan ke dalam nyala api. Ia dituding semakin malang karena lidahnya semakin lancang.
Semakin menggeliatlah amarah di sekitarnya ketika ia bertambah berani, “Persetan lidah warisan, lidah penjilat pantat feodal.”
Satu tamparan keras dari ibunya dengan mata membesar. Keributan malam itulah semakin membuatnya yakin untuk segera minggat, sebagai satu upaya memutus lidah warisan itu. Begitulah sikapnya yang tegas ia tempuh, tak peduli pada banyak suara di sekitarnya. Sayangnya ia tak sungguh-sungguh plong kendati tinggal seorang diri di kamar sewaan, bekerja di sebuah toko buku.
Sampai suatu waktu ia yang berdiri di depan cermin sepulang dari toko, ia menjulurkan lidahnya, seolah hendak mengamati segala sisi lidah itu dalam cermin, lantas ia tersenyum setelah semakin tersadari satu hal.
Ia yang telah keluar dari garis yang dibuat keluarga dengan minggat dari rumah, menolak hidup di ujung telunjuk, bukankah satu tanda bahwa lidahnya telah jadi lidah baru. Lantas mengapa ia terus dipusingkan lidah warisan itu sampai-sampai terpikirkan untuk memotongnya?
Baru sekali itu ia senang betul sejak minggatnya. “Inilah lidahku,” kembali menjulurkan lidah itu, menggerak-gerakkannya seolah sedang menjangkau sisa-sisa gurih makanan di sekitaran bibir. “Lidahku adalah lidah yang baru.”
Setelah itu, hari-harinya ringan betul unjuk eksistensi lidah barunya. Ia semakin menelanjangi lidah barunya pada orang-orang yang terhubung dengannya di toko, sekali waktu kepada sesama penghuni kamar di gedung huniannya.
Tak cukup hanya dengan itu, lidah baru mesti gencar ia perlihatkan di medsos, peduli apa respons banyak orang padanya. Ia terus menelanjangi lidahnya, vokal pada apa yang perlu ia suarakan.
Lidah barunya menjadi lidah penentang. Lidah yang buas melawan lidah-lidah yang menjilat penguasa. Petualangan lidah barunya semakin liar dari hari ke hari. Lidah itu tegas menjadi teman para papa: melawan banyak bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. Lidah itu musuh banyak lidah yang menormalisasi skandal-skandal busuk.
Ia yang dulu tampak apolitis cenderung menerima segala keputusan rezim, rada-rada benci pada segala kritikan menyasar penguasa, tak suka demo tuntutan ini itu yang sering digencarkan pemuda-pemuda seusianya, dengan lidah baru ia tak bisa seperti itu lagi. Ia telah menemukan pilihan-pilihannya, ia merambah sebuah jalan yang beda dari apa yang digariskan keluarga. Di banyak aksi di jalan-jalan, lidah baru itu ada di sana dengan suara lantang pada segala macam bentuk culas. Seakan ia tak peduli jika terus dimusuhi. Seolah tak peduli ancaman yang mengintai oleh keberanian lidahnya.
Petualangannya sampai jauh ke desa-desa, ke tepi hutan, ke kampung-kampung pesisir, tergabung ke dalam kelompok orang-orang sepertinya. Ia melawan banyak dominasi kekuasaan, wajah-wajah kekuasaan yang tak peduli pada tangis rakyat yang tergerus ruang hidupnya oleh ekspansi gurita bisnis korporasi; menambang pasir di muara, mendegradasi hutan demi perkebunan, menggusur rumah-rumah masyarakat di sebuah kampung. Tanah yang telah dihuni masyarakat itu selama puluhan tahun lamanya, hanya karena tak memiliki surat-surat atas tanah itu negara berhak mengklaimnya, lalu memberikan perizinan pada swasta untuk tambang maupun proyek wisata. Masyarakat setempat tak berdaya lagi melihat rumah-rumah mereka digusur, tanah-tanah mereka dirampas.
Ketika masih melekat lidah warisan dalam mulutnya, menyaksikan berita semacam itu, ia selalu tak peduli, karena bukan keluarganya yang ada dalam lingkaran itu. Setelah lidahnya ia sebut-sebut sebagai lidah baru pandangannya pada banyak hal telah berubah, menyaksikan jerit pilu masyarakat atas ruang hidupnya diusik, luka-luka itu turut ia rasakan. Oleh sebab, ia tergabung dalam kelompok sipil yang berdiri untuk rakyat, melawan kesewenang-wenangan kuasa. Mereka seperti api yang menyala di tengah putus harapan masyarakat, geliat api yang menjadi kobaran semangat untuk melawan upaya perampasan ruang hidup. Pecahlah aksi demi aksi, dibalas dengan tindakan repsesif aparat. Selalu ada korban jiwa ketika bentrokan seperti itu terjadi.
Ada waktu mereka berhasil melawan kesewenang-wenangan, tanah masyarakat bisa dipertahankan dengan gigih. Gurita bisnis milik korporasi seakan putus tentakel-tentakelnya oleh aksi penolakan. Di lain tempat pada waktu yang beda, aksi serupa memang berhasil mereka kobarkan, namun tak bisa melawan kesewenang-wenangan yang kian berhasrat untuk menggerus berkat pemerintah menjadi tamengnya.
Jelas ia dan kelompoknya telah menjadi batu sandungan setiap langkah-langkah maruk kapitalisme. Mudah saja kelompoknya dituding sebagai provokator, perusuh, dan sematan-sematan senada lainnya. Beberapa rekannya ditangkap, dan beberapa diburu. Mulai saat itu, ia merasa sudah tak benar-benar aman lagi. Di satu sisi ia agak takut, di sisi lain ia tersadar itu adalah konsekuensi atas pilihan-pilihannya.
Hari tanpa aksi, ia akan pulang ke huniannya, ia kembali bekerja di toko buku, ia menyadari pergerakannya diawasi—ada wajah-wajah asing mengintainya. Di setiap langkahnya pergi atau pulang dari toko, ia menemukan mata-mata orang asing yang selalu tajam menatapnya. Malamnya saat rehat di hunian, tak peduli hari telah dini, ketika ia membuka tirai jendela, di halaman gedung ada sosok asing yang senantiasa menghadapkan wajah ke jendela kamarnya. Berhari-hari begitu. Ia sejatinya takut, sempat terbayang hal-hal buruk di kepalanya. Cepat-cepat ia menghapus kengerian itu.
Ia menghadirkan suara-suara positif ke dalam jiwanya—ancaman yang mengintainya adalah konsekuensi dari jalan yang ia tempuh. Bagaimana mungkin ia mangkir sebagai pecundang? Ia tak mungkin mengembalikan lidah warisan. Malah ia semakin melantangkan lidah barunya, semakin keranjingan larut dalam aksi demi aksi.
Suatu aksi ia sempat diadang reporter yang mengajukan tanya. Tenang ia menjawab, “Mati muda dengan lidah baru lebih baik daripada usia langgeng sebagai penjilat.” Tentu saja ia tahu nada kecemasan reporter olehnya yang terus menunjukkan lidah baru. Seolah reporter itu bisa menerawang nasib malang menantinya di kemudian hari. Bisa melihat mata-mata yang bersembunyi mengawasi gerak-geriknya, menunggunya lengah sebelum melancarkan aksi.