SEMULA Risa mengira hanya kebersamaan di malam itu ia mengulik masa lalunya pada Dahri. Selanjutnya cukup membincangkan apa yang sedang mereka rasakan, bagaimana harapan-harapan untuk hari esok. Masa lalu tak perlu dibicarakan melulu, apalagi Risa telah menegaskan semua kepelikan, kenaifan, dan tangisnya adalah halaman-halaman buku yang telah ia tutup rapat-rapat. Sayangnya Dahri selalu menggiringnya ke arah sana, seolah hendak menggali lebih banyak lagi.
“Aku hanya penasaran bagaimana Pila mengenal ayahnya?” begitu Dahri memantik.
Bagaimana Risa bisa lari dari pertanyaan itu.
“Ayah yang Pila kenal adalah Rustam. Sama sekali tak tahu kalau ayahnya yang sungguh adalah Herman Abdullah.”
“Apakah selamanya kamu akan menutupinya?”
“Tentu aku punya rencana, ketika Pila bukan anak-anak lugu dan polos lagi. Kupikir itu masa terbaik dia tahu bagaimana kenaifanku, bagaimana brengseknya ayahnya.”
Masih Risa, “Kendati dia tahu tangisku dan bagaimana perlakuan Rustam terhadapku di kehidupan lama, tetap saja Pila banyak tanya. Mengapa kami meninggalkan Rustam. Aku telanjur menjelaskan kalau ayahnya adalah seekor tikus yang mengerikan, dia kira Rustamlah yang tikus itu, padahal sesungguhnya adalah Herman Abdullah. Pila punya karangan tentang ayahnya seekor tikus.”
Lengang terjadi beberapa saat, Dahri tampak mencari-cari kata dalam relung pikirannya untuk segera ia lisankan. Mudah saja ia menemukannya. “Semua takkan terjadi seandainya kamu berani terbuka tentang Herman Abdullah dalam hidupmu kemarin. Bahwa janin dalam kandunganmu adalah perbuatannya.”
“Ya, aku menyadari itu,” ucap Risa. “Aku terlalu termakan kata-katanya. Sekali dia bilang aku perlu menyembunyikan namanya demi reputasinya, mudah saja kulakukan. Lagi pula jika berani kukuak, apa aku berani lebih jauh menghadapi kemungkinan yang akan terjadi? Dia sudah tersohor, dia punya kuasa, sementara aku?”
Kalau ada sesuatu yang tak menyenangkan bagi Risa akan kebersamaannya dengan Dahri, itu karena Dahri terus membuka halaman-halaman buku yang telah tertutup rapat itu. Dahri suka menyinggung satu soal dalam buku itu berlarut-larut. Lebih jauh Dahri blak-blakan akan sebuah rencana, kalau Risa berkenan ia bisa membuat akun anonim di medsos lantas menceritakan tentang skandal Herman Abdullah. Dahri benar-benar menyebut skandal untuk melabeli yang terjadi antara Risa dan lelaki itu. Jelas Risa tak suka, pun tak menghendaki Dahri turut ikut campur sejauh itu.
“Aku berdamai dengan masa lalu yang pelik itu. Makanya kehidupanku sekarang kusebut kehidupan baru. Lagi pula aku benar-benar telah melupakannya.”
“Kamu tak benar-benar melupakannya, takkan bisa sungguh-sungguh melupakan, sampai kapan pun,” ucap Dahri. “Dia harus mendapat ganjarangnya, peduli apa reputasinya, biarlah semakin buruk, memang dia seberengsek itu. Bila kisahmu diangkat, pasti menggemparkan publik, ini kesempatan lawan-lawan politiknya untuk menghajar. Media akan mengulik informasi itu sedetail-detailnya.”
“Artinya kehidupan baruku bersama Pila di Rudaman ini akan terekspos?” ucap Risa.
“Kamu butuh itu. Kamu butuh simpati orang-orang lebih banyak.”
“Menurutmu begitu, sebenarnya aku tak butuh.”
“Bagaimana bisa kamu membiarkan hidupmu sejauh ini? Hubunganmu dengan keluargamu tak kunjung baik, Pila tak pernah merasakan peluk hangat dari kakek, nenek, paman, dan bibinya. Sementara si berengsek itu menikmati kehidupan elitnya dari waktu ke waktu. Apa yang kamu alami bisa jadi pelajaran bagi perempuan lain, untuk tidak menggampangkan diri larut dalam rayuan lelaki sebagaimana Herman Abdullah. Bagaimana jika ada perempuan lain mengalaminya bahkan jauh lebih menderita lagi? Ayolah, kamu bisa yang pertama menguak itu, aku siap mendampingimu. Kita terima sama-sama apa pun risikonya.”
“Ini hidupku, aku lebih tahu apa yang terbaik kulakukan.”
“Nyatanya yang terjadi tak baik untukmu, tak baik pula untuk Pila. Kalau kamu memang tahu yang terbaik untuk kalian, mengapa kamu terseret begitu jauh olehnya?”
Di ujung ucapannya, Dahri sadar agak berlebihan, namun tak bisa ia ralat lagi. Wajah Risa telanjur berubah, matanya tajam, “Kamu sudah terlalu jauh. Kamu ingin semakin jauh. Aku tak suka! Jangan kasihani aku!” suaranya bergetar, lalu meleset pergi. Meninggalkan Dahri sendiri di balkon larut malam itu.
***
RIKUH di antara mereka tak terhindarkan lagi. Risa seakan perlu memasang jarak dengan Dahri. Ia menutup salon selama tiga hari. Banyak-banyak waktunya mengurung diri di hunian. Pila sampai-sampai mempertanyakan keputusan Risa tak buka salon.
“Beberapa hari terakhir mulai sepi, Sayang. Daya beli masyarakat semakin menurun, orang-orang tentu lebih mementingkan kebutuhan pokok daripada memperindah rambut. Salon ini sama saja banyak usaha-usaha lain, di awal-awal saja tampak menjanjikan. Bulan-bulan berikutnya mulai sepinya. Apalagi salon kita ini ada di lantai empat, kita tak bisa melulu mengharapkan banyak orang-orang luar datang ke sini. Kecuali kamu mau lihat ibumu ini dipegang-pegang pelanggan. Mau begitu, Sayang?”
Pila menggeleng. “Tapi tak harus tutup juga kan, Bu?”
“Ini hanya sementara.”
Yang tak Risa ceritakan tentu saja penutupan salon itu ada kaitannya dengan Dahri. Risa membutuhkan jarak dengan pemuda itu.
Larut malam yang insomnia alih-alih memaksa diri keluar hunian menemui Dahri di balkon, ia memilih bertahan di kasurnya. Tetapi, ia tak sepenuhnya bisa mengempaskan pikirannya dari segala momen manis di antara mereka, ketika berlagak muda-mudi yang kasmaran: tangan-tangan mereka tak ragu saling ditautkan, berlanjut merangkul, bahkan merasakan cium di tengah-tengah dingin malam kebersamaan itu, juga ada beberapa momen salon sedang sepi, Dahri mendesak Risa ke sudut ruangan, lantas menyosor leher dan bibir seolah hendak menumpahkan hasratnya.
“Aku bisa menghapus semua memori masa lalunya pada tubuhmu dengan tubuhku. Aku mencintaimu.” bisik Dahri menggoda. Risa mencoba menenepis, “Tidak! Kamu hanya mengasihaniku. Orang yang punya musuh, tak bisa lebih lama menetap di suatu tempat, pasti akan tiba waktunya pergi, orang sepertimu tak layak jatuh cinta.”
Kadang Risa berpikir maksud lain mengapa Dahri kesannya terlalu jauh mencampuri masa lalunya, sampai-sampai ingin menguak skandal itu, bisa saja sebagai bukti bahwa lelaki itu benar-benar bersimpati padanya, sungguh-sungguh mencintainya. Sayangnya Risa sulit menerimanya.
***
HARI ketika Risa kembali membuka salon setelah tiga hari berlalu, di tengah-tengah ia menanti pelanggan, ia sibuk dengan ponselnya oleh Tante Linda memberi kabar kapalnya sebentar lagi berlabuh, setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke Rudaman. Itu kabar gembira, ia menyunggingkan senyum sembari mengetik huruf demi huruf di layar ponselnya mempertanyakan mengapa Tante Linda tiba-tiba berada di atas kapal. Senyumnya hilang saat membaca balasan Tante Linda: aku baru pulang dari suatu tempat, ada sesuatu yang telah berubah, tiba di situ baru kamu tahu. Apa itu? Risa bertanya-tanya, tiba-tiba teringat obrolan teks mereka terakhir kali: Tante Linda akan pergi ke tempat jauh setelah tersadarkan satu hal. Di tengah-tengah renungannya itulah Dahri menyelinap ke dalam salon. Memberikan tatapan tajam.
“Aku tak suka kamu begini. Kamu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin membantumu,” itu ia ucapkan tanpa basa-basi lebih dulu, sekali tarikan napas pula. Tak sampai di situ saja. “Kamu tak berdaya lepas dari jerat masa lalumu. Jangan mengharapkan indah kehidupan barumu selama kamu tak selesai dengannya.”