Pilu Pila

Magia
Chapter #13

Kehidupan Baru Kedua

TIBALAH hari-hari yang kian membosankan bagi Pila. Dalam sepi dan sendirinya suka bertanya—kehidupan baru macam apa yang sedang ia jalani? Sekalipun setiap hari masih dihadapkan kebisingan penghuni Rudaman, entah saat ia berangkat ke sekolah, atau belanja di warung, begitu kedua kakinya menginjak lantai empat, tetap saja ia merasa hidup di belahan dunia yang sangat sepi sekali. Semakin buruk, salon pun kekuarangan pengunjung dari hari ke hari.

Satu hal lain yang Pila kesalkan, Dahri yang tak ia ketahui ke mana rimbanya. Padahal sejak Pila menerima tiga buah buku dari Dahri, ia menulis karangan Lelaki yang Baik Hati, Pila sedikit berharap Dahri menjadi satu warna lain dalam kehidupan barunya. Sayangnya tak ada lagi ulangan sikap manis semacam itu. Pila menunggu, mereka perlu membincangkan buku bersama, Dahri tak kunjung muncul.

Pila hanya bisa menghibur diri dengan mengulang-ulangi pelajarannya: mengerjakan PR, berlatih menjawab soal demi soal. Kalau tak melakukan itu, ia akan membaui halaman demi halaman buku, membawa dirinya bertamasya ke dalam cerita. Selalu akan tergerak untuk membuat karangan baru, atau menuliskan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

*** 

RISA pun suka bertanya-tanya perihal kehidupan baru yang mereka jalani itu. Tahu betul kalau kehidupan seperti itu jauh dari apa yang terumuskan di kepalanya. Sejak awal, saat minggat dari kehidupan lama, kehidupan baru yang ia bayangkan adalah warna-warni aneka bunga di taman. Dan, kini kehidupan baru yang ia jalani, seakan hanya merasakan dua warna dari dua jenis bunga, bunga-bunga itu pun telah layu. Layu oleh perpisahannya dengan Tante Linda, dan layu oleh rikuh antara ia dan Dahri.

Sejak kepergian Tante Linda, banyak-banyak pikirannya tercurah kepada pemuda itu. Berhari-hari telah berlalu sejak pertengkaran mereka, ia baru terpikirkan tak pernah lagi melihat Dahri. Ia membuka salon di pagi hari, menunggu pelanggan datang, banyak-banyak matanya tertuju pintu hunian Dahri. Berharap pintu itu terbuka, tak harus Dahri menghampirinya, cukup melihat pemuda itu, sudah akan melegakan bagi Risa. Namun, Dahri tak pernah menampakkan diri lagi.

Di awal malam, Risa suka berdiri di depan pintu, asyik dengan jelaga pikirannya. Satu maksud Risa berdiri sampai belasan menit lamanya di mulut pintu, tak lain untuk memantau keadaan sekitar, barangkali ia melihat Dahri. Jika tak melihat tubuh itu, cukup sebuah tanda bahwa ada aktivitas di dalam huniannya. Selalu sunyi dari apa yang ia harapkan.

Risa seakan kembali pada masa sebelum ia akrab betul dengan Dahri. Ada waktu berhari-hari ia mencari Dahri, hendak membicarakan kertas kecil yang Pila temukan. Dahri tak terlihat: ternyata berhari-hari berada di luar Rudaman, bergabung dengan pemuda-pemuda yang memenuhi jalan oleh sebuah demo. Ketiadaan Dahri kali ini barangkali kembali menyibukkan diri di luar, demikian pikir Risa. Siapa tahu ada sesuatu yang mendesak pemuda itu lakukan, duganya lebih lanjut. Pikiran-pikiran positif ia suntikkan ke dalam kepalanya. Tetap saja keesokan harinya di salon banyak-banyak matanya menjurus ke pintu hunian Dahri.

Di awal malam, berdiri di mulut pintu dengan tangan memegang gelas, selalu berharap Dahri tiba-tiba muncul atau ada suara yang berasal dari dalam huniannya. Di larut malam pun, ia kembali bangkit dari baringnya di tengah lelap Pila. Ia menyambar sweternya, mengendap-endap keluar hunian. Langkahnya berhenti di simpang lorong, ia hanya ingin memantau balkon dari kejauhan. Jika Dahri ternyata ada di sana, sedang duduk di kursi, itu cukup melegakannya. Tetapi, ia tak menyaksikan seseorang ada di balkon itu. Sehingga ia perlu melangkah. Tiba di balkon, ia melelehkan pandangan kanan dan kiri, tak ada siapa-siapa kecuali dua ekor cicak bercumbu di tembok.

Saat baring memeluk tubuh Pila dengan mata terpejam, telinganya suka tiba-tiba ia tajamkan, berharap mendengar suara langkah kaki di lorong lantai empat, namun sunyi, kecuali pergerakan jarum jam dinding menguasai keheningan malam.

Risa baru terpikirkan: Tante Linda sudah tak ada dalam kehidupan barunya, harusnya hubungannya dengan Dahri semakin membaik. Dahri sebagai warna sebuah bunga dalam kehidupannya mesti semakin subur dan mewangi. Risa jadi menyayangkan pertengkaran di antara mereka. Ia menyesalkan responsnya yang terlalu berlebihan terhadap Dahri. Bagaimana lagi caranya menyatukan sebuah gelas yang telanjur pecah? Diam-diam Risa menangisi itu. Apalagi jika pembayangan buruk menghantui. Dahri punya lidah baru, lidah yang membuatnya menjadi vokal, lidah yang mengokohkan kedua kakinya berdiri bersama para tertindas, lidah yang telah membawanya larut dalam gelanggang demi gelanggang aksi, lidah yang tak disukai orang-orang maruk—besar hasrat menguasai dan mengeksploitasi, lidah yang membuatnya menemukan banyak batu sandungan di sepanjang perjalanannya yang semakin jauh dari rumah. Bagaimana kalau Dahri takluk? Pertanyaan itu yang terlintas di benaknya nyata membuatnya ketakutan.

Semakin takut saja, dan jauh ia menghubungkan ramai berita-berita bersiliweran di medsos. Demo telah terjadi di beberapa kota, oleh para pemuda lintas organisasi, baik mahasiswa maupun non-mahasiswa, berbaur bersama buruh, dan lebih banyak aliansi masyarakat. Menyoroti kebijakan-kebijakan rezim yang disinyalir jauh dari kepentingan rakyat, melainkan demi langgengnya oligarki.

Demo menjadi keos di beberapa kota, sampai-sampai berujung pembakaran gedung wakil rakyat di sebuah daerah, pun ada penjarahan di rumah beberapa pejabat yang tindak-tanduknya di hadapan media selama ini terlalu besar mulut, kata-katanya tajam menyentil rakyat.

*** 

PILA juga tahu perihal demo serentak itu. Jam istirahat di sekolahnya, ramai siswa mendekati pagar hanya untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan milik para pedemo, serentak menuju sebuah titik. Iring-iringan yang panjang, iring-iringan terbesar yang pernah Pila saksikan.

Pila curiga, Dahri ada dalam iring-iringan itu. Ia memanjangkan leher, maksudnya mencari-cari Dahri di antara lautan manusia itu. Sulit ia menemukannya, sampai guru-guru mulai berdatangan, tegas meminta murid menjauhi pagar dan kembali ke kelas masing-masing. Beberapa murid tampak kecewa, masih ingin lama-lama menyaksikan iringan-iringan itu, mendengarkan suara mesin kendaraan saling meraung-raung seolah pertunjukan musik.

Setiba di Rudaman, Pila mengabarkan demo itu. “Sangat banyak, Bu, panjang kendaraan mereka, bising sekali,” ucap Pila dengan mata bulat besar-besar. “Apakah demo besar seperti itu ada karena demo-demo sebelumnya tak didengarkan, Bu?”

Pertanyaan yang membuat Risa sedikit berpikir bagaimana harus menjawabnya. Tentu ia tak bisa lari dari pertanyaan itu, ia mesti memberikan jawaban. “Ya, bisa dibilang begitu. Pernah Ibu bilang, sekarang ini daya beli masyarakat kurang, kan? Makanya salon kita sepi. Bukan hanya salon kita saja, tapi usaha-usaha lain juga. Bahkan ada pabrik besar tutup karena bangkrut, karyawan-karyawannya dirumahkan, salon Mami Lis saja bangkrut. Pokoknya banyak orang semakin susah hidupnya, lebih susah dari kita. Yang hidup enak hanya penguasa dan orang-orangnya. Kebijakan mereka enak untuk mereka, tapi pahit untuk banyak orang. Nah, demo besar itu untuk memprotes. Moga-moga protesnya didengar.”

Pila senang mendengar penjelasan itu. Ia akui cara Risa menjawab pertanyaannya beda dari sebelum-sebelumnya. Oleh itu Pila tertantang untuk mengajukan pertanyaan yang lain. “Apakah Ayah di sana juga ikut demo? Ayah, kan susah. Di kehidupan lama, sering ngambil simpanan Ibu. Kalau Ayah tak susah, tak mungkin bertengkar dengan Ibu, kan?”

Risa mendengus, mengapa pula pertanyaan Pila harus berbelok ke sana. Agak kesal, tetapi ia tetap tenang meladeni Pila. “Ayahmu sekalipun susah, tapi tak suka demo. Alih-alih demo, sukanya marah-marah pada Ibu. Kacau hidupnya seakan karena kitalah biang keroknya. Tapi yang benar ayahmu tikus, tikus maruk, suka mengerat. Hidupnya jadi enak. Karena hidupnya enak, makanya bisa dibilang orang-orangnya penguasa.”

Mendengar itu, Pila mengernyitkan dahi. Ia kembali dihadapkan jawaban Risa yang membuatnya berpikir keras. Semakin kesal karena pertanyaan barunya tak dijawab Risa, padahal masih ada kebingungannya, kepalanya berat. Malah Risa berseru kepadanya untuk segera makan, makanan sudah siap di meja.

*** 

HARI-hari berikutnya demo semakin mewabah di banyak kota-kota lainnya, aparat menjadi represif, bentrok tak terhindarkan, pembakaran gedung menjadi sasaran kemarahan massa. Direspons pula aparat dengan penangkapan para pedemo yang dicurigai provokator dan dalang kerusuhan.

Banyak yang ditangkap. Terus menangkap sekalipun demo telah berakhir, aparat tetap melancarkan penyelidikan, dan terus memburu siapa pun yang dicurigai perusuh.

Lihat selengkapnya