Saat aku membuka mata, sisi ranjang di sampingku telah kosong. Jam dinding menunjukkan pukul 4 dini hari. Menunggu kesadaranku pulih, aku mencari-cari suara yang membangunkanku setiap pagi. Biasanya aku mendengar bunyi kelontang wajan, panci, dan piring yang beradu dari dapur. Suara itu seperti musik yang menarikku dari alam mimpi ke dunia nyata. Sri, istriku, selalu bangun lebih awal, menyiapkan kopi sesuai takaran yang kuminta, membersihkan dapur dan memasak makanan untuk sarapan. Ia telah menyiapkan segalanya sebelum aku berangkat salat jama’ah di masjid.
Tetapi, dini hari ini musik dari dapur itu menghilang.
Aku turun dari pembaringan dan bergegas ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, mengganti pakaian tidur dengan baju koko dan sarung, aku keluar kamar. Suasana di ruang tengah sepi, tidak ada kegiatan apapun. Pintu menuju ruang makan juga masih tertutup rapat. Aku membuka pintu ruang makan yang masih gelap. Tidak kutemukan secangkir kopi mengepul bersanding dengan singkong rebus kesukaanku di meja makan seperti pagi-pagi sebelumnya.
Kemana Sri?
Mungkin ia sedang di kamar mandi belakang. Aku tidak mencarinya dan bergegas menuju pintu depan. Begitu membuka pintu depan, lampu teras menyala terang. Di sana, tampak istriku sedang duduk di kursi sambil memegang secangkir minuman. Di meja kecil sampingnya, sepiring kedelai rebus kesukaannya masih mengepulkan asap. Ia tampak melamun memandangi bunga mawar yang sedang bermekaran di halaman.
“Bu? Kopiku mana?” tanyaku tanpa memedulikan mengapa sepagi ini dia duduk di teras sambil melamun. Aku tidak mau terlalu berlebihan mengomentari hal-hal kecil yang ia lakukan di luar kebiasaan.
Istriku menoleh padaku, tidak terkejut, tidak buru-buru ke dapur seperti biasanya untuk melayani kebutuhanku. Ia hanya mengangkat tangannya menunjuk lemari di dapur sambil mengunyah kedelai rebus.
“Di lemari,” jawabnya.
Aku agak terkejut melihat sikapnya, namun berusaha biasa saja.
“Siapkan seperti biasa, aku ke masjid dulu. Oya Bu, aku juga mau sepedaan pagi ini, siapkan kaos olahraga, handuk, sepatu, wadah minum dan obat-obatan. Setelah minum kopi aku pergi,” tambahku.
Istriku tidak menjawab, ia sibuk mengunyah kedelai rebus di depannya seolah kata-kataku tidak pernah ia dengar. Mungkin ia sedang mengantuk, atau tidak mood untuk melakukan aktivitas hariannya. Tetapi, selama kami bersama ia tidak pernah menolak melakukan kewajibannya. Bagiku, mengurus rumah dan menyiapkan semua kebutuhanku adalah kewajiban Sri. Sementara aku, sebagai suami juga memiliki kewajiban lain yang harus kupenuhi. Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Jangan makan kedelai rebus, baunya bikin aku mual,” kataku lagi. “Makanlah makanan yang tidak menyiksaku.”
Mendengar kata-kataku, Sri memandangku tajam. Di bawah lampu teras yang terang, wajahnya tampak memerah. Apakah ia marah? Bukankah selama ini ia juga tahu kalau aku tidak suka kedelai rebus? Sejak kami menikah, aku memintanya untuk tidak makan kedelai rebus kesukaannya karena aku tidak tahan bau kedelai. Terkadang ia makan secara sembunyi-sembunyi atau memilih makanan yang kusukai agar aman dari keributan. Kenapa pagi ini ia makan kedelai rebus secara terbuka seolah hendak menantangku? Ia masih memandangku dengan wajahnya yang merah, menghela napas berat lalu kembali sibuk mengupas kedelai rebus di hadapannya.