Gurun pasir yang luas membentang di hadapanku. Angin menderu menghempaskan debu-debu ke wajahku yang telanjang. Rambutku yang keseluruhan sudah memutih, menggumpal lepek dalam ikatan karet gelang. Aku mendongak menatap langit. Matahari terasa hendak jatuh menimpaku. Aku terbakar bahkan sebelum bulatan raksasa itu jatuh ke bumi. Keringat mengucur di sekujur tubuhku, pakaianku yang compang-camping terasa sangat panas dan tubuhku mulai lemas kehausan.
Di mana aku kini?
Aku memandang sekeliling, semuanya gurun pasir yang sangat panas. Tidak ada manusia, tidak ada tumbuhan. Aku tidak menemukan suamiku, tidak menemukan kedua anakku. Mengapa aku bisa berada di tempat ini? Aku terus berjalan, berharap menemukan oase di tengah padang pasir ini. Tetapi, sepertinya perjalanan ini tidak ada ujungnya. Sejauh mata memandang aku hanya menemukan pasir yang sangat panas.
Tiba-tiba, aku melihat gulungan pasir yang sangat besar seperti ombak yang hendak melibas apapun di depannya. Aku mencoba mencari sesuatu untuk pegangan, tetapi tidak ada apapun di gurun itu. Ketika gulungan pasir itu sampai di tempatku berdiri, aku masuk ke dalamnya dan berputar-putar dalam pusaran. Aku merasa tulangku tercerai berai dan tubuhku meleleh. Gulungan pasir itu terus berputar membawaku jauh dari tempatku semula. Aku berteriak minta tolong namun tidak ada siapapun yang datang. Mungkin maut akan membawaku pergi.
Lalu, seperti dihisap sesuatu yang besar dari bawah, gulungan pasir itu mendadak runtuh ke bawah, jatuh sedikit demi sedikit, hingga hilang sama sekali. Aku meleleh di gurun lalu tubuhku seperti disatukan kembali. Ketika aku kembali utuh, aku merasakan tenggorokanku kering dan sakit, bibirku pecah-pecah berdarah dan keringat yang terasa panas membanjiri tubuhku. Aku mencoba bangkit berdiri, namun tidak sanggup lagi. Aku pasrah, mungkin saat inilah akhir hidupku.
Sebuah cahaya muncul dari samping tempatku terkapar. Cahaya itu dari sebuah pintu berwarna putih yang terbuka sedikit. Gagang pintunya keemasan dengan ukiran cantik karya abad lalu. Aku sering melihat pintu itu sebelumnya dalam mimpi-mimpiku yang lain, namun baru kali ini pintu itu terbuka sedikit. Apa yang ada di balik pintu itu? Apakah jalan menuju tempat yang sejuk? Ataukah justru jalan menuju kematian?
Aku merangkak mendekati pintu itu dengan tenaga yang tersisa. Darah mengucur dari tubuhku yang pecah-pecah, keringat yang rasanya asin mulai membasahi lidahku. Tiba di depan pintu itu, aku merasakan angin sejuk berhembus dari dalam menyapu wajahku. Sesaat aku merasakan angin surga, meski aku belum tahu surga itu seperti apa. Aku merasa mendapatkan kekuatan untuk menjangkau pintu itu. Tanganku berhasil memegang gagang pintu keemasan yang terasa dingin di telapak tanganku. Mendadak ratusan kupu-kupu terbang dari dalam pintu itu. Kupu-kupu berwarna pastel yang indah. Aku memandangi keindahan itu hingga lupa segala sesuatu yang sedang kurasakan.
“Masuklah jika kamu ingin melanjutkan hidup…” sebuah suara dari dalam pintu berbisik padaku.
Aku semakin penasaran melihat apa yang ada di dalam pintu. Kudorong perlahan dan kupandangi sekeliling. Ada sebuah meja kecil bundar berwarna putih. Di meja itu tampak segelas air putih berembun yang menyegarkan dan sepiring kedelai rebus. Itu makanan kesukaanku. Aku harus makan dan minum untuk melanjutkan hidup. Maka, aku menjulurkan tanganku untuk mengambil segelas air lebih dulu. Aku berhasil meminum segelas air putih dingin yang menyegarkan itu. Sekarang aku ingin mengambil sepiring kedelai rebus di atas meja. Tetapi, ketika aku hendak menjulurkan tangan, mendadak pintu putih itu menutup dengan keras. Aku berusaha membukanya, tetapi tidak bisa. Pintu itu terkunci. Aku menangis dan berteriak-teriak putus asa, tetapi pintu itu benar-benar tidak mau terbuka lagi.
Ketika aku terbangun dari mimpi tentang pintu itu, aku masih menangis.
***
“Kita sudah sepakat tidak akan makan kedelai rebus itu saat bersama,” kata suamiku ketika melihatku kembali makan kedelai rebus di ruang makan.
Aku ingin menuruti keinginan suamiku seperti sebelum mimpi tentang pintu putih itu datang, tetapi keinginanku makan kedelai rebus justru menggila. Ketika aku tidak mampu mendapatkan kedelai rebus itu dalam mimpiku, maka aku berusaha keras untuk mendapatkannya di dunia nyata. Setiap hari aku membeli ke pasar dan merebusnya tanpa memedulikan sindiran suamiku yang semula pelan kemudian berubah menjadi kamarahan. Ia tidak pernah berteriak atau main tangan, tetapi jika sedang marah ia bisa mendiamkanku berhari-hari.
“Kamu bisa pergi jika tak suka aku makan kedelai rebus,” kataku suatu hari saat suamiku membuang piring kedelai rebus ke tempat sampah sambil muntah-muntah.
“Jadi ini yang kamu inginkan selama ini?” tantang suamiku.