Aku harus melakukan sesuatu. Istriku semakin keras kepala dengan perubahan sikap yang tanpa kuketahui sebabnya. Maka, aku memutuskan untuk mengajak ia pergi liburan minggu depan tepat di hari ulang tahun pernikahan kami. Kali ini, aku mendengarkan nasihat teman sepedaku agar memberi kejutan pada istriku tepat di hari bahagia itu. Mungkin selama ini perubahannya itu hanya ingin diperhatikan, atau agar aku ingat ulang tahun pernikahan kami. Baiklah, meski menurutku itu hal sepele yang tidak masuk akal, tetapi aku lakukan untuk menyenangkan dia.
“Bu, minggu depan kita pergi ya…” kataku malam itu sepulang dari masjid.
Istriku yang sedang duduk di depan TV menghadap sepiring kedelai rebus menengok padaku sekilas lalu kembali sibuk dengan kedelai rebusnya. Tidak ada perubahan apapun di wajahnya, tetap datar seperti semula.
“Aku sudah siapkan tiket dan hotel di Bali. Kamu siapkan keperluan kita,” tambahku.
“Aku tidak bisa pergi,” jawabnya santai.
Aku yang sedang berjalan menuju kamar seketika berhenti. Tidak ada dalam kamusku ditolak istriku kecuali waktu kami masih SMA. Itu pun, dia berhasil aku takhlukkan dan jatuh ke dalam pelukanku. Kenapa sekarang dia sering menolak semua keinginanku padahal semua ini kulakukan untuknya? Aku sudah merendahkan diriku sendiri demi menyenangkan dia, tetapi dia menolakku. Aku berbalik menatapnya sambil menahan kemarahan yang meluap-luap. Aku bukan lelaki yang gampang naik darah, tetapi sikap istriku akhir-akhir ini mulai membakar dadaku.
“Itu ulang tahun pernikahan kita, aku ingin mengajakmu liburan,” jawabku sambil duduk di sampingnya. “Kamu tidak lupa, ‘kan?”
Dia menghela napas, dan masih sibuk makan kedelai rebusnya. Aku berusaha menahan mual-mual karena bau kedelai rebus itu. Aku mencoba menenangkan diri dan menghadapinya dengan tenang. Aku tidak mau apa yang kami bangun selama tiga puluh tahun ini menjadi sia-sia hanya karena alasan yang tidak jelas.
“Bukankah kamu yang selalu lupa tanggal pernikahan kit?” tanyanya membalasku.
“Aku lupa karena bekerja memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak,” jawabku.
Aku tahu, itu jawaban yang salah. Pasti ia tidak suka mendengar jawabanku, tetapi bibirku tidak sanggup mengatakan hal lain apalagi meminta maaf. Bagiku memenuhi kebutuhannya dengan bekerja keras adalah kewajibanku dan aku harus mendapatkan penghormatan dengan semua yang kulakukan. Aku tidak harus melakukan hal lain, dan dia harus memahami itu.
“Oke, aku sudah menjawab ajakanmu. Aku tidak bisa pergi,” katanya sambil membawa piring kedelai rebus itu bangkit dari kursi.
Tetapi, kali ini aku menarik lengannya yang kurus. Agak keras sehingga ia meringis kesakitan hingga kemudian aku melonggarkan tarikanku.
“Kenapa kamu berubah seperti ini? Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Aku ingin,” jawabnya singkat lalu menghempaskan tanganku dan pergi ke kamarnya.
Aku ternganga melihat kelakuannya dan mengejar istriku ke kamar. Ia tampak duduk tenang di pembaringan sambil mengupas kedelai rebus itu. Aku benar-benar muak melihat kelakuannya. Maka, aku mengambil piring kedelai rebus itu dan melemparkan ke lantai. Bunyi piring pecah dan kedelai rebus yang berantakan mengejutkan diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku membanting perabotan selama tiga puluh tahun menikah. Istriku hanya memandangku seperti orang asing. Ia tidak menangis, tidak mengatakan apapun selain menatapku. Aku tidak suka melihat matanya, maka aku memutuskan meninggalkan kamar. Sepertinya aku sudah kehilangan cara untuk mengembalikan istriku ke kehidupan sebelumnya yang aku sukai.
***
Hari ulang tahun pernikahan itu akhirnya datang juga. Kedua anakku pulang ke rumah untuk merayakan sambil membawa berbagai kado. Bulan, anak perempuanku yang sulung membawa calon suaminya ke rumah, dan Damar, anak laki-lakiku membawa pacarnya. Istriku tidak memasak apapun untuk ulang tahun pernikahan itu padahal tahun-tahun sebelumnya ia selalu memasak lauk kesukaanku balado kacang teri selain ayam goreng, telur dadar, daging ungkep untuk menemani nasi kuning. Makanan kesukaan anak-anak juga selalu ia siapkan. Bulan suka pergedel kentang, sementara Damar suka bakso goreng. Tetapi ulang tahun pernikahan tahun ini, dia tidak menyiapkan apapun, bahkan ia tidak menyambut anak-anak yang datang.
“Setidaknya kamu bisa menghargai anak-anak,” kataku saat dia enggan keluar kamar. “Anak-anak akan kecewa melihatmu seperti ini.”
Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, lalu masuk kamar mandi. Anak-anak sudah menunggu di meja makan dengan hidangan yang kupesan sebelum mereka datang. Mereka tampak gembira seperti tahun-tahun sebelumnya. Istriku keluar kamar sambil tersenyum pada anak-anak, memeluknya sekilas dan duduk di sampingku. Bulan dan Damar menyerahkan kado kepada ibunya dan ia membukanya dengan wajah datar.
“Ibu suka kadonya ‘kan?” tanya Damar yang selalu peka dengan perubahan Ibunya. Kepekaan yang membuatku jadi waspada untuk menutupi semua yang terjadi.
“Kapan ibumu tidak suka kado kalian? Ibu pasti menyukainya,” jawabku.