Pintu Putih

Tary Lestari
Chapter #4

Istri, Aku Hanya Ingin Makan Kedelai Rebus

Aku kembali berjalan di gurun pasir. Kali ini lebih panas seolah matahari hendak jatuh di kepalaku. Aku menyusuri gurun yang menyiksa ini ke arah barat, mencari pintu putih yang kulihat sebelumnya. Aku berharap bisa minum segelas air putih yang menyejukkan itu untuk menghalau dahaga. Siapa tahu kali ini aku bisa menjangkau piring kedelai rebus yang menggodaku itu. Meskipun di kehidupan nyata aku sekarang berusaha makan kedelai rebus setiap hari, tetapi dalam mimpi aku masih tertantang untuk mengambil piring itu. Rasanya keinginanku belum terpuaskan tentang kedelai rebus itu jika aku belum mendapatkan dalam mimpiku.

“Jangan mencari pintu putih itu, Nak….” sebuah suara lembut tiba-tiba seperti terbawa angin gurun ke telingaku.

Aku menoleh mencari asal suara, namun tidak ada seorang pun di sana. Sejak mimpi gurun ini datang, aku belum pernah bertemu manusia. Tetapi, suara itu datang lagi dan semakin dekat.

“Pintu itu hanya halusinasi seorang wanita… kamu tidak akan bisa memasuki pintu itu…” tambah suara itu lagi.

Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat di belakangku. Ketika menoleh, aku melihat Ibu berdiri di sana. Bajunya compang-camping dan kakinya melepuh kepanasan. Tubuhnya kurus kering dan keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya memerah kepanasan. Beberapa kali ia menelan ludahnya, pasti sedang kehausan.

“Ibu harus minum, bahaya kalau dehidrasi…” kataku menoleh ke sana ke mari untuk mencari pintu putih itu.

Tetapi ibuku menggeleng. “Tidak Nak, perempuan memang ditakdirkan seperti ini sejak kecil. Ia tidak punya pilihan selain melewati gurun panjang ini hingga meninggal.”

“Kenapa? Ada segelas air putih di balik pintu itu, aku bisa meminumnya. Ibu harus minum agar bisa melanjutkan perjalanan,” kataku.

Ibu menepuk bahuku lembut, berusaha tersenyum dalam kegetiran. “Jangan Nak, jangan ambil minuman dan makanan di sana. Itu tidak baik untukmu Nak, yang terbaik teruslah berjalan di gurun ini….”

Lalu, Ibu melanjutkan perjalanan meninggalkanku. Badannya yang ringkih beberapa kali terjatuh ke pasir yang panas, namun ia berusaha terus berjalan. Aku berteriak-teriak memanggilnya, namun ia tidak mau berhenti. Di kejauhan aku kembali melihat cahaya yang berpendar dari pintu putih itu. Rasa hausku terasa begitu menyakitkan sehingga aku berlari ke pintu itu. Aku ingin memasuki pintu itu dan berlindung di dalamnya, minum segelas air putih dan makan kedelai rebus kesukaanku. Aku membayangkan diriku yang letih ini berbaring di lantai, memejamkan mata menikmati hawa sejuk di balik pintu. Tapi, aku ingin mengajak Ibu masuk ke sana. Aku mencari-cari Ibu tetapi tidak kutemukan lagi. Aku berjalan menuju pintu.

Sebelum mencapai depan pintu putih, aku terbangun.

***

Aku bangkit dari tempat tidur dengan keringat mengucur di sekujur tubuhku. Kerongkonganku terasa kering dan kehausan. Wajah Ibu yang letih kembali melintas di mataku. Aku tidak pernah bermimpi tentang Ibu, tetapi kenapa sekarang ia datang di gurun itu? Apakah ia juga sedang melakukan perjalanan panjang di dunia sana? Tetapi, seharusnya sekarang ia tidak lagi melewati gurun ini karena perjalanan hidupnya telah berakhir setahun yang lalu. Atau, Ibu hanya mengingatkan aku?

Semasa hidupnya, ibu berjalan bukan hanya melewati gurun yang panas sepertiku, tetapi melewati bara api. Aku yakin kaki Ibu melepuh terbakar karena api itu hingga tidak tahu lagi bagaimana mendeskripsikan rasa sakit itu sehingga Ibu hanya diam dan terus berjalan. Usia pernikahannya dengan Ayahku tidak pernah bahagia. Aku tidak pernah melihat cinta di mata mereka, selain pertengkaran demi pertengkaran. Ayah mulai bersama wanita lain saat usiaku sepuluh tahun, dan meninggalkan Ibu begitu saja. Tetapi, ia tidak menuntut perpisahan meskipun tidak pernah dinafkahi dan harus jungkir balik sendirian mengurus anak-anaknya. Tidak ada keluarga Ibu yang menganjurkan untuk berpisah meski kenyataannya Ayah tidak pernah lagi di sampingnya. Ibu juga tidak berani mengambil keputusan untuk pergi meskipun dalam pernikahan dengan Ayah hanya ia dapatkan hanya kepahitan.

“Pintu itu hanya halusinasi wanita….” Suara Ibu dalam mimpi kembali berdenging di telingaku.

Tidak Ibu! Pintu itu bisa kubuka, mungkin perlu keberanian untuk melewatinya. Seharusnya aku berada di gurun ini bersama suamiku jika memang kami hidup bersama, bukan hanya berjalan sendirian seperti ini. Jika memang aku harus menyusuri gurun panas itu seumur hidupku, sebaiknya aku masuk ke dalam pintu putih itu dan menikmati sisa hidupku sesuai yang kuharapkan. Bukan sesuai harapan orang lain.

Entah kekuatan dari mana, tekad itu begitu kuat sehingga aku keluar dari kamar dengan langkah yang terburu seperti baru saja mendapatkan energi baru. Aku berjalan cepat ke dapur lalu mengambil segelas air dingin. Begitu meneguknya, rasa segar mengalir melewati leherku. Tidak seenak segelas air di balik pintu itu, namun ini juga terasa membebaskan. Setelah minum, aku mencari kedelai di kulkas, aku ingin merebusnya. Tetapi, kedelai itu tidak ada di sana, padahal aku sudah menyiapkan cukup banyak untuk kurebus setiap hari. Apakah kedelai itu sudah habis?

“Aku membuangnya ke tempat sampah di luar,” suara suamiku tiba-tiba sudah ada di belakangku.

Aku membalikkan tubuh dengan tatapan marah. Kenapa dia begitu benci dengan semua yang kusukai? Apakah aku harus menyukai semua yang dia sukai sementara dia tidak bisa melakukan sebaliknya?

Lihat selengkapnya