Pintu Putih

Tary Lestari
Chapter #5

Suami, Tamu yang Membahagiakanku

Sejak pulang dari psikolog, istriku tampak berubah. Ia tidak menuntut untuk pindah saat itu juga dan tidak lagi membicarakan tentang gugatan cerai. Lagipula apa yang sebenarnya dikeluhkan itu sama sekali tidak masuk akal. Kalau hanya ingin makan kedelai rebus kenapa tidak makan saat aku tidak di rumah. Toh, tidak setiap saat aku ada di rumah. Tipe suami seperti aku juga akan sulit dia temukan. Seorang lelaki yang punya uang kebanyakan akan mencari istri lagi atau menyimpan wanita lain. Sementara aku tetap lurus, setia pada istri dan anak-anak, tidak goyah oleh hal-hal lain. Aku mencintai istriku dengan caraku sendiri yang mungkin tidak banyak di miliki lelaki lain.

Seminggu ini istriku terlihat normal. Dia kembali memasak dan menyiapkan semua keperluanku, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku menanyakan perubahan ibunya ini pada Bulan, tetapi Bulan hanya menjawab, “bukannya itu bagus, Yah?” Tanpa penjelasan lainnya. Sementara anak laki-lakiku tidak banyak berkomentar tentang keputusan ibunya, namun ia sering pulang memberi perhatian lebih pada ibunya. Menemani ibunya jalan-jalan dan membelikan makanan kesukaannya. Aku lihat istriku mulai sering tersenyum karena anak-anak lebih memerhatikannya. Mungkin ia memang kangen dengan anak-anak sehingga kepikiran hal-hal lain.

Hingga suatu siang tiga adikku menelepon. Mereka ingin liburan di Jakarta bersama anak-anaknya seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku memang membuka pintu rumahku untuk siapa saja yang ingin singgah liburan atau menginap. Bagiku, memiliki rumah sebesar ini untuk apa jika tidak dimanfaatkan. Apalagi aku anak tertua di keluargaku, adik-adikku adalah tanggung jawabku. Aku memang sengaja menyisihkan sebagian uangku untuk keluargaku sendiri dan memberikan mereka jatah masing-masing per bulan, meskipun mereka sudah berkeluarga dan memiliki gaji yang besar. Ini adalah bentuk tanggung jawabku terhadap mereka.

“Nuri, Sifa dan Bimo mau liburan di sini minggu depan. Mereka akan bawa semua keluarganya. Kamu siapkan kamar dan makanan seperti biasanya,” kataku pada istriku yang sibuk memasak di dapur.

Mendengar kata-kataku itu, mendadak istriku berhenti memotong sayuran di atas talenan. Ia memandangku sejenak dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti artinya. Ini adalah respon pertama sejak berpuluh tahun keluargaku datang ke sini selalu dia layani dengan baik bahkan dengan senyum di bibirnya yang terus mengembang. Apalagi sekarang? Apakah aku mengucapkan kata-kata yang salah?

“Seperti sebelumnya saja…” tambahku lagi.

“Aku tidak bisa lagi mengurus tamu…” katanya pelan namun sedikit bergetar.

Aku berjalan ke arahnya, menatapnya saksama.

“Memangnya kenapa? Bukankah rumah sebesar ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya? Apalagi mereka hanya liburan setahun sekali…Mereka juga adik-adikku…” selaku.

“Perlu kukorekasi, mereka liburan ke sini setahun tiga kali, bergantian…” tambah istriku.

Aku menghela napas berat lalu duduk di dekat istriku yang masih menghadap talenan. Kenapa dia menjadi sangat aneh? Apa susahnya mengurus tamu? Semua uang sudah kusediakan, tinggal membelikan dan memasak. Apa susahnya?

“Kenapa tidak bisa mengurus tamu lagi?” tanyaku pelan. “Apa sebaiknya kita mencari pembantu untuk mengurus rumah?”

“Kamu selalu hanya bisa menyelesaikan masalah dengan uang,” jawabnya ketus.

Tiba-tiba ia membuang sayuran yang dipotongnya ke tempat sampah dan melemparkan talenan serta pisau ke bak cuci piring. Ia mengelap tangannya lalu menatapku tajam.

“Aku akan pindah rumah secepatnya…”

Aku mencoba membujuknya, meskipun aku bukan tipe laki-laki yang pandai membujuk wanita bahkan membujuk anak perempuanku sendiri saja aku tidak mampu.

Lihat selengkapnya