Kenangan indah pertama yang kumiliki setelah menikah dengan Bram adalah perasaan amanku masuk ke sebuah keluarga yang hangat. Sebelum menikah, Bram mengenalkanku kepada tiga adiknya. Mereka sudah kehilangan orangtua sejak kecil, tetapi kehidupan mereka tampak harmonis dan bahagia. Setiap berkumpul mereka melontarkan candaan-candaan lucu yang membuat semua tertawa terpingkal-pingkal.
Saat itu aku sangat menyukai candaan-canndaan mereka karena suasana jadi segar dan perasaan sedih berkurang. Jauh berbeda dengan situasi di keluargaku yang selalu muram. Ibuku yang dipenuhi dendam kepada ayahku, sementara ayahku yang sibuk mengejar ambisi pribadinya. Adik laki-lakiku lebih banyak diam dan menghindar, sementara adik bungsuku tenggelam dalam depresi. Aku lelah melihat kondisi di dalam keluargaku, sehingga keluarga baru ini membuatku menanam harapan. Aku merasa mendapat hiburan baru sekaligus pelarian setelah sangat lama dalam kemuraman. Apalagi seluruh keluarga Bram menerimaku dengan baik. Aku tidak memiliki masalah memasuki keluarga Bram. Aku benar-benar merasakan kehangatan dan kebahagiaan.
Tetapi, semua itu hanya di permukaan. Beberapa tahun kemudian aku menyadari bahwa keluarga Bram lebih kacau ketimbang keluargaku sendiri. Hanya saja mereka membungkusnya dengan lelucon-lelucon yang sebenarnya sulit kuterima setelah aku mengenal lebih dalam. Mereka terbiasa menjadikan apa saja bahan becandaan sehingga terkadang menyerupai pelecehan. Seperti mencadai bentuk tubuh, wajah dan sikap-sikap tertentu yang seharusnya tidak bisa dijadikan bahan becandaan. Aku mulai jengah mendengar itu bahkan diam-diam membencinya.
Aku berusaha melamar banyak pekerjaan namun belum berhasil. Setelah hamil, Bram memintaku tidak bekerja. Ia mengizinkan bekerja jika anakku sudah cukup besar. Tetapi setelah anak sulungku usia lima tahun, aku hamil lagi. Bram semakin tidak mengizinkan aku bekerja dengan alasan kasihan meninggalkan anak-anak di rumah. Ia berjanji akan memenuhi semua kebutuhan kami tanpa aku harus bekerja. Aku tidak bisa menentang, karena kenyataannya mencari pekerjaan tidak semudah yang kuduga. Aku kemudian menyerahkan diriku pada keluarga dan mengkhidmati kata-kata ibuku bahwa istri yang baik itu menjaga anak-anak di rumah dan melayani suaminya sepenuh hati.
Awalnya semua baik-baik saja, aku masih bisa menyeimbangkan segala yang kurasakan. Aku mencintai anak-anakku dan suamiku sehingga semua yang kulakukan tidak meninggalkan jejak dendam apapun. Lagipula kehidupan berkeluarga memang harus kompromi pada banyak hal, aku bisa memahami itu. Karir suamiku mulai menanjak, ia semakin sibuk dan jarang di rumah. Aku mengatasi semua keperluan anak-anak mulai sekolah, kegiatan ekstrakurikuler hingga hal-hal penting lainnya. Suamiku jarang memiliki waktu bergabung dengan anak dan istrinya, tetapi aku bisa memahami itu. Waktunya lebih banyak untuk bekerja atau dinas keluar kota. Tetapi anehnya, ia selalu memiliki waktu untuk adik-adik dan keponakannya.
“Mas, temani aku belanja minggu depan,” kata Nuri suatu hari.
Dan herannya, suamiku selalu memiliki waktu untuk memenuhi permintaan adik-adiknya. Bukan hanya membayar semua belanjaan, tetapi juga menyediakan waktu hingga selesai. Sementara saat anak-anak ulang tahun, aku ulang tahun atau pengambilan raport anak-anaknya, Bram tidak pernah memiliki waktu. Jika demikian, masalahnya bukan soal waktu, tetapi soal prioritas. Aku merasa tidak pernah diprioritaskan lagi. Hari-hari liburnya selalu dihabiskan bersama keluaga adik-adiknya dan memenuhi semua keinginan mereka.
“Kenapa Mas bisa punya waktu untuk mereka sementara tidak punya waktu untuk aku dan anak-anak?” tanyaku setelah berkali-kali suamiku melakukan itu.
Suamiku malah tertawa terbahak-bahak dan menganggap aku mengada-ada. Menurutnya, dia selalu ada untukku dan anak-anak selama 24 jam, sementara untuk adik-adiknya hanya beberapa hari sekali. Padahal kenyataannya dia tidak begitu. Dia memang berada bersama kami selama pulang kantor atau waktu libur, tetapi tidak pernah hadir secara personal. Aku mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan ayahnya, tetapi suamiku hanya tertawa. Menurutnya, ia sudah memenuhi kebutuhanku dan anak-anak. Lalu ia membandingkan dengan suami Nuri yang tidak bekerja, atau suami Sifa yang penghasilannya tidak mencukupi untuk hidup. Seharusnya aku bersyukur memiliki suami seperti dia. Hingga puncaknya setelah anak-anak besar aku ingin bekerja. Tetapi, suamiku tidak mengizinkannya.
“Buat apa kamu kerja? Aku masih bisa mencukupi semua kebutuhanmu, lagipula di usiamu itu tidak mudah mencari pekerjaan,” katanya.
Nuri, Sifa dan Bimo masih dijatah setiap bulan meskipun mereka sudah berkeluaga dan memiliki anak. Menurut suamiku itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Aku yang tidak pernah bekerja dan menghasilkan uang perlahan mulai rendah diri. Adik-adiknya menggunakan itu sebagai senjata untuk memeras kakaknya, dengan alasan aku hanya orang yang menumpang di rumah kakaknya. Selama itu aku berusaha menurut dan diam saja dengan semua keputusan yang dilakukan suamiku.
Namun, ketika jabatan suamiku di kantor semakin tinggi, perangainya pun berubah. Ia semakin sering memperlakukan aku seperti seorang pembantu. Setiap bertemu denganku pasti menyuruhku melayani ini dan itu seolah aku ada di hadapannya sebagai pembantunya. Aku juga selalu dihalangi setiap berkegiatan di luar dengan teman-temanku karena menurutnya itu tidak penting. Yang terpenting adalah mengurus keluarga di rumah. Adik-adiknya semakin menjadi-jadi ketika kakaknya banyak uang. Jatah bulanannya terus meningkat bahkan mereka seolah tak perlu bekerja karena sudah dijamin oleh suamiku.
“Aku tahun depan ingin libur ke Eropa seperti kalian,” kata Nuri saat melihat kami berempat pulang dari Eropa liburan.