Sepanjang hari, aku khawatir dengan perasaan Nuri. Ia tidak pernah ditampar seumur hidupnya, maka ini akan membekas dalam hatinya. Aku berharap ini tidak akan menjadi trauma, tetapi aku yakin ini bukan hal yang bisa dia lupakan dengan mudah. Nuri kehilangan Ayah ketika masih duduk di sekolah dasar, lalu tahun berikutnya Ibu menyusul. Ia tidak sempat bersedih, tetapi kemudian harus menjadi Ibu untuk dua adiknya. Aku menggantikan Ayah dengan bekerja serabutan sambil sekolah. Nuri menganggapku sebagai ayah dan ibunya. Aku tidak pernah memikirkan diriku sendiri atau kebahagiaanku sendiri, tetapi kehidupan adik-adikkulah yang paling penting. Mereka harus merasakan kebahagiaan meski yatim piatu. Maka, aku banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Ketika Nuri memutuskan menikah dengan Farhan, aku menyetujuinya karena sejak kuliah aku mengenal Farhan. Tetapi sekarang aku merasa sangat bersalah mengizinkan mereka menikah. Farhan ternyata laki-laki gila yang tidak tahu tanggung jawab. Ia tidak pernah menafkahi Nuri dan hanya merepotkannya. Aku mengizinkan jika Nuri ingin berpisah, namun kenyataannya Nuri masih mempertahankan Farhan yang brengsek itu. Kehidupan Nuri semakin susah karena menanggung suami dan satu anaknya yang masih kuliah. Apalagi, akhir-akhir ini Farhan keluar masuk rumah sakit. Tabungan dan gaji PNS Nuri yang tidak seberapa habis untuk semua keperluan itu. Aku mengiriminya tiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari uang yang kusimpan sendiri. Terkadang, Nuri memang meminta ini itu padaku secara berlebihan. Tetapi, aku memakluminya. Ia hanya meminta pada kakaknya, bukan pada orang lain. Ia juga ingin diperhatikan olehku. Aku tidak keberatan melakukan semua itu untuk Nuri.
“Mas, kita makan di restoran di gedung paling tinggi itu ya sebelum pulang?” pintanya ketika kami selesai mengunjungi Dufan hari ini.
Aku mengangguk. “Kemana lagi setelah itu? Pokoknya kalau kalian senang, Om juga senang…” kataku.
Nuri yang duduk di sampingku tersenyum, wajahnya tampak bahagia. Aku sebenarnya jarang menyetir jauh seperti ini karena Bulan atau Damar selalu menyetir sejak aku pensiun. Tetapi demi adik-adikku, aku melakukannya. Aku juga tidak banyak main handphone saat bersama mereka. Aku menyadari sepenuhnya, adik-adikku selalu butuh perhatianku, mereka sejak kecil yatim piatu dan hanya punya aku. Aku harus menjadi Ayah sekaligus Ibu sampai kapanpun.
“Mbak Sri apa baik-baik saja, Mas?” tanya Nuri sambil melirik ke kursi belakang. Sifa sedang menenangkan anaknya sementara Bimo dan keluarganya aku suruh membawa mobil Damar karena tidak cukup dalam satu mobil.
“Maafkan Mbakmu, sepertinya dia memang perlu psikiater,” jawabku.
“Aku ke kamar cuma bilang kalau dia seharusnya bersyukur, punya suami kayak Mas Bram itu seperti menemukan emas. Gimana enggak? Setia, kaya, tanggung jawab dan tidak peit. Kalau Mbak Sri jadi aku, bayangkan seperti apa stressnya,” jawab Nuri.
Aku menghela napas. Nuri benar, apa sebenarnya yang dikhawatirkan istriku tentang kehidupannya. Aku mencukupi semuanya, kalau hanya keinginan-keinginan kecil seperti makan kedelai rebus, harusnya dia bisa mengatasi perasaan berlebihannya itu. Lagipula dia bisa makan kapan saja saat aku tidak di rumah.
“Apa mungkin Mbak Sri memikirkan hal lain?” tanya Nuri tiba-tiba.
‘Memikirkan apa? Apa dia cerita sesuatu?”
Nuri diam sejenak, memandangi jalanan sore hari yang ramai. Liburan begini Jakarta sebenarnya sangat menyebalkan. Kemacetan akan membuat tulang punggungku terasa remuk saat menyetir. Biasanya, istriku akan memijatku saat punggungku seperti ini dan aku akan mengomel seharian. Tetapi demi mengantar adik-adikku, aku tidak akan mengomel meski punggungku terasa remuk.
“Kalau memikirkan anak-anak sepertinya tidak. Mereka sudah tinggal sendiri-sendiri, bekerja mapan dan punya calon. Hanya menunggu tanggal pernikahan saja. Bulan juga segera lamaran,” jawabku.
“Atau ada orang lain?” tanya Nuri terdengar aneh di telingaku.
Orang lain? Aku benar-benar kebingungan mendengar pertanyaan Nuri. Aku jelas tidak pernah membayangkan wanita lain hadir dalam kepalaku selain istriku. Tetapi, apa istriku juga begitu? Aku melihat bayangan wajahku di kaca depan. Seluruh rambutku beruban dan botak bagian tengah. Wajahku sudah berkerut begitu tua dan mataku tidak bisa melhat lagi tanpa kacamata plus. Aku kemudian membayangkan wajah istriku. Ia setahun lebih muda dariku meskipun kami satu tingkat saat sekolah. Kurasa dia juga menua sepertiku. Rambutnya sudah putih semua, wajahnya melorot, dan tubuhnya mengurus. Tidak ada sisa-sisa kemudaan kami saat ini.
“Bisa jadi ada orang lain di masa muda dulu yang datang. Dia berbeda dari Mas dan menjadi tantangan baru. Banyak kok, pernikahan di usia tua mendadak mengalami itu,” jelas Nuri.
“Tapi tidak mungkinlah, kurasa ada masalah lain yang aku tidak tahu. Anehnya, dia setiap hari ngotot makan kedelai rebus…”
Nuri memandangku kaget. “Bukannya Mas nggak suka makan kedelai rebus?”
“Kamu juga kan?”
“Ya, kita semua tidak suka kedelai. Bahkan anak-anak alergi kedelai,” jawab Nuri heran. “Kenapa Mbak Sri nekad makan kedelai kalau Mas nggak suka? Aku kalau suamiku tidak suka makanan tertentu tidak akan memakannya.”
Aku terdiam dan mencoba fokus memandang jalanan yang semakin ramai. Kata-kata Nuri membuatku mengingat-ingat perubahan sikap istriku akhir-akhir ini. Aku bukan orang yang peka dan teliti saat melihat sesuatu. Jadi rasanya sangat aneh membayangkan istriku kemungkinan bertemu orang di masa lalunya dan memiliki sebuah hubungan tertentu. Itu malah membuatku ingin tertawa. Tidak, itu tidak mungkin. Tidak ada peluang dia memikirkan orang lain. Mobil yang kukemudikan melaju pelan di tengah kemacetan, namun kepalaku terasa lebih cepat menjangkau istriku. Jika benar yang dikatakan Nuri, aku harus berbuat apa?
Tiba di rumah, tidak ada yang membukakan pintu garasi dan pintu rumah. Aku sudah memencet bel berkali-kali namun tidak ada yang keluar. Istriku tidak beranjak dari kamarnya untuk membukakan pintu. Aku memang membawa kunci sendiri, tetapi biasanya istriku selalu membukakan pintu pagar, garasi dan pintu depan saat aku pulang dari mana saja. Bahkan seringkali istriku memasukkan sepedaku, mencuci sepedaku setelah kugunakan seharian.
“Bu… kamu di kamar?” teriakku masih menahan diri.