Ketika aku bangun dari tidur pagi ini, Bulan sudah menyiapkan sarapanku di meja. Damar juga ada di rumah Bulan, membawakan aku jahe susu hangat yang dibelinya di perjalanan menuju rumah kakaknya. Sepertinya, mereka sudah saling mengabarkan keberadaan ibunya. Bulan tidak sedang sakit seperti yang dikatakan pada ayahnya, ia hanya malas menemani tante dan omnya jalan-jalan keliling Jakarta.
“Mereka setahun tiga kali ke rumah kita dan selalu jalan-jalan ke tempat yang sama. Aku bosan, Bu. Ayah nggak tahu aku bohong ‘kan?”
Aku tersenyum sekilas. “Itu keputusanmu, Ibu menghargainya.”
Damar menyodorkan jahe susu hangat yang ia belikan sambil memegang tanganku lembut. Anak ini selalu penuh perhatian kepadaku sejak ia kecil. Sifatnya romantis, kebalikan dari sifat ayahnya. Entah dari mana ia mendapatkan gen romantis seperti itu karena aku juga tidak romantis.
“Ibu baik-baik saja?” tanyanya sambil memeluk dan mencium pipiku.
“Baik… kalian kenapa?”
Bulan dan Damar saling pandang sekilas. Aku melihat kesedihan di mata mereka, dan mendadak merasa bersalah.
“Maafkan Ibu ya, Nak. Seharusnya Ibu bisa menahan diri…” kataku.
Awalnya, aku menduga anak-anak akan mengeluarkan kata-kata seperti Nuri, menyuruhku bersyukur atau memahami ayahnya atau kembali pada Tuhan. Tetapi, jawaban mereka di luar dugaanku.
“Ibu tidak salah apa-apa pada kami,” jawab Bulan. ‘Tidak ada yang salah, jangan menempatkan diri Ibu pada tempat yang tidak seharusnya.”
Damar kembali memeluk tubuhku erat. “Ibuku cantik, apapun keputusan Ibu, Damar dan Mbak Bulan akan mendukung. Kami percaya itu yang terbaik untuk Ibu.”
Mendengar kata-kata mereka air mataku jatuh tidak terbendung. Aku merasa sedang minum segelas air dingin yang ada di balik pintu putih dalam mimpiku. Terasa menyegarkan dan menggembirakan hingga segelas air itu mampu menghidupkan kembali sel-sel tubuhku yang telah mati.
“Seharusnya Bulan sudah dilamar, tapi karena ulah Ibu semuanya gagal,” kataku masih merasa bersalah.
“Tidak Ibu, semua pasti ada waktunya. Keputusan hidupku tidak dipengaruhi oleh kehidupan orang lain meski itu orang tuaku, jadi jangan khawatir. Begini saja, Ibu tidak usah mencari rumah lain, tinggal di sini sementara. Aku akan bilang pada Ayah,” kata Bulan.
Damar memandangku dan mengangguk-angguk. “Ibu juga bisa pindah ke rumahku kalau mau. Akum au dimasakin Ibu.”
Aku menghela napas, memandangi wajah kedua anakku yang telah dewasa itu. Rasanya aku tidak gagal mendidik mereka. Di tengah badai yang aku hadapi, mereka tegak berdiri tidak tergoyahkan, bahkan memahami keputusan orang tuanya. Mereka mandiri, penuh empati, lembut hati dan tidak terpengaruh pada sesuatu yang bukan dirinya. Air mataku mengalir, bukan karena penyesalan, tetapi karena aku merasa berhasil membesarkan anak-anakku. Suamiku memang memberikan biaya yang kami butuhkan, tetapi aku mendidik mereka setiap hari untuk menjadi seperti ini. Suamiku lebih banyak waktu untuk mendidik adik-adik dan keponakannya ketimbang anak-anaknya sendiri. Seharusnya aku bangga akan pencapaianku, meskipun aku selalu dituding istri yang tidak mampu bersyukur dan menghargai pemberian suami. Aku kemudian memutuskan tinggal di rumah Bulan untuk sementara.
“Tenangkan diri Ibu, bebaskan pikiran Ibu. Aku dan Damar mendukung Ibu.”
***
Mimpi itu datang lagi. Perjalanan panjang di gurun yang panas. Kali ini badanku lebih kuat, seolah aku telah menyiapkan diri untuk perjalanan panjang ini. Di ujung perempatan jalan, aku bertemu ayahku. Seorang lelaki yang meninggalkan keluarga demi wanita lain dan menyiksa kami habis-habisan dengan kehidupan yang miskin. Ayahku seperti menungguku di sana, ingin mengatakan sesuatu. Wajahnya tampak kuyu, sama lelahnya dengan wajah ibuku yang kutemui tempo hari.
“Ayah? Kenapa ada di sini?” tanyaku.
Ayah menghela napas, lalu mamaksakan bibirnya untuk tersenyum.
“Kenapa kamu mencari pintu itu?” tanyanya.
Aku menduga-duga kenapa ayahnya menanyakan tentang itu. Apakah ia juga akan melarangku menemukan pintu itu seperti Ibu? Orang-orang yang hidup di budaya patriarki tidak akan ada yang menyarankan wanita untuk menemukan pintu putih itu, karena menurut mereka perjalanan di gurun ini adalah takdir wanita. Takdir yang harus dijalani hingga usia kami habis. Kabar baiknya, kami baru akan menerima balasan kebaikan nanti di kehidupan setelahnya. Jadi, sekarang kami harus menjalani apa yang harus kami jalani meski sebenarnya bisa diubah jika ada kemauan.
“Aku ingin makan kedelai rebus dengan tenang, Ayah…” jawabku.
Ayah menjangkau tubuhku dan memelukku erat. Tubuh Ayah yang tinggi tegap, terasa hangat ketika bersentuhan dengan tubuhku. Aku tidak pernah dipeluk seperti ini selama ia hidup karena kami sibuk dengan kehidupan masing-masing. Aku sibuk mengurusi kesedihan ibuku dan mencari uang untuk kehidupan adik-adikku, sementara Ayah sibuk mengurus istri barunya yang selalu berulah.
“Apa Ayah akan melarangku mencari pintu itu seperti Ibu?” tanyaku.
Ayah menggeleng, tampak matanya berkaca-kaca. “Semua tergantung alasanmu, untuk apa kamu mencari pintu itu.”
“Maksud Ayah?” Aku menjadi merasa aneh dengan kata-kata Ayahku yang mendadak menjadi sangat bijaksana. Orang yang sudah menelantarkan istri dan anak-anaknya ini mendadak bijaksana ketika sudah meninggal. Apa yang terjadi dengan ayahku?