Pintu Putih

Tary Lestari
Chapter #9

Suami, Cinta Lama Datang Lagi

Saat aku tiba di rumah sakit, dua hari kemudian, Sri sudah duduk dan makan sendiri. Aku baru sempat ke rumah sakit karena harus mengurus kepulangan adik-adikku dulu. Sri mengatakan padaku bahwa penyakitnya tidak bahaya.

“Hanya butuh istirahat,” katanya.

Aku menyuruhnya pulang ke rumah karena Bulan sibuk bekerja, nanti akan merepotkan Bulan. Nuri, Sifa, Bimo dan anak-anaknya sudah pulang. Mereka tidak sempat menjenguk istriku karena terburu-buru. Istriku hanya diam, tidak menyetujui untuk pulang, namun sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Aku berharap dia membatalkan semua huru haranya itu. Mungkin hanya emosi sesaat, meski sepanjang aku hidup bersamanya dia tidak pernah bersikap seperti itu.

“Aku pulang ke rumah Bulan, besok,” jawabnya.

“Kenapa? Kamu sakit, nanti merepotkan Bulan,” kataku.

Istriku menggeleng, sorot matanya tegas dan kuat. Apakah ia benar-benar menginginkan perceraian tanpa alasan itu? Bagaimana mungkin dia menginginkan hal seperti ini di saat usia kami sudah bau tanah? Kenapa tidak dulu saat muda sekalian? Batinku kesal. Aku ini kurang apa sebagai suami sehingga dia mencampakkanku seperti ini. Aku memandangnya tajam, tetapi dia mengalihkan matanya dari mataku.

“Apa tidak apa yang bisa kita bicarakan baik-baik? Bagaimana kamu akan mengatakan pada pengadilan bahwa alasanmu bercerai ingin makan kedelai rebus? Itu alasan konyol dan tidak masuk akal,” kataku.

“Tidak masuk akal bagimu, tapi bagiku masuk akal.”

Aku menghela napas, betapa susahnya bicara dengan Sri akhir-akhir ini. Semua cara berpikirku ditentang seolah ia ingin melawanku. Aku semakin kehilangan harga diriku di depannya sehingga membuatku marah. Aku juga lelah dan sakit kalau dipikirkan. Tapi malah dia yang berada di rumah sakit setelah minggat dari rumah dan tidak mau mengurus tamu-tamunya.

“Aku akan tinggal di rumah lain jika merepotkan Bulan. Lagipula aku tidak ingin merepotkan siapapun saat ini,” katanya lagi.

Bibirnya yang pucat itu nyaris membiru, dan badannya tampak lemah. Setiap bergerak ia memegang perutnya, tetapi aku tidak ingin menanyakan penyakit apa yang ia derita. Toh, ia sudah mengatakan bahwa penyakitnya tidak bahaya. Ia hanya perlu istirahat, jadi aku tidak perlu berlebihan bertanya-tanya soal penyakitnya.

Sri sejak SMA adalah Sri yang kuat lahir batin, tidak merepotkan orang lain, mudah berteman dan lebih banyak membantu orang lain. Hidup bersamaku, ia nyaris mengerjakan semuanya sendiri tanpa pembantu dan aku jadi terbiasa menyakini bahwa ia seorang wanita yang kuat. Aku yakin dia mampu menghadapi apapun itu dan aku tidak perlu ikut campur. Kecuali masalah keuangan yang memang menjadi tanggung jawabku.

“Tapi kamu merepotkanku kalau tidak pulang ke rumah…” kataku mencari alasan lain.

“Memangnya kenapa aku merepotkanmu?”

“Aku akan bolak-balik ke rumah Bulan untuk menengokmu,” kataku asal ngomong karena tidak menemukan alasan yang tepat.

“Tidak usah, kita perlu proses enam bulan sebelum pengajuan gugat cerai, jadi jangan tengok-tengok aku,” jawabnya yakin dan terdengar ketus.

Aku bangkit dari dudukku lalu meninggalkan ruangan rawat inap. Istriku tidak memanggilku sama sekali. Bahkan dalam keadaan sakit, ia tidak mengubah pendiriannya. Harga diriku lenyap seketika. Aku menahan kemarahanku yang memuncak dengan duduk di bangku taman rumah sakit. Bayangan masa muda kami melintas cepat di mataku. Aku merasa terhina dan terbuang. Ia memang tidak pernah mencintaiku sejak dulu. Ia menikahiku karena ingin melarikan diri dari masalahnya. Tetapi, aku mencintainya terlalu dalam. Aku ingin mengikatnya dengan cara apapun agar ia tetap ada di sampingku. Berbagai cara aku lakukan untuk menahannya, tetapi kini semua itu terasa sia-sia. Apa sebenarnya yang terjadi pada Sri?

“Bram akuntansi?” sebuah suara mengagetkanku.

Aku terkejut dan mencari datangnya suaru. Seorang lelaki seusiaku, mengenakan kacamata dengan dandanan rapi dan modern berdiri di depanku. Rambutnya masih banyak meski sudah memutih. Kacamatanya model masa kini dan tampak tepat ia kenakan. Siapa lelaki ini? Aku tidak mengingatnya lagi.

“Aku Hari, teman satu kampus dulu. Masa lupa?” katanya.

Bayangan masa lalu melintas di kepalaku. Hari Riadi. Ketua Himpunan Mahasiswa kampus yang tampan, cakap dan dikagumi banyak mahasiswi. Ia jurusan Teknik Elektro yang membuatnya tampak semakin macho. Sri sempat dekat dengan Hari ketika aku masih mengejarnya. Tetapi sepertinya mereka tidak berhubungan lebih jauh karena Hari malah berpacaran dengan adik tingkatnya. Ada desir cemburu di dadaku ketika membayangkan bahwa Sri pernah mencintainya.

“Hari Riadi anak elektro?” tanyaku.

Hari mengangguk lalu memandang sekeliling.

“Sudah lama sekali ya Bram kita tidak bertemu… sudah sama sama tua…” katanya.

Aku tersenyum. “Ya, anakku sudah hampir menikah dua-duanya. Kamu bagaimana?”

“Aku malah belum menikah. Jodohku belum kutemukan.”

Aku terkejut dan entah kenapa dadaku berdebar lebih kencang. Tangannya memegang buket bunga, lalu bingkisan seperti kado berwarna krem lembut. Aku menghibur hatiku sendiri yang bergejolak, mungkin ia ingin menengok keluarganya.

“Apa ada keluarga yang sakit?” tanyaku tidak tahan lagi menahan penasaran.

Lihat selengkapnya