Pintu Putih

Tary Lestari
Chapter #10

Istri, Rumah Mungil di Bawah Bukit

Pagi yang lain ketika terbangun, aku sudah berada di rumah Bulan. Aku memandang sekeliling yang kosong, namun terasa menenangkan. Badanku memang masih lemah, tetapi aku tidak banyak merasakan kesedihan lagi. Aku menyembunyikan semua surat dokter dan keputusan-keputusan tentang penyakitku dari Bulan dan Damar. Mereka tidak harus sibuk mengurusi lansia ini lagi. Aku bisa menghadapinya sendiri.

“Ibu ingin melakukan apa hari ini?” tanya Bulan masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi makanan sarapan.

“Wah, tidak usahlah kamu sibuk jadi suster Ibu. Nanti Ibu ke dapur ambil makanan sendiri,” jawabku.

Bulan tersenyum, ia mengambilkan makanan ke dekatku.

“Mau Bulan suapin? Seperti Ibu menyuapi Bulan waktu kecil dulu?” tanya Bulan sambil tertawa.

Aku memandangi wajahnya yang putih dan lembut. Anak ini memang kuat sekali. Melihat Ibunya mengajukan gugatan cerai, ia berusaha tetap dewasa menghadapinya. Ia penuh perhatian, namun tidak mengadili ibunya. Semoga ia nanti menjalani kehidupan pernikahan yang lebih baik dariku.

“Ibu mau mandi dulu, baru makan. Masak habis bangun langsung makan…” kataku pura-pura kesal.

“Oke, kalau begitu Bulan ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa ibu telepon ya…” katanya.

Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar kamar. Begitu ia pergi bersama mobilnya, aku segera mandi dan sarapan. Sebagian obat kanker yang diberikan dokter aku sembunyikan dari Bulan, sehingga ia hanya mengetahui obatku kebanyakan hanya vitamin. Hari ini apa yang akan kulakukan? Pertanyaan Bulan mengusikku, ketika tiba-tiba pesan Hari masuk di handphoneku. 

“Ini daftar rumah yang kamu cari…” katanya lewat pesan handphone.

Aku tidak segera membalas, namun melihat daftar rumah itu. Aku memang ingin pindah dari rumah Bulan, dan menjalani kehidupanku sendiri. Aku hanya tidak ingin anak-anakku tahu bahwa aku sakit kanker. Saat di rumah sakit, aku sempat cerita pada Hari kalau sedang mencari rumah kecil di atas bukit, mungkin di daerah Bogor atau pinggiran Jakarta yang lain yang udaranya masih sejuk. Tabungan emasku hasil menulis di berbagai media berkembang ketika kubelikan saham, jadi itu bukan uang Bram. Hari berjanji akan membantuku dalam waktu dekat karena kebetulan dia pernah bekerja di bidang properti.

“Rumah kayu itu sepertinya menarik, aku akan lihat hari ini…” jawabku melalui pesan juga.

Teleponku berdering, dan aku mengangkatnya. Suara Hari tampak ceria di seberang sana. Dia selalu begitu sejak kuliah, tidak berubah.

“Kamu memang nggak berubah Sri. Pilihanmu itu tepat dan sesuai karaktermu. Rumah di atas bukit, pemandangan indah dan jauh dari keramaian. Pasti kamu suka hal seperti itu karena tidak banyak memikirkan orang lain. Iya ‘kan?” tanyanya.

Aku ikut tertawa, entah kenapa aku tertawa. Mungkin karena merasa senang masih ada orang yang mengenaliku sebagai aku di masa lalu, bukan aku yang sekarang. Jika Hari tahu siapa diriku yang sekarang, mungkin dia akan jijik melihatku. Bagaimana tidak? Aku bukanlah Sri waktu kuliah yang pemberani, penyendiri dan sekaligus peduli sama orang lain. Sekarang aku seorang Sri yang penurut, hanya menjalani kemauan orang lain bahkan dalam urusan makan. Itu benar-benar bukan aku yang dulu. Bahkan, aku yang sekarang terasa mengagumi diriku yang dulu meski miskin dan hidup dalam badai yang berat. Sekarang aku merasa kosong dan bukan diriku sendiri.

“Mau kuantar? Kamu belum begitu sehat ‘kan?” tanyanya.

“Oh nggak, aku bisa naik kendaraan online saja. Kamu kenal pemiliknya?”

“Ya, aku kenal. Begini saja, aku telpon dia, kalau dia ada di sana kamu bisa kesana, kalau tidak jangan berangkat,” kata Hari.

Aku mengangguk lalu telepon kami terputus. Sejak kuliah, berbicara dengan Hari menjadi hal yang sangat mudah bagiku. Dia seperti memahami jalan pikiranku tanpa aku harus bicara apapun. Bahkan ketika kami bertemu lagi tanpa sengaja di supermarket setahun yang lalu, semuanya masih sama. Ia tidak menjadi Hari yang lain. Ketika teman-teman kuliahku telah habis, mendadak ia kembali ke lingkaranku, membawaku kembali ke masa diriku sendiri sebelum menikah.

Tidak lama pesan Hari kembali masuk dan dia mengatakan bahwa orang yang memiliki rumah ada di sana. Aku segera bersiap-siap. Kubawa semua obat yang kuperlukan di jalan karena Jakarta Bogor lumayan memakan waktu. Aku tidak mau kumat di jalan tanpa persiapan. Setelah beres, aku memesan mobil online. Rasanya senang sekali bisa mengatur hidupku ini, meski hanya memesan mobil dan memutuskan untuk membeli sebuah rumah kecil dari uang tabunganku. Aku merasa seperti diriku sendiri yang hilang.

Mobil online yang kutumpangi melesat di jalanan. Tidak ada pesan atau telepon dari Bram. Aku hanya memikirkan sekilas, mungkin ia menduga bahwa terjadi sesuatu antara aku dan Hari seperti waktu kuliah dulu. Aku melihat sorot matanya di rumah sakit kemarin. Aku mengenal Bram secara utuh sehingga aku tahu perubahan-perubahan sikapnya saat ia marah atau kecewa.

“Apalagi yang kamu cari di usia setua ini?” pertanyaan itu kembali terngiang di telingaku.

“Aku cuma ingin makan kedelai rebus…” jawabku.

Dan jawaban itu sampai kapanpun akan tetap sama. Ini bukan tentang yang lain, meskipun mungkin Bram tidak akan memercayainya. Ia selalu menuntut aku menjadi dirinya, dan aku tidak bisa lagi. Aku tidak bisa menjadi dirinya dalam cangkangku sendiri.

“Itu rumahnya Bu, sepertinya Ibu harus naik ke atas bukit sedikit,” kata sopir.

“Ya Pak, tolong tunggu di sini, saya tidak lama. Daripada saya cari mobil lain untuk pulang,” kataku.

Sopir itu mengangguk dan aku segera turun dari mobil. Perlahan aku naik ke atas bukit, terasa berat tanjakan itu untuk orang yang baru saja dirawat di rumah sakit, namun aku memaksanya naik. Kepalaku mulai terasa pusing dan perutku melilit nyeri. Aku berhenti sejenak dan mengambil air putih yang ada di tas. Mataku agak kabur, tetapi aku tidak memedulikannya dan kembali naik ke atas.

Lihat selengkapnya