Apa yang enak dari kedelai rebus?
Sejak kecil keluargaku tidak menyukai kedelai karena aromanya yang menurut kami aneh, dan bentuknya yang juga tidak menarik dalam pandangan mata kami. Ibu lebih banyak menyediakan singkong rebus, ubi bakar atau jenang yang terbuat dari beras. Kami terbiasa makan langsung kenyang, bukan makanan yang hanya memanjakan gigi namun tidak mengenyangkan.
“Cobain Bram, ini kedelai Jepang, jadi lebih enak…” kata temanku bersepeda saat rombongan kami mampir di rumahnya.
Sebenarnya bukan karena tidak suka, tetapi sejak kecil aku memang belum pernah mencoba makan kedelai rebus. Entah bagaimana rasanya, tetapi waktu kecil Ibu selalu menyingkirkan makanan itu karena Ibu tidak menyukainya. Jadi itu keputusan Ibu, bukan keputusan anak-anaknya. Kebetulan keponakan-keponakanku juga alergi kedelai. Aku menjulurkan tangan untuk mengambil satu kedelai rebus dan mengupasnya. Aku memakannya dan mulai merasakan biji kedelai yang empuk, sekaligus gurih memenuhi lidahku. Ternyata rasanya enak, hanya memang aku tidak akan betah makan beginian setiap hari. Batinku masih menolak.
“Kamu tidak pernah makan kedelai rebus, Bram?” tanya temanku lagi.
“Istriku yang suka ini, aku biasa saja,” jawabku setengah berbohong.
Ketika pulang ke rumah dan melewati pasar, aku berhenti. Entah pemikiran dari mana yang membuatku ingin membeli seikat kedelai itu. Mungkin karena ada rasa penasaran di dalamnya, atau perasaan tidak mau kalah bahwa Hari bisa lebih mengerti makanan yang disukai istriku ketimbang aku sendiri.
Hampir jam sepuluh pagi ketika aku tiba di rumah dengan suasana yang sepi dan berantakan. Biasanya setiap aku pulang bersepeda sudah ada jus buah di meja, makanan kecil dan rumah yang bersih wangi. Kali ini rumah tampak berdebu, bahkan belum dibersihkan sejak adik-adikku pulang dari sini. Tidak ada jus buah di meja apalagi makanan kecil. Aku menghela napas dan mencoba menerima bahwa ini harus kuhadapi.
Kunyalakan musik jazz agar rumah tidak terlalu sepi lalu kubersihkan lantai. Butuh waktu satu jam untuk menyapu dan mengepel lantai. Setelahnya aku minum air putih dingin dan duduk di lantai memandangi hasil kerjaku. Ternyata cukup melelahkan membersihkan rumah seperti ini. Punggungku terasa pegal dan mau lepas karena mendorong-dorong gagang pel.
“Bu, jangan tidur terus, kerjamu begitu saja…” kataku suatu hari saat melihat istriku tidur di sofa ruang tengah sekitar jam 10 pagi saat aku pulang dari bersepeda.
“Aku sudah ngepel, nyapu, membereskan semua rumah dan masak… Ini istirahat bukan tidak mengerjakan apa-apa lho…” jawabnya ketus.
Kenapa baru sekarang aku mengerti kalau membersihkan rumah itu ternyata sangat menguras energi? Kami memutuskan tidak memakai pembantu sejak anak-anak pindah rumah karena memang kesulitan juga mencari pembantu yang cocok. Lagipula kami cuma berdua. Tetapi membersihkan rumah dua lantai dengan melayani semua keperluanku kurasa istriku memang kuwalahan meskipun bukan itu alasan utama ia meminta cerai.
Aku bangkit dari dudukku di lantai dan menuju dapur. Sebenarnya aku sudah makan bersama teman-teman, tapi aku harus menyiapkan makan siangku. Aku tidak begitu suka beli makan di luar dengan alasan kesehatan maka aku mencoba memasak sendiri. Pertama aku membuat kopiku sendiri, menanak nasi untukku sendiri dan membuat sayur bening. Awalnya seperti permainan, tetapi ketika adzan dhuhur belum selesai juga, aku baru merasa bahwa ini tidak mudah dikerjakan.
“Ayah di rumah?” sebuah suara memasuki rumah.
Aku melongok ke depan dengan wajah berkeringat dan tangan penuh sabun cuci piring. Damar membawa makanan dalam kotak dan menertawakanku. Ada perasaan nyeri di dadaku melihat Damar tertawa, tatapi aku mencoba ikut tertawa. Kenapa anak-anakku justru menertawakan kondisiku sekarang?
“Ayah lagi ngapain? Belepotan begitu?” tanya Damar.
“Masak… kamu bawa makanan?” aku balik bertanya.
“Matikan kompornya Yah, ayo kita makan bersama. Aku kerja dari rumah hari ini jadi habis makan siang aku lanjut kerja dari sini saja…” katanya santai.
Damar mengeluarkan makanan kotak yang semuanya berisi makanan kesukaanku. Ia mengatakan membelikan makanan itu dalam perjalanan ke sini. Aku belum mandi ketika mulai makan bersama Damar. Ketika mengunyah makanan itu tiba-tiba air mataku menitik. Air mata yang tidak pernah dilihat Damar sepanjang hidupnya.
“Ayah kenapa? Makanannya nggak enak?” tanya Damar khawatir.
Aku menggeleng. ‘Tidak apa-apa. Terima kasih ya, Nak… kamu masih peduli sama Ayah…” lanjutku seperti anak kecil yang mendadak minta perhatian lebih.
Damar tersenyum dan menepuk lenganku. “Apapun yang terjadi, Ayah dan Ibu tetap akan kuperhatikan, karena aku dan Mbak Bulan sangat menyayangi kalian.”
“Ah, kamu memang pandai merayu… entah siapa yang kamu tiru itu…” kataku mengusap air mata sambi tersenyum.
Kami meneruskan makan dan Damar tampak berusaha keras menghiburku. Anak laki-lakiku memang lembut, peka dan perasa. Kebalikan dengan Bulan yang justru cuek dan hanya mengatakan hal-hal yang penting saja. Damar seperti ibunya, sementara Bulan seperti aku. Sebenarnya aku ingin menanyakan pendapat Damar tentang keputusan ibunya, tetapi sepertinya anak-anakku menyerahkan semuanya pada kami. Mereka tidak mau ikut campur urusan orang tuanya.
“Ayah merebus sesuatu?” tanya Damar ketika membuang sampah di dapur.