Aku kembali ke ruangan di balik pintu putih itu. Sudah kucoba membuka pintu putih tempatku masuk, tetapi terkunci. Aku terjebak di dalam ruangan yang keseluruhannya juga berwarna putih. Namun, aku tidak merasakan ketakutan atau kepanikan. Justru aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dalam hidupku. Ruangan seperti apa sebenarnya yang kumasuki ini? Ibu mengingatkan aku agar tidak memasuki pintu ini karena wanita kodratnya tidak berada di sini. Tetapi, ayahku justru memberiku pilihan antara memasuki ruangan ini atau tetap berada di gurun. Aku bangkit dari dudukku di sudut ruangan dekat meja yang berisi segelas air putih dan sepiring kedelai rebus, lalu memeriksa berkeliling.
Ruangan putih ini memiliki banyak ruang-ruang kecil seperti kamar-kamar. Desainnya sederhana saja, namun bunga-bunga berwarna lembut dan hiasan-hiasan di dinding berupa lukisan alam membuat hatiku terasa sejuk. Aku berjalan menuju ruangan pertama dan membuka pintunya. Ruangan pertama ini seperti kamarku saat aku masih duduk di bangku SMA. Sempit, dengan lemari terlalu besar memenuhi ruangan dan meja kursi kecil untuk belajar. Aku melihat diriku sendiri sedang belajar di sana, sementara di luar suara Ibu dan Ayahku bertengkar hebat. Kedua adikku masuk ke dalam kamar ketakutan, memelukku erat. Aku menenangkan kedua adikkku lalu menyuruhnya tidur di kamarku. Begitu mereka tidur, aku kembali melanjutkan belajar hingga aku sendiri tertidur di meja belajar.
Aku menutup pintu ruangan yang berisi aku semasa gadis itu, lalu beranjak ke ruangan lainnya. Ketika membuka pintu itu, aku menemukan diriku baru saja menikah dengan Bram, seorang pengantin baru. Aku memiliki banyak harapan, wajahku bersinar cerah dan aku sibuk merencanakan masa depan dengan Bram. Di sana, aku melihat sorot mata Bram yang selalu khawatir dan tidak percaya padaku. Sorot mata yang tidak pernah kuketahui selama pernikahan kami. Tetapi setiap aku masuk dalam pelukannya yang hangat, sorot khawatir di mata Bram itu menghilang. Aku tersenyum membayangkan masa itu, masa yang indah karena banyak harapan menata masa depan.
Di ruangan ketiga, aku bertemu diriku saat memiliki dua anak kecil. Aku sibuk mengurus anak-anak hingga berdandan saja tidak kulakukan. Bram sibuk bekerja dan mengejar jabatan sementara aku di rumah mulai bosan. Aku mencoba mengisi waktu luangku dengan menulis, tetapi Bram tidak pernah menyukai apapun yang kulakukan. Bram juga mulai membatasi kesenangan-kesenanganku sejak tulisanku banyak dimuat media. Ia mengatakan bahwa semua itu ia lakukan karena mencintai aku, tetapi semakin lama aku semakin tidak memahami bentuk cinta yang dimiliki Bram.
Aku melihat diriku sendiri sedang menangis di pojok ruangan keempat sambil mendekap piring berisi sebutir kedelai rebus. Tubuhku kurus, pakaianku tidak karuan dan wajahku kotor. Aku benar-benar tidak terawat. Aku terus menangis seolah kehilangan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apa yang hilang dari diriku. Lalu, di kamar kelima aku menemukan diriku sedang menulis di depan laptop. Anak-anak sudah besar dan mandiri, sementara aku mulai melakukan sesuatu untuk diriku sendiri. Tetapi, Bram selalu menganggu kegiatanku dengan menyuruh untuk melayani ini dan itu. Aku menutup laptop dengan kesal lalu sibuk mengurusi keperluan Bram. Aku beranjak ke kamar ke enam, dan melihat diriku sudah tua. Duduk sendirian di pembaringan sambil melamun. Tidak ada apapun atau siapapun di dekatku, aku hanya sendirian bersama diriku yang penuh penyesalan.
Aku menutup pintu kamar ke enam dan merasakan kesedihan yang mendalam. Selama hidupku aku nyaris hidup untuk orang lain dan tidak menyisakan apapun untuk diriku sendiri. Sekarang usiaku hampir habis dan aku belum juga meluangkan waktu untuk diriku sendiri berbahagia. Aku anak sulung yang dibentuk orangtuaku untuk mengurus adik-adikku, mendahulukan mereka, memedulikan perasaan mereka, tetapi tidak pernah diajarkan untuk memedulikan diriku sendiri. Setelah menikah dengan Bram, ia juga membentukku menjadi orang yang hanya memedulikan orang lain. Bahkan dalam pengaruh Bram, aku benar-benar kehilangan diriku yang dulu. Jika sebelum menikah aku masih sanggup memutuskan keinginanku, setelah menikah semuanya berubah. Aku menjadi orang lain.
“Sekaranglah saatnya untuk mengembalikan dirimu yang hilang, sebelum waktumu benar-benar habis dan kamu kehilangan dirimu selamanya…” bisik suara yang sebenarnya dari dalam diriku sendiri itu.
Aku menghela napas berat. Ketika memandang ke sisi lain, aku menyadari ada ruangan ketujuh yang belum kubuka. Maka, aku berjalan ke sana untuk melihat isinya. Ruangan itu tampak minimalis, seperti kamarku di rumah. Namun ada meja, kursi dan lampu baca yang sedang menyala. Aku berjalan memasuki ruangan itu dan menemukan kertas serta pena di atas meja. Sepiring kedelai rebus dan segelas air putih dingin.
Aku menarik kursi dan duduk di sana menghadap kertas dan pena. Aroma kedelai rebus hangat membuat selera makanku naik, tetapi aku menahan diri untuk mengambil kedelai rebus itu sekarang. Tiba-tiba seorang wanita tua masuk ke dalam kamar. Awalnya aku mengira itu ibuku, tetapi begitu aku perhatikan lebih teliti, ia adalah aku sendiri yang sudah sangat tua seperti di ruangan sebelumnya.
“Kamu terlambat,” kata diriku yang tua itu.
‘Terlambat apa?” Aku balas bertanya.
Wanita tua itu hanya diam sambil menunjuk kertas di meja. Kertas kosong di meja itu sekarang ada tulisannya, “Apa yang kamu inginkan?”
“Apa yang kamu inginkan?” tanya wanita tua itu. ‘Tulislah di sana.”
Aku mengambil pena di sebelah kertas lalu hendak menuliskan jawaban. Apa yang aku inginkan? Apa kira-kira? Ternyata aku bingung hendak menjawab pertanyaan ini. Apakah aku menginginkan suamiku kembali? Bukan itu. Aku ingin anak-anakku kembali sepeti kecil dulu? Tentu bukan itu. Aku ingin kembali ke rumahku? Tidak mungkin. Apakah aku menginginkan Hari? Seseorang yang sepanjang hidupku sanggup memahamiku? Aku menggeleng kecil. Itu bukan jawaban yang adil.
Lalu, aku menulis di kertas itu, “Aku ingin diriku sendiri.”
Begitu aku selesai menuliskan jawaban itu, seluruh rumah putih itu bergetar hebat seolah sedang terjadi gempa bumi yang dahsyat. Dindingnya mulai retak, lantainya yang putih berkilau juga retak. Dari dalam lantai yang retak itu muncul tanaman kedelai yang awalnya bertunas kecil lalu membesar memenuhi ruangan. Aku mundur ke belakang, kebingungan melihat semua yang terjadi dengan cepat di depanku.
“Kamu sekarang boleh pulang,” kata wanita tua itu.
“Pulang kemana?” tanyaku masih kebingungan.
“Ke mana pun yang sudah kamu pilih.”