Aku tidak berhasi membawa Sri pulang. Tetapi, kegagalan itu justru membuatku banyak merenung bahwa tidak semua hal yang kuinginkan tentang Sri akan terwujud meskipun aku telah bersamanya selama tigapuluh tahun. Obsesi untuk menakhlukkan dan menguasainya perlahan mulai meredup, berganti penyesalan-penyesalan atas semua kebodohan itu. Dan tentang cinta, bagaimana mungkin aku menyangsikan cinta Sri dan menuduhnya hanya menjadikanku alat untuk keluar dari masalahnya setelah ia menerima pinanganku? Aku malu mengartikan cinta seperti cinta yang dimiliki anak-anak remaja yang kemilau tanpa beban masalah. Maka, siang ini aku menemui Hari untuk memperkecil penyesalanku atas tuduhan-tuduhan tak berdasar itu.
“Bram? Bagaimana kamu bisa sampai rumahku?” tanya Hari terkejut ketika membukakan pintu untukku.
Aku memandang sekeliling, rumah mungil Hari tampak mirip dengan rumah Sri di atas bukit. Lokasinya memang tidak begitu jauh dari bukit itu dan mereka memiliki banyak kesamaan sejak kuliah. Hari mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya yang tertata rapi, tetapi aku memilih duduk di teras sambil memandangi sayur-sayuran yang menghijau di halaman.
“Aku minta maaf atas semuanya,” kataku sambil menunduk.
Dulu, aku tidak pernah akan melakukan ini karena harga diriku terlalu tinggi, apalagi harus datang ke rumah Hari. Tetapi kini, aku sanggup melakukannya dan aku merasa lega.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan Bram. Kamu seorang suami, wajar melakuka itu…”
“Aku jadi sangat gegabah menuduh orang lain…”kataku lagi.
‘Sudahlah, jangan dipikirkan. Oh, kamu mau kopi enak? Tunggu sebentar…” kata Hari sambil melesat ke dalam rumah tanpa menunggu reaksiku.
Hari kembali membawa dua gelas kopi panas dan makanan kecil. Ia tinggal sendirian dan melajang, tentu ia mengurus dirinya sendiri dan memasak makanannya sendiri. Aku tersenyum getir, mengingat aku juga akan menjalani ini di sisa hidupku. Hari mempersilakan aku mencoba kopiku, dan kopi buatannya sangat enak. Aku merasa tubuhku bergelenyar terbangun setelah kopi menyentuh lambungku.
“Aku ingin tahu bagaimana kamu bisa memahami Sri,” kataku kemudian.
Hari berhenti meminum kopinya lalu mengeryit. “ Memahami yang mana?”
Sejenak aku kebingungan untuk menjelaskan. Betapa aneh rasanya hidup bersama selama tigapuluh tahun tapi tidak memahami orang yang kita nikahi. Hari menunggu jawabanku, tetapi aku tidak bisa mengatakan apapun.
“Aku hanya temannya sejak dulu hingga sekarang. Pasti kamu lebih bisa memahami dia ketimbang aku. Bagiku, Sri itu bukan sesuatu yang harus dipahami seluruhnya. Kadang ia hanya perlu didengarkan dan diberi ruang untuk keputusan-keputusannya sendiri,” jawab Hari kemudian.
“Ya, itulah seharusnya yang kulakukan. Sekarang sepertinya sudah terlambat. Sebesar apapun aku membuktikan padanya bahwa aku bisa berubah, mungkin ia tidak akan kembali padaku…” kataku sedih.
Hari menepuk bahuku lembut. “Kita hargai semua keputusannya. Kita toh, masih bisa menjadi temannya. Dan sepertinya justru itu yang kita butuhkan dimasa-masa tua ini. Seorang temen, atau malah banyak teman.”
Aku menghela napas dan menundukkan pandanganku hingga air mataku tak terasa menetes di meja. Hari merengkuh bahuku dan kembali menepuk-nepukku. Kata-kata bahwa aku akan menjadi teman Sri sangat tidak masuk akal bagiku, apalagi jika mengingat dulu aku mengejarnya selama belasan tahun. Tetapi, dalam hidup seringkali kita dipaksa untuk menerima apa yang tidak kita sukai.
***
Pulang dari rumah Hari, dadaku lebih ringan karena telah meminta maaf pada orang yang kutuduh macam-macam. Sekarang aku yakin bahwa mereka memang hanya berteman sejak dulu hingga sekarang. Gosip di kampus dulu muncul pasti karena kecocokan mereka pada banyak hal dan kedekatan mereka yang terasa menyenangkan untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Aku sudah membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam. Akhir-akhir ini aku mulai bisa menikmati kegiatan rumah tangga yang dulu kuanggap remeh dan tak berkelas di banding pekerjaanku di kantor. Aku juga mulai bisa menghargai bahwa semua kegiatan rumah tangga itu tidak mudah untuk dikerjakan. Sekarang aku sanggup melihat itu dengan penuh penghormatan. Aku menaruh sepiring kedelai rebus di meja ruang tengah ketika bel pintu berbunyi.