Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #1

Kami

KAMI

Di perempatan jalan yang sudah tak ramai, Bagas dengan motor hitamnya berhenti menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Matanya menatap keujung jalan dengan tatapan kosong. Namun, sekelebat cahaya yang muncul di tengah kegelapan malam, mengganggu pandangannya.

Beberapa pria dewasa tampak berkumpul di samping sebuah mobil. Kemudian salah seorang pria masuk ke dalam mobil melalui pintu yang telah terbuka, Bagas mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba pupil matanya membesar, ia tampak terkejut seolah sosok pria itu tak asing baginya. Setelah dua orang pria bertubuh besar masuk, mobil itu bergerak pergi meninggalkan tempat itu.

Lampu berubah menjadi hijau, dengan seketika motor hitam itu berusaha mengejar bayangan mobil yang telah hilang. Bagas menaikkan laju motornya. Saat bayangan itu membesar dan mobil itu terlihat kembali dipandangannya, ia menurunkan kecepatan motornya berusaha tak menimbulkan perhatian.

#

Mobil itu berhenti tepat di depan ruko usang, Bagas memarkirkan motornya agak jauh dari sana. Dilihatnya kembali pria yang tak asing baginya itu turun, diikuti seorang pria bertubuh kurus yang diseret oleh dua orang pria bertubuh besar. Mereka semua berjalan memutari ruko, Bagas pun mengikuti mereka. Di belakang ruko, terlihat sebuah bangunan setengah jadi. Di sana beberapa pria dewasa tampak sudah menunggu.

Tuh orang mau ngapain? Batinnya ketika pria yang tak asing baginya, duduk di satu-satunya kursi yang ada di sana.

"Guntur!!" Pria itu, melihat pria bertubuh kurus yang bersimpuh dihadapannya dengan tatapan penuh amarah. "Kamu makin nggak tahu diri ya sekarang!" Ia kemudian memandang pria lain di sekitarnya. "Ikat dia!"

Seperti mendapat komando para pria itu bergegas mengikat pria bertubuh kurus secara paksa.

Bukk! Sebuah pukulan keras berhasil mendarat di rahang pria bertubuh kurus, ia berusaha menunduk meski pria di depannya mengangkat dagunya ke atas. "Saya biasanya nggak pernah turun langsung," jedanya. "Beraninya kamu bawa berkas perkara!!"

Bukk! Tinju kedua berhasil mendarat di dada pria kurus tadi, sementara tangan dan kakinya diikat. "Kamu kira masalah sengketa ini udah beres?!"

Pukulan demi pukulan disaksikan Bagas, ia berusaha mendengar dengan jelas permasalahan apa yang terjadi. Namun mata dan pikirannya muak melihat sosok pria yang tak asing baginya itu, bak orang kesetanan. Ia memutar tubuh, melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

#

Motor hitam itu akhirnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Bagas membuka pagar, yang langsung menampakkan sebuah rumah tiga lantai dengan arsitektur modern minimalis. Setelah memarkirkan motornya, ia membuka pegangan pintu secara perlahan.

Hening, suasana itu selalu menyambutnya pulang.

Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya duduk di sofa sambil memejamkan mata. Wajahnya tampak tirus, dan suara hembusan napasnya terdengar lemah. Bagas mendekatinya perlahan, melihat selembar tisu yang telah mengering tergenggam erat di tangan wanita itu, ia lalu menatapnya dalam.

Orang sebrengsek itu nggak pantes ditangisin mah.


***


"Queen!" Seorang siswi SMA berlari kecil mendekati siswi yang sedang berjalan di depannya.

Queen, siswi berambut panjang itu menoleh. "Kenapa ra?"

"Nanti sore, habis pulang sekolah main yuk!" ajak siswi perempuan tadi sambil tersenyum.

Queen menatap siswi itu ragu. "Gue tanya Mamah dulu-"

"Ah, nggak perlu." Siswi perempuan itu memotong. "Nanti, lo buru-buru pulang lagi."

Queen menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian tersenyum kecut.

#

Cahaya matahari senja telah bersiap menyambut wajah-wajah lelah siswa dari dalam bangunan sekolah itu. Namun, beberapa siswi berwajah segar justru bermunculan.

"Eh," seru Queen saat melihat sebuah mobil putih terparkir di halaman sekolah. "Gue nggak jadi ikut, maaf ya," ucapnya tak enak hendak berlalu.

"Yah, Queen ..." sahutan kecewa dari teman-temannya terdengar kompak.

Ia berlari pergi meninggalkan teman-temannya menuju mobil putih itu.

Ketika pintu mobil dibuka, seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik menyambutnya hangat.

"Kamu ngapain ngumpul di situ, sayang?" tanya wanita itu lembut.

Queen membenarkan posisi duduknya. "Tadi diajak main mah," jawabnya pelan.

"Oh, mau main." Wanita itu—yang merupakan ibu Queen—membuang napas. "Semester depan kamu ujian kan? Kalau nilainya jelek dan nggak masuk universitas pilihan, apa nggak sedih?" Ia memandang Queen.

Queen menunduk, lalu melemparkan senyum tipis. "Makanya, aku nggak ikut main mah."

Ibunya Queen tersenyum, tangannya bergerak menyalakan starter mobil. "Mamah percaya kok, kamu anak yang penurut."

#

"Mah." Queen membuka percakapan tepat saat mobil berhenti di lampu merah.

Ibunya menoleh, mengisyaratkan Queen untuk melanjutkan kalimatnya.

Ia menatap ibunya ragu. "Aku ingin ke pasar malam di ujung jalan, boleh?"

Ibunya Queen menatap jalanan di depannya. "Ini udah malam sayang."

Queen terdiam, langsung paham kalau keinginannya tak sejalan dengan ibunya.

"Tapi kalau kamu mau ke sana," ucap ibunya tiba-tiba sambil menatap jam di dashboard mobil. "Lima belas menit ya?"

Queen melebarkan mata, senyum merekah di wajahnya. "Makasih banyak mah!"

#

Queen melangkahkan kakinya dengan cepat. Meski ibunya tak ikut masuk pasar malam, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan lima belas menit itu. Matanya sibuk memperhatikan setiap hal yang ada, karena itu ia hampir saja menabrak gerombolan remaja laki-laki berseragam SMA.

Langkahnya terhenti di depan sebuah kios minuman. "Mas, saya mau ..." Ia membaca daftar minuman beserta harga yang tertera di depannya. "Matcha latte satu," pesannya.

"Oke, ditunggu ya kak," sahut seorang laki-laki dari dalam kios itu.

Queen menunggu dengan sabar sambil memperhatikan setiap gerakan laki-laki itu. Namun karena mulai bosan, matanya mengamati sekitar dan berhenti pada sudut remang pasar.

Sebuah pintu berwarna putih berdiri tegak, dengan kusen yang tampak kokoh mengelilinginya. Warna kuning dari pegangan pintunya tampak berkilauan.

"Kak ini udah." Suara laki-laki dari kios minuman, membuyarkan fokus Queen.

"Ah iya, terima kasih." Queen mengambil segelas matcha latte, lalu beranjak pergi.

Tapi kok aneh ya, itu wahana apa? Pikirannya mengatakan ia harus menjawab rasa penasarannya, sedangkan langkah kakinya mengatakan ia harus segera kembali pada ibunya.

Queen melihat jam di ponselnya. "Masih ada waktu kan, ya?"

Ia memutar badannya dan berjalan mendekati pintu itu. Semakin di dekati, pintu itu semakin terang. Warna kuning dari pegangannya pun berubah menjadi keemasan.

Queen mengetuk pintu itu namun tak ada jawaban, lalu ia mengetuk lagi. Karena tetap tak ada jawaban, tangannya bergerak menggenggam pegangan pintu, menariknya ke bawah.

"Eh bisa kebuka-"

Pintu itu langsung tertutup kembali, membawa masuk Queen dan menyisakan segelas matcha latte yang terjatuh ke tanah.


***


Ting! Ting! Ting! Rentetan notifikasi ponsel sukses membangunkan Radit, remaja laki-laki yang sedang terlelap. Ia meraih ponsel yang ada di loker mejanya malas.

Abang: Bun, yah, hari ini abang izin pulang telat, mau cek lagi rakitan buat kompetisi robotik lusa.

Bunda: Iya, jangan kemalaman ya pulangnya.

Ayah: Ya, hati-hati.

"Ck." Radit berdecak kesal. Ia mematikan layar ponsel dan menyimpannya kembali, bersiap melanjutkan tidurnya.

"Woi!" Seseorang menepuk punggungnya cukup keras hingga mengeluarkan suara. "Jamkos tidur mulu lo!"

Radit menatap orang itu. "Sialan, ganggu aja lo." Ia membenamkan kembali wajahnya.

"Sore jadi nongkrong nggak lo?"

"Gas aja gue," jawab Radit setengah mengantuk.

Saat orang itu pergi, Radit meraih ponselnya kembali dan mengetik sebuah pesan.

Saya: Radit hari ini pulang telat bun, yah.

#

Lihat selengkapnya