Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #2

Prama

PRAMA

Sudah seminggu sejak ayah Prama mengalami kecelakaan kerja, ia mengalami kelumpuhan pada kakinya akibat saraf kejepit di punggungnya setelah salah mengangkat material bangunan. Kelumpuhan itu membuatnya tak bisa berjalan, sehingga ia yang dulu berperan sebagai tiang penopang keluarga, sekarang hanya bertaruh pada istrinya yang seorang buruh cuci serta Prama, anak sulungnya yang menjadi kuli angkut di pasar.

"Prama." Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Prama yang tengah sibuk menghitung lembaran uang lecek di tangannya. "Dapet berapa hari ini?"

"Empat puluh ribu bu." Prama menyerahkan uang itu pada ibunya. "Obat bapak udah di tebus bu?"

Ibunya menatap lembaran uang itu pilu. "Belum." Ia mengambil uang itu dan terdiam sejenak. "Kemarin Ibu pakai uangnya buat bayar SPP Indah, soalnya sekolahnya udah nagih."

"Oh." Prama terdiam. "Iya nggak apa-apa bu." Ia menundukkan wajahnya. Ibunya memandangnya sebentar, kemudian terdiam.

Suara dengungan nyamuk memecah keheningan yang ada. Plak! Ibunya Prama berhasil menangkap nyamuk yang sebentar lagi akan singgah di pipi Tegar, anak bungsunya yang tengah tertidur lelap. "Apa Amel berhenti aja ya?" Ibunya tiba-tiba bersuara sambil menatap dinding triplek di depannya.

"Jangan bu," ucap Prama tegas. "Ibu mau dia nasibnya-"

"Amel masih ada tiga tahun lagi, Ibu nggak tau apa uang kita bakal cukup sampai dia lulus." Tangan ibunya Prama kemudian mengelus rambut anak laki-laki yang hampir digigit nyamuk tadi. "Ibu aja nggak tau Tegar bisa sekolah apa nggak." Ia membuang napasnya.

Prama menyandarkan kepalanya ke tembok triplek, menarik napas cukup panjang lalu membuangnya. "Prama mau lanjutin kerja bapak bu." Ia menatap langit-langit rumah kecilnya itu.

"Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?" Tatapan ibunya penuh kerisauan.

"Prama kan udah biasa angkut-angkut barang bu," jelas Prama. "Ini demi Ibu, bapak, Indah, Amel sama Tegar." Ia tersenyum berusaha menenangkan ibunya.

#

Pagi hari di rumah kecil yang sudah reyot itu tampak sibuk. Indah yang sudah berseragam putih biru berlari kecil membawa tas lusuhnya keluar rumah, di sisi lain Amel sedang menalikan sepatu yang solnya sudah terkikis, lalu Prama sedang menyiapkan motor bebek tua yang siap mengantar adik-adiknya pergi, sementara itu Ibunya Prama tengah sibuk berpeluh di dapur.

Brakk! Terdengar suara orang jatuh dari dalam kamar. Ibunya Prama yang berada di dapur itu dibuat kaget karena Tegar tiba-tiba datang padanya.

"Bapak jatuh bu!" seru Tegar tergesa-gesa. Buru-buru ibunya berlari ke kamar untuk mengecek keadaan.

"Ya ampun Bapak!" Di dalam kamar, ayahnya Prama sudah tersungkur di lantai. "Udah di bilang kalau mau ke mana-mana itu panggil dulu." Ibunya mengomel sambil berusaha menggotong suaminya untuk kembali ke kasur.

"Bapak kenapa bu?!" Prama datang tergesa-gesa bersama kedua adik perempuannya.

"Kamu ke mana aja Prama?" Ibunya mengomel lagi. "Bantu Ibu angkat bapakmu." Dengan cepat Prama membantu menggotong ayahnya yang terjatuh, Indah ikut membantu di sampingnya.

"Aduh!" rintihan terdengar dari mulut ayahnya Prama.

"Pelan-pelan kak." Amel bersuara, kemudian mendekati Indah berniat membantu.

"Nggak usah mel, kalau salah pegang kasian bapak nanti sakit lagi." Cegah Indah, Amel pun menurut.

Setelah dibantu istri dan kedua anaknya, akhirnya ayah Prama bisa terbaring lagi di posisi semula. Setelah memastikan sang ayah baik-baik saja, Prama dan kedua adiknya pun berpamitan pergi.

"Prama, Ibu nggak bisa ambil cucian hari ini," ucap ibunya yang membuat Prama menghentikan langkah, ibunya kemudian beranjak mengambil sebuah kertas di atas meja. "Habis anter Indah sama Amel kamu ambil cucian di alamat ini ya."

Prama mengangguk mengerti, kemudian ia berlalu meninggalkan ibunya yang sudah sibuk kembali mengurus ayahnya.

#

"Perasaan tadi pas nganter Indah sama Amel baik-baik aja." Prama berusaha menyelah motor bebek yang sudah butut itu. Berkali-kali dia menghentakkan kaki pada tuas besi, namun motor itu tak kunjung menyala. "Bisa nggak dapet angkutan di pasar hari ini." Ia mengeluh.

Di tengah usahanya itu, ia melihat kurir paket yang sedang mengantar barang-barang dengan motor yang masih mulus, lalu lewat ojek online dengan motor yang tak kalah bagus. Harus ngumpulin berapa lama ya supaya bisa kebeli motor? Lumayan bisa jadi kurir atau ngojek, second juga nggak apa-apa. Batinnya di tengah sorotan matahari pagi.

Prap-prap-prap, akhirnya usaha Prama membuahkan hasil. Ia segera menaiki motor bebek yang sudah mengeluarkan asap tipis dari knalpotnya, ia mengambil kembali kertas di saku celananya. Membukanya dan mengingat sekali lagi alamat yang tertera di kertas itu.

#

Prama memencet bel rumah sederhana di depannya. "Permisi!" serunya.

Ia menunggu orang yang keluar sambil menatap kresek besar yang ada di motornya. "Habis ini balik dulu ke rumah, lanjut ke pasar," gumamnya.

"Loh prama?" Seorang remaja laki-laki seusia Prama muncul dari dalam rumah itu. "Ke mana aja lo?" Ia tampak kaget, begitu pun Prama.

"Em." Prama menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gue." Ia terdiam sebentar. "Nggak lanjut dim."

Dimas—remaja laki-laki itu—membelalakkan matanya tak percaya. "Seriusan pram?"

"Bapak gue habis kecelakaan." Prama mencoba menjelaskan kemudian menatap ke arah jalanan. "Ga ada duit kalau lanjut dim."

"Ah." Dimas mengangguk mencoba mengerti situasi yang dialami Prama.

"Lo sendiri kenapa nggak sekolah?" tanya Prama penasaran.

"Gue lagi nggak enak badan pram. Terus ibu gue pergi bentar, eh taunya lo dateng," jelas Dimas.

"Ini gue mau ambil cucian, kata ibu gue di sini alamatnya."

"Oh iya iya, gue inget." Dimas berlari kecil ke dalam rumahnya, kemudian kembali membawa sebuah kresek besar.

"Ini cuciannya?" tanya Prama sambil mengambil kresek yang diserahkan Dimas.

"Iya," jawab Dimas sambil memandang Prama yang beranjak mendekati motornya, kemudian menalikan dua kresek besar pada motornya. "Nggak seru nggak ada lo di kelas," ujarnya.

Prama yang telah selesai merapikan kresek itu menatap ke arahnya lalu tersenyum. "Gue balik ya dim, cepet sembuh."

Dimas hanya menatap motor bebek itu pergi menjauh meninggalkan rumahnya.

#

Prama memarkirkan motor bebeknya di sebelah kios beras. Sudah seminggu kebelakang ini ia memarkirkan motornya di situ, sekalian menunggu pembeli, yang siapa tahu membutuhkan jasa angkutnya.

"Tumben telat dek." Seorang pria paruh baya dari dalam kios beras menyambut kedatangannya. "Padahal tadi ada ibu-ibu beli beras dua karung, kalau dia liat kamu, pasti langsung minta diangkutin tiga karung ke mobilnya." Pria ia tertawa.

Prama membalasnya dengan tawa kecil. "Sayang ya pak, saya telat." Ia merapikan posisi motornya agar tidak menghalangi jalan. "Saya ke dalam dulu pak, barangkali ada yang butuh angkut barang."

"Ya, monggo." Pria paruh baya itu mempersilahkannya pergi.

Prama berjalan ke dalam pasar, matanya berkeliaran mencari pembeli yang tampak kerepotan dengan barang bawaannya. Namun ternyata situasi di dalam pasar tidak sesuai ekspektasinya, di sana sudah banyak kuli angkut yang juga sedang mengawasi calon pengguna jasa mereka. Meskipun Prama sudah menjadi kuli angkut sejak duduk di bangku kelas lima SD, ia hanya bisa bekerja sepulang sekolah dan di akhir pekan, sehingga sekarang ia kalah strategi dengan kuli angkut baru yang biasa beroperasi setiap hari di pasar.

"Eh dek Prama." Seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Prama mendekatinya. "Ke mana aja? Kok nggak pernah ke dalem?"

Prama hanya membalasnya dengan senyuman. "Di sini udah banyak kuli yang lain mbak." Prama melihat sekelilingnya. "Saya balik ke depan mbak, permisi."

"Eh, mampir dulu dong." Wanita itu menarik tangan Prama, Prama berusaha melepaskan tangannya dengan sopan.

"Maaf mbak, kalau ada yang bisa diangkut dari kios, panggil aja mbak." Prama pamit meninggalkan wanita itu yang langsung memasang muka cemberut.

Apa hari ini aja pergi ke tempat kerja bapak? Pikirnya.

#

Setelah menunggu dan menanti pembeli seharian di pasar dan hanya tiga orang yang menggunakan jasanya, Prama memutuskan pergi ke tempat kerja ayahnya dulu. Sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung di pinggir kota.

Matahari senja menyinari proyek pembangunan itu, seorang laki-laki berbadan kekar tampak sedang duduk santai mengawasi para pekerja di depannya.

Prama turun dari motor bebeknya, menghembuskan napas dan berjalan dengan penuh keyakinan mendekati pria yang tengah bersantai itu.

"Permisi pak." Kedatangan Prama cukup mengagetkan pria itu, ia mengubah posisi duduknya. "Saya anak dari Pak Iwan."

Pria itu mengamati Prama dari atas ke bawah. "Kamu mau minta kompensasi buat ayah kamu?" Ia kemudian menatap Prama malas. "Ayah kamu yang kerjanya nggak bener, kok saya yang repot."

Prama menatap pria itu—yang adalah mandor ayahnya—nanar, kemudian ia tersadar kembali akan tujuannya. "Saya mau kerja di sini pak, gantiin ayah saya."

Pria berbadan besar itu tiba-tiba tertawa keras, membuat para pekerja lain memperhatikan mereka. "Badan sekurus itu mau ngangkat sak semen seberat itu?" Ia terkekeh. "Pakai tampang kamu tuh buat cari kerja."

Prama hanya terdiam tak berekpresi melihat pria itu masih menertawakannya.

"Udah sana!" Pria itu mengusirnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya. "Ganggu aja."

Prama membuang napas kasar kemudian melangkah menjauhi tempat itu. Tatapannya kosong, ia tak tahu lagi cara mendapatkan pekerjaan.

#

Prama memarkirkan kembali motornya di pasar, namun kali ini tak di sebelah kios beras. Ia memperhatikan sekitarnya, berharap di senja ini ada yang membutuhkan jasanya. 

Lihat selengkapnya