BAGAS
"Cita-cita kamu apa?" ucap seorang anak perempuan kepada teman di sebelahnya. Tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan sedang berkumpul membuat lingkaran.
"Mm." Anak laki-laki di sebelahnya itu tampak berpikir. "Aku mau jadi tentara!"
"Kalau aku chef!" seru seorang anak perempuan.
"Aku mau jadi kayak Ayah!" sahut anak laki-laki yang lain.
"Emang ayah kamu kerja apa?" tanya Bagas kecil penasaran.
"Ayah aku keren kalau kerja," ucap anak laki-laki itu bersemangat. "Kerja hakim!"
"Yang suka mukul-mukul palu itu?" tanya anak perempuan yang ingin menjadi chef.
"Iya!" sahut anak laki-laki itu sambil mengangguk-angukkan kepalanya.
"Wah, keren ya!" balas Bagas.
"Kalau ayah kamu kerja apa?" tanya anak laki-laki itu pada Bagas.
Bagas kecil terdiam. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Ayah nggak pernah cerita."
#
Bagas kecil melangkahkah kakinya masuk ke rumah dengan arsitektur modern minimalis, kemudian ia menutup pintunya perlahan. Ia terlonjak kaget melihat ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil merapikan beberapa lembar dokumen, ayahnya menghentikan kegiatannya lalu memandangnya.
"Kok Ayah ada di rumah." Bagas menatap ayahnya kikuk.
Ayahnya tertawa kecil. "Memang Ayah nggak boleh ada di rumah?"
Bagas terdiam. "Biasanya Ayah nggak ada di rumah, kecuali kalau Bagas ke toilet malem-malem," jelasnya.
"Ada yang perlu Ayah bawa."
Bagas memegang tali tas ranselnya. "Sebenarnya Ayah kerja apa sih?" tanyanya memasang muka serius.
"Ayah kerja kan cari uang," jeda ayahnya sambil mengambil selembar kertas dari dokumen yang ia rapikan tadi. "Pulang sekolah kamu nggak ada kegiatan kan?" tanyanya mengalihkan topik.
"Nggak ada, kenapa?" tanya Bagas kecil ketus.
"Kamu ikut ini ya." Ayahnya menyerahkan selembar pamflet. "Udah Ayah daftarin."
Bagas membaca pamflet yang diberikan ayahnya, ia mengerutkan dahinya. "Les bela diri?" tanyanya bingung sambil menatap ayahnya.
Ayahnya mengangguk lalu tersenyum. "Kamu nggak boleh bolos," jedanya kemudian bangkit berdiri. "Nanti mamah yang nemenin."
"Kenapa bukan Ayah?" tanya Bagas menghentikan langkah ayahnya.
"Ayah sibuk," jawab ayahnya pergi berlalu meninggalkan Bagas kecil sendirian.
***
Bagas membuka pagar, kemudian menaiki motor hitam masuk ke sebuah rumah yang telah menemaninya selama sembilan belas tahun. Setelah memarkirkan motornya, ia berjalan menuju pintu rumah itu.
Ia masuk dan menutup pintu perlahan seperti kebiasaannya saat masih kecil. Lalu melangkah menuju ruang makan untuk menyimpan tasnya dan memakan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Laper banget gue.
"Eh," Bagas melongo, langkahnya terhenti.
Di ruang makan sudah ada seorang wanita muda yang tengah asyik menyantap makanan sambil melihat layar ponsel. Ia menyadari kehadiran Bagas, buru-buru ia membereskan makanannya.
Bagas yang melihat itu, memutar arah hendak pergi ke kamarnya. "Gue dulu-"
"Gue duluan." Wanita tadi berlalu melewati Bagas sambil membawa makanannya.
Bagas menatap punggung wanita itu menjauh. Kenapa sih selalu kayak gitu? Ia menatapnya sampai wanita tadi masuk ke salah satu kamar di rumah itu.
Bagas kemudian terduduk di salah satu kursi di meja makan, tatapannya kosong.
Sayup-sayup Bagas mendengar suara tangisan, ia menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkah menuju sumber suara.
Ia berdiri di ambang pintu kamar yang menjadi sumber suara, ia mengintip ke dalam. Tampak seorang wanita paruh baya duduk di pinggir ranjang, ia menunduk lalu menyeka air matanya, tatapannya begitu pilu.
Bagas membuka pintu yang menghalanginya perlahan. "Mah."
Wanita itu sedikit terkejut, ia menyeka air matanya dan langsung merubah raut mukanya. "Kamu baru pulang?" Ia berusaha tersenyum pada Bagas.
Bagas mengangguk. Ia menatap wanita itu penuh kekhawatiran. "Mamah nggak istirahat?"
#
Hari itu cukup terik, para mahasiswa tampak berlindung dari panasnya cahaya yang menyinari kampus siang itu. Gerombolan mahasiswa laki-laki masuk ke dalam kafetaria kampus yang sudah padat, berharap masih ada meja kosong untuk duduk dan menyantap makanan.
"Sini woi!" seru salah satu dari mereka memanggil yang lain. Ia memukul-mukul pelan meja yang kosong.
"Cukup berenam di sana?" tanya temannya sambil melihat ke arah meja itu.
Teman yang memanggil tadi melihat bangku yang ada. "Cukuplah, paling tinggal mepet-mepet," sahutnya lalu duduk sambil terkekeh.
"Malah duduk duluan lo!" protes temannya yang lain ikut duduk.
Bagas yang terlambat duduk, mau tak mau duduk di paling pinggir, tepat bersebelahan dengan mahasiswi perempuan. Sekilas ia melihat, ada seorang mahasiswa perempuan yang tampak sedang menangis.
"Siapa yang mau nasi rames?" tanya salah satu dari mereka diikuti sahutan dari yang lainnya. "Berdiri yang mau, pilih sendiri lauknya." Ia bangkit berdiri.
Tiga orang teman Bagas beranjak pergi meninggalkan meja untuk memesan makanan.
"Lo berdua mau apa?" tanya salah satu teman Bagas yang masih ada di situ.
"Nasi goreng aja gue," pesan Bagas sambil melihat gambar menu-menu di kafetaria.
"Sama gue juga," sahut temannya yang sedang asyik bermain game di ponselnya.
"Yaudah gue pesenin."
"Nih ka uangnya." Bagas menyerahkan selembar uang lima puluh ribu pada Raka—temannya yang akan memesan makanan.
Raka mengangguk menerimanya, kemudian memandang temannya yang sedang asyik main game. "Nu lo masih ada utang ke gue ya dua puluh ribu?"
"Hah emang iya?" Wisnu—temannya Bagas yang lain—mendongkakkan kepalanya.
"Nggak usah pura-pura lupa lo." Raka menatapnya kesal.
Wisnu tertawa tanpa merasa bersalah. "Nanti gue ganti ka tenang aja. Udah sa-"
"Udah lo tenang ya."
Bagas yang sedang menikmati pertengkaran kecil kedua temannya, tak sengaja mendengar suara mahasiswi perempuan di sebelahnya.
"Gue nggak nyangka aja, Papah gue bisa kayak gitu." Salah satu mahasiwi terisak.
Bagas mendengarkan mereka sambil melihat Raka yang pergi menjauh.
"Mungkin kenapa lo baru tau sekarang, supaya lo bisa fokus sama kegiatan kemarin-kemarin," ujar mahasiswi yang duduk di sebelah Bagas.
"Tapi kok bisa dia nyembunyiin itu dari gue, dari mamah." Mahasiswi tadi menaikkan volume suaranya. "Sepuluh tahun loh, sepuluh tahun!"
Wisnu yang sedang asyik bermain game merasa terganggu, diliriknya mahasiswi itu kemudian menatap Bagas seolah berkata 'kenapa tuh cewek?'. Bagas yang mengerti, hanya mengangkat kedua bahunya tak tahu. Wisnu pun kembali fokus pada ponselnya.
"Dasar Papah nggak tahu diri! Bisa-bisanya dia malah punya keluarga baru!" Bagas yang masih menguping sedikit tersentak, kemudian mengerutkan dahinya.
"Udah tenang ya." Terdengar suara mahasiswi lain menenangkan.
"Iya, kita ke tempat lain aja yuk," ajak mahasiswa yang lain.
Mereka, para mahasiswi perempuan itu pergi meninggalkan Wisnu yang masih asyik bermain game dan Bagas yang bergelut dengan pikirannya.
#
Obrolan mahasiswi di kafetaria yang tak sengaja Bagas dengar itu cukup mengganggu aktivitasnya. Sepanjang hari, ia berpikir yang tidak-tidak tentang ayahnya.
Bagas menuruni tangga menuju lantai satu, ia melihat sekelilingnya tak ada seorang pun di sana. Ia akhirnya melangkah menuju salah satu kamar dan mengetuk pintunya pelan. Namun tak kunjung ada jawaban dari dalam sana. Bagas melirik jam besar di lantai satu rumahnya itu. Harusnya udah pulang sih.
Bagas mengangkat tangannya lagi hendak mengetuk pintu, namun seorang wanita dewasa muda dengan muka yang tak senang menyambutnya. "Kenapa?" ucapnya dingin.
"Gue pengen ngobrol." Bagas merasakan kecanggungan di antara mereka.
Wanita itu menatapnya tak tertarik. "Ngobrol apa?"
"Jangan di sini, takut kedengaran mamah." Bagas menoleh ke belakangnya.