Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #4

Queen

QUEEN

Namanya Queen. Ia dilindungi bak ratu, tapi terkurung dalam kerajaannya sendiri. Itulah yang mungkin dipikirkan orang-orang ketika melihat kehidupan gadis itu. Setiap kali ia ingin melakukan sesuatu atau mencoba hal baru, ibunya selalu berkata, "Kamu itu cantik. Gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu?"

Queen adalah seorang anak tunggal yang terlahir di keluarga yang serba berkecukupan. Ia tumbuh dengan segala fasilitas dan kebutuhan materi yang tersedia untuknya. Orang tuanya selalu ada untuknya, kapan pun dan di mana pun ia berada. Di mata mereka anak semata wayangnya itu tidak boleh merasakan kesusahan.

Namun pemikiran orang tuanya itu malah menjadi boomerang sendiri untuk Queen, rasa aman berubah menjadi ketidaknyamanan. Ia yang terbiasa diawasi sejak kecil, merasa takut kalau akan melakukan sesuatu, merasa tak nyaman kalau menyimpan sesuatu. Hidupnya dipenuhi perasaan, apa boleh? Mamah papah ngizinin nggak ya?

#

Sinar matahari pagi merayap memasuki jendela kamar Queen yang cukup lebar. Barang-barang di kamar itu di tertata dengan rapi, lantainya tampak kesat, wangi dari lilin aromaterapi tercium memenuhi ruangan.

Queen duduk sambil memandang selembar kertas di tangannya, ia menghela napas. "Boleh nggak ya aku ikut?"

Kertas di genggamannya itu memiliki sebuah kop surat yang bertuliskan 'Sekolah Menengah Pertama'. Di bawah kop itu terdapat tulisan 'Kegiatan Study Tour Sekolah' yang dicetak tebal, dan di bawahnya di cantumkan tanggal dan lokasi tempat tujuan. Kertas itu sedikit lecek, tampaknya sudah diberikan beberapa hari yang lalu.

"Sayang." Seorang wanita dewasa yang memiliki paras mirip dengan Queen, muncul dari balik pintu.

Queen yang terkejut, buru-buru melipat surat itu dan menyimpannya dengan cepat di bawah ranjangnya. "I-iya mah," ucapnya kikuk.

Wanita itu—yang merupakan ibu Queen—berjalan mendekati putrinya. "Kamu kok di kamar aja?" Ia kemudian duduk. "Ada sesuatu di sekolah?"

Queen menelan ludahnya. "Nggak ada." Ia bangkit berdiri. "Aku laper mah, ayo makan." Ia meraih tangan ibunya untuk mengajaknya pergi meninggalkan kamar.

#

"Jadi lo ikut study tour nggak?" tanya seorang siswi perempuan menghampiri Queen yang sedang menulis catatan di bukunya.

"Belum tau." Mata Queen masih fokus pada kegiatannya.

Siswi perempuan tadi duduk di bangku kosong di depan Queen, ia menopang wajahnya dengan kedua lengannya. "Lo belum bilang ya?" tanyanya pelan.

Queen memandang siswi itu sebentar. "Belum." Ia kembali melihat bukunya.

"Semoga di bolehin pergi ya."

Queen membuang napas, lalu tersenyum kecut pada temannya itu. "Semoga ya."

#

Queen menarik napas panjang, lalu membuangnya. Di tangannya terdapat selembar surat yang membuatnya gelisah akhir-akhir ini. Tinggal seminggu lagi. Batinnya sambil melangkah keluar kamar.

Ia menatap ke arah depannya, ibunya sedang sibuk menyiapkan makanan sementara ayahnya tengah duduk di meja makan sambil melihat ponselnya.

"Mah, pah." Ia memandang kedua orang tuanya bergantian dengan penuh rasa cemas.

"Eh," jeda Ibunya sambil tersenyum ke arahnya. "Kenapa sayang?"

Ayahnya mengalihkan pandangan dari ponselnya, melihat ke arahnya.

"Ini ..." Queen pelan-pelan menyerahkan surat yang ia bawa pada ayahnya. "Ada surat dari sekolah."

Ia meremas lengannya, matanya tak bisa diam, memperhatikan ayahnya yang tengah membaca surat.

"Tentang apa pah?" Ibunya yang masih menyiapkan makanan dibuat penasaran.

"Ini," Ayahnya meletakkan surat yang telah terbuka itu di meja makan. "Ada study tour sekolah."

"Oh." Ibunya memperhatikan surat itu. "Minggu depan?"

Queen mengangguk pelan.

"Dadakan banget ya ngasih taunya," keluh ibunya yang telah selesai menyiapkan makanan.

Queen menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Udah lama sih mah."

"Jauh juga ya," ucap ayahnya tiba-tiba.

"Eh, ke mana itu tadi pah?" tanya ibunya.

"Malang." Ayahnya mulai mengambil makanan ke piringnya.

"Ah, jauh sayang." Ibunya menarik kursi, lalu duduk.

"Tapi ini kan kegiatan sekolah," protes Queen dengan lemah.

Ibunya mengambil piring. "Nanti pas SMA kamu ikut study tour-nya ya." Piring itu ia serahkan pada Queen. "Kalau sekarang, Mamah sama papah masih takut kamu pergi jauh."


***


Queen telah memasuki dunia SMA dan tepat di hari itu, untuk pertama kalinya Queen diizinkan untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sedari pagi, ia tak bisa melepaskan senyum dari wajahnya, bahkan ia sudah menyiapkan baju yang akan ia kenakan di sore hari nanti.

Queen yang sudah tak sabar, melirik ponselnya dan membaca sebuah pesan masuk.

Prita: Guys, jangan lupa ya nanti ngumpul jam 16.30.

Ia kemudian melirik jam di dindingnya, pukul setengah empat sore. "Sejam lagi." Ia bangkit dari ranjangnya. "Harus siap-siap dari sekarang."

Queen melangkah menuju lemari pink-nya dan meraih satu set baju yang sudah ia siapkan dari kemarin. Lalu menyimpannya di ranjang dan beranjak pergi ke toilet.

#

"Udah siap?" Ibunya Queen melihat ke arah putrinya yang baru keluar dari kamar, raut mukanya berubah. "Kamu mau pakai baju itu?" tanyanya tak senang

Queen menghentikan langkahnya. "Iya mah," jawabnya pelan.

"Apa nggak terlalu ketat sayang?" tanya ibunya memperhatikan celana skinny jeans yang dipakai Queen.

"Ah, aku ganti jeans biasa ya mah."

"Terus," Ibunya memperhatikan baju yang dikenakan Queen dengan seksama. "Bajunya kayak terlalu tipis ya?" Ia tampak berpikir. "Kamu kan pulangnya sore menjelang malam, nanti malah kedinginan."

Queen terdiam, raut mukanya pasrah. "Kalau gitu, aku ganti baju dulu ya mah." Dengan perasaan kecewa ia melangkah masuk kembali ke kamarnya.

Ibunya berlari kecil menyusulnya. "Mamah bantu pilihin bajunya, ya?" Ia tersenyum.

#

Queen meremas lengan sweater ungu yang ia kenakan, diliriknya jam digital di ponselnya, pukul enam sore kurang lima belas menit. Perasaannya sudah tak enak, terlebih lagi membaca rentetan pesan masuk dari ibunya.

Mamah: Udah setengah enam sayang.

Mamah: Nanti mamah jemput ya.

Mamah: Kok gak di jawab pesan mamah?

Mamah: Udah bilang kan ke temen-temen mau pulang jam enam?

Mamah: Lima belas menit lagi ya sayang.

Queen melihat sekelilingnya, teman-temannya sedang asyik mengobrol. Sejak mendapat pesan pertama dari ibunya, ia sudah tak fokus untuk mengobrol.

"Queen cobain deh ini, pastanya enak banget!" Seorang gadis remaja yang duduk di seberangnya menawarinya sepiring pasta, membuat Queen sedikit kaget.

"Oh iya? Gue coba ya." Queen melahap sesendok pasta sambil mencoba membaca situasi, kapan waktu yang tempat untuk bilang pada teman-temannya.

Ponsel Queen kembali bergetar, ia melihat satu pesan masuk dari ibunya.

Mamah: Mamah udah sampai, lima menit lagi.

Queen langsung melirik jam di ponselnya, pukul enam kurang lima menit. Perasaannya sudah tak nyaman, dilihatnya lagi sekelilingnya. Bentar, bentar. Ia mencoba tenang, menunggu saat yang tepat. Barulah saat keseruan obrolan teman-temannya mulai mereda, Queen membuka mulutnya.

"Temen-temen ..." Suara Queen sukses membuat semua orang di sana melihat ke arahnya, membuatnya kikuk. "Gue pulang duluan ya," ucapnya pelan.

Kalimatnya itu membuat teman-temannya tampak kecewa. "Hah? Udah mau pulang lagi?"

"Loh, kok duluan sih Queen," sahut salah satu temannya.

"Iya maaf ya." Queen tersenyum canggung.

"Mau ke mana sih Queen? Kita baru ngumpul bentar loh," protes temannya yang lain.

Queen tertawa pelan dengan perasaan bersalah. "Mamah udah nunggu di depan soalnya."

Meski sudah mencoba menjelaskan, teman-temannya tetap menyerangnya dengan pernyataan yang membuatnya semakin merasa tak enak.

"Queen." Seorang gadis menahan lengan Queen.

Queen meliriknya kaget. "Iya ra?"

"Mau gue anter ke depan?" Kiara, teman Queen itu menawarkan diri.

"Nggak usah." Queen tersenyum padanya. "Mamah kayaknya lagi buru-buru, gue harus cepet."

#

Suasana kelas sore itu tampak riuh. Bukan hanya karena ini hari Jumat, tapi sebagian siswa telah mendengar desas-desus tentang kegiatan tahunan sekolah yang sudah mereka nantikan.

"Anak-anak," Seorang guru wanita memukul papan tulis dengan spidol di tangannya. "Tolong perhatiannya."

Lihat selengkapnya