Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #5

Radit

RADIT

"Putra awas!!!" teriak beberapa anak laki-laki, melihat salah satu temannya hendak menuruni turunan landai dengan sepeda yang bergerak dengan cepat. Buru-buru anak itu menancapkan rem.

Gubrak! Sepeda yang dibawa anak laki-laki itu malah tumbang dan berbenturan keras dengan aspal. Tubuh anak itu terseret cukup jauh, dengan kondisi badan menghadap ke atas, menyebabkan terjadinya pendarahan di bagian belakang kepalanya.

Para anak laki-laki tadi berlari panik mendekati temannya itu. Badan mereka bergetar, melihat kondisi temannya yang sudah tak sadarkan diri, dengan darah segar yang mengalir membasahi aspal.

"Gimana ini?" tanya seorang anak laki-laki ketakutan.

"Tadi kan gua bilang, si Putra jangan di belakang," sahut salah satu dari mereka.

"Bukan gua, si Arya itu!" ucap temannya yang lain membela diri.

"Loh kok jadi nyalahin gua-"

"Ini siapa?" Tiba-tiba seorang anak kecil, mungkin usia TK datang di tengah keributan. Seketika ia membeku melihat sosok anak yang terbaring di aspal.

Para anak laki-laki tadi saling pandang, mereka menyenggol lengan satu sama lain pelan sambil memberi kode.

"Radit," jeda anak yang bernama Arya. Ia memandang teman-temannya untuk meyakinkan diri. "Abang lo jatuh."

Radit, anak kecil itu melongo dan melebarkan matanya. Dengan segera, ia berlari menghampiri anak yang terbaring itu. "Bang! Bangun bang!" Ia mengguncang badan anak itu sambil menangis histeris.

#

Radit kecil duduk termenung di kursi rumah sakit, tangannya meremas kedua lututnya. Di sebelahnya, tampak seorang wanita dewasa dengan raut wajah pucat pasi dengan tatapan yang kosong.

"Bunda," panggil Radit pelan menatap wanita di sebelahnya itu.

Wanita itu—yang merupakan ibu Radit—diam tak menjawab, pandangannya tak fokus. Matanya bengkak dan napasnya tak teratur.

Radit mencoba menyentuh lengannya. "Bunda, abang nggak-"

"Radit, sst!" sahut seorang pria dewasa yang berdiri di samping pintu bertuliskan 'Instalasi Gawat Darurat'. "Kamu nggak liat bunda masih syok? Jangan diajak ngobrol." Tegasnya.

Radit mengangguk pelan kemudian bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati pria tadi—yang merupakan ayahnya.

"Yah, tadi temen-temennya abang, awalnya pada nggak mau bilang kenapa abang jatuh." Ia melapor pada ayahnya. "Terus, mereka malah saling tunjuk-tunjuk."

"Kenapa kamu bukan langsung telepon Ayah?" tanya Ayahnya ditengah ceritanya.

"Kan telepon ada di rumah. Itu juga pas Radit lagi nangis, ketemu sama pak-"

"Permisi." Seorang pria berjas putih keluar dari ruangan di sebelah ayahnya berdiri. "Dengan orang tua dari pasien atas nama Putra?"

"Ya, saya," sahut ayah Radit cepat.

"Gimana dok?" Ibunya Radit yang tampak lemas, langsung bangkit berdiri. Ia menghampiri pria berjas putih dengan tatapan khawatir.

"Begini bu, pak." Sang dokter, pria berjas putih tadi memandang kedua orang tua Radit. "Anak bapak dan ibu mengalami luka sobek di bagian belakang kepalanya. Jika luka itu tidak segera ditutupi, pendarahan tidak akan berhenti dan bisa menyebabkan infeksi," jelas dokter itu.

Ibunya Radit mulai terisak, sementara ayahnya berusaha menenangkan di sampingnya.

"Jadi kami perlu melakukan tindakan penjahitan, di bagian belakang kepalanya." Dokter itu menatap kedua orang tua Radit serius. "Jika setuju, mohon tanda tangani surat yang akan dibawa oleh perawat kami. Setelah itu, kami akan memulai tindakan."

"Ya, dok," jawab ibunya Radit dengan air mata yang mengalir. "Silakan lakukan, yang penting dia bisa sadar."

Ayahnya mengangguk menyetujui, sambil tetap menguatkan istrinya.

Seorang wanita muda lalu muncul, membawa papan klip berisi selembar kertas beserta pulpen. Dokter mengisyaratkannya untuk menyerahkan kertas itu pada ayah Radit. Dengan segera ayah Radit menanda tangani kertas itu, sementara ibunya menatap ke dalam ruangan yang terbuka tadi sambil terisak.

Radit kecil hanya mengamati semua hal yang terjadi di koridor rumah sakit itu. Tubuh kecilnya tak terlihat di balik orang-orang dewasa yang histeris. Ia kemudian menatap kaosnya yang tak ia ganti sejak kejadian tadi, dilihatnya darah kakaknya yang tadi sempat menempel dan sudah mengering.

#

"Laper.." Radit kecil membuka pintu kamarnya berjalan menuju ruang makan. Sudah beberapa hari ruangan-ruangan di rumahnya tampak sepi, seperti tak berpenghuni.

Di tengah langkahnya, ia melirik kamar yang tampak terang dari luar. Di dalam sana, ibunya tengah menyuapi kakaknya makan. Saat sesendok nasi sudah masuk ke mulut kakaknya, tangan kanan ibunya bergerak mengelus rambut kakaknya. Radit menyaksikan adegan itu dalam diam.

Ia melanjutkan langkahnya menuju meja makan, lalu membuka tudung saji. Terlihat semangkuk nasi dan beberapa lauk yang tersedia. Tangan kecilnya bergerak mengambil piring, kemudian menyendokkan nasi.

"Udah dingin," ucapnya lirih saat nasi itu tersimpan di piringnya.

Radit pun duduk setelah mengambil makanannya. Ia mulai menyuap sesendok nasi ke mulutnya, kemudian mengambil lauk yang lain. Ia makan dengan lahap.

"Eh," Radit melihat sebutir nasi yang jatuh ke atas meja. "Nggak boleh berantakan, nanti bunda tambah capek," ujarnya sambil memungut nasi yang jatuh tadi.


***


Bzzzz.. Radit yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah, merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh saku celana seragamnya, mengambil ponselnya. Ada sebuah telepon masuk.

"Halo bun?" angkat Radit, tampaknya orang yang menelepon adalah ibunya.

"Radit, kamu udah pulang sekolah kan?"Suara ibunya dari seberang sana.

"Udah," jawab Radit datar.

"Tolong beliin mie ayam ceker ya. Beli tiga, yang punya abangmu nggak usah pakai ceker. Dia nggak suka," jelas ibunya dari ujung telepon.

"Mm, ya," jawab Radit malas.

"Sama-" Terdengar bunyi kresek samar. "Sama martabak manis rasa cokelat kacang. Kamu sama abang kamu kan, suka itu."

Radit memutar bola matanya, kesal. Ini sih kesukaan dia semua. "Ada lagi bun?"

"Udah itu aja. Hati-hati ya pulangnya." Suara di ujung telepon terputus.

Radit membuang napas kasar, memasukkan kembali ponsel ke saku celananya, kemudian membenarkan posisi tas yang digendongnya. "Harusnya kalau banyak pesenan, uangnya kasih dulu tadi pagi," protesnya sambil berlalu pergi.

#

Radit memarkiran motornya, dan membawa dua kantung kresek berisi makanan ke dalam rumahnya. Ia kemudian menyimpan helm sambil tetap membawa dua kantung kresek itu.

"Duh, repot banget sih," keluhnya. Matanya melihat sekilas ke arah ruang keluarga, di sana ada kakaknya yang sedang sibuk menatap layar laptopnya. "Minimal bantu kek." Ia meninggikan suaranya.

"Eh," Ibunya yang sedang merapikan piring menyadari kedatangannya. "Kamu udah pulang." Ia menghampiri Radit, lalu membawa dua kantung kresek tadi dari tangan Radit.

Ibunya berjalan melewati kakaknya. "Bang, ini adikmu udah dateng bawa makanan. Yuk kita makan."

"Ya, bun," jawab kakaknya, matanya masih asyik menatap laptopnya.

"Ck. Enak banget sih cuma duduk, tinggal makan doang." Oceh Radit.

Seketika kakaknya menatap tajam ke arahnya. "Lo ngomong sama siapa dit?"

Radit mengabaikannya, hendak berjalan menuju kamarnya.

"Radit!" Kakaknya bangkit berdiri, mendorong kursi yang di dudukinya hingga menimbulkan suara. Ibunya yang sedang menuangkan mie ayam, tersentak kaget.

"Apa sih lo marah-marah?" Radit menatap kakaknya kesal.

"Lo ada masalah apa sih? Dari kemarin-kemarin, kayaknya nggak suka banget liat gue!" Kakaknya setengah berteriak.

"Huh." Radit membuang napas kasar. "Ya lo sadar dong-"

"Udah udah." Ibunya datang di tengah mereka, berusaha melerai. "Kenapa jadi berantem?" tanyanya sambil menatap kedua anaknya heran.

"Tau tuh." Kakaknya melirik Radit masih penuh emosi, lalu membereskan laptopnya. "Abang nanti aja makannya mah." Ia berlalu meninggalkan Radit dan ibunya.

Ibunya menatapnya pergi dengan raut muka sedih, kemudian memandang Radit. "Abangmu itu lagi sibuk sama tugas kuliahnya, jangan diganggu."

"Ya bun, maaf," ucap Radit datar, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sesibuk apa sih dia?

#

Malam hari itu, tak jauh dari gedung sekolah, sekelompok remaja laki-laki duduk menepi di trotoar jalan. Wajah mereka sudah penuh dengan luka lebam, sementara seragam mereka penuh debu tanah dan tetesan darah yang mengering.

"Ssshh.." Salah seorang dari mereka meringis memegang bibirnya yang terluka. "Sakit banget."

"Ya, lo udah tau sakit, malah di pegang," protes temannya yang lain, yang juga babak belur.

"Ini gue baliknya gimana ya? Nyokap pasti bakal marah," keluh remaja yang seragamnya penuh noda tanah.

Keluhan itu juga sepertinya dirasakan oleh yang lainnya, buru-buru mereka berdiri menepuk-nepuk baju seragamnya masing-masing, membiarkan debu tanah beterbangan di jalanan.

"Dit?" Salah seorang remaja laki-laki menepuk pundak Radit yang malah diam, menikmati hembusan angin malam yang menyentuh rambutnya. "Lo nggak apa-apa?" Dia menatapnya heran saat Radit menoleh padanya.

"Nggak apa-apa." Radit tersenyum ke arahnya, dengan mata dan pipi yang lebam habis terkena hantaman. "Kapan lagi gue bisa ikut tawuran kan?"

Pernyataannya itu sukses membuat para remaja laki-laki yang sedang membersihkan seragam, melongo tak percaya.

"Emang orang tua lo nggak apa-apa, lo balik kayak gitu?" tanya temannya penasaran.

Radit melirik temannya itu lalu menatap jalan di depannya. "Mereka," jeda Radit. "Gak peduli."

#

Kriiieeet... Pintu rumah terbuka perlahan, menampilkan Radit dengan muka yang bengkak dan seragam yang kotor, masuk dengan was-was. Matanya memperhatikan sekelilingnya yang gelap. Untung nggak ada siapa-siapa.

"Ekhem." Radit terperanjat mendengar suara deheman. Ia menengok ke arah suara, seseorang telah berdiri menantinya dalam kegelapan.

"A-ayah?" ucapnya sambil mengamati orang itu penuh ketakutan.

Orang tadi berjalan mendekati saklar lampu, kemudian menyalakannya. Tampak raut mukanya penuh amarah, melihat sosok Radit yang baru pulang. "Habis apa kamu jam segini baru pulang?" Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

Radit setengah ketakutan mendengarnya, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. "Apa pedu​li Ayah?" tanyanya pelan.

Lihat selengkapnya