AUDI
Sore itu, matahari bersiap menenggelamkan diri. Seorang wanita muda berlari kecil di bawah langit berwarna jingga kekuningan. Dalam dekapannya, sebuah keranjang plastik dipeluk sangat erat. Isi dari keranjang itu tak dapat terlihat karena tertutup kain di atasnya. Namun, sesuatu yang bergerak sepertinya ada di dalam sana.
Wanita itu berjalan mendekati sebuah rumah tua dengan halaman yang luas. Lalu melihat sekelilingnya, memastikan tak ada yang melihat. Ia menarik napas berat sebelum akhirnya menyimpan keranjang itu tepat di depan pagar rumah. Di ambilnya secarik kertas dari saku bajunya, kemudian kertas itu ia simpan di atas kain penutup. Dengan tatapan sendu ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Owekkk! Owekkk!" Baru beberapa saat setelah wanita itu pergi, terdengar suara tangisan bayi.
Tangisan itu memecah ketenangan sore yang hangat, sampai seorang remaja perempuan datang dari dalam rumah tua itu dengan raut muka panik.
"Di mana sih?" Remaja itu tampak putus asa karena tak kunjung menemukan asal suara.
"Owekkk!" tangisan itu terdengar semakin jelas.
Ia langsung menoleh. Lalu berjalan tergesa-gesa menuju pagar. Matanya membesar. "Ya ampun, kenapa ditutup gini?" Dengan cepat ia membuka kain penutup. "Kasian jadi sesak."
Di tatapnya isi keranjang itu dengan hangat dan sedikit perasaan sedih. Seorang bayi mungil dengan muka yang memerah menatapnya takut.
"Nggak apa-apa." Ia berusaha menenangkan bayi itu dengan menggoyang-goyangkan keranjangnya pelan. "Di sini, kamu aman," ucapnya sambil tersenyum.
Ia baru saja akan melanjutkan langkahnya, namun secarik kertas yang ada di bawah kakinya mengundang rasa penasaran.
Di ambilnya kertas itu. "Tolong rawat Audi baik-baik," gumamnya sambil menengok kanan dan kiri, memastikan apakah ada orang di sekitarnya.
Ia lalu membawa kertas itu, beserta keranjang berisi bayi mungil masuk ke dalam rumah.
***
"Audi!" teriak seorang wanita muda, saat melihat seorang anak perempuan keluar dari semak belukar.
Audi—anak perempuan itu tersenyum lebar. Rambutnya berantakan penuh daun kering dan ranting yang terselip. Baju terusan yang ia pakai, penuh noda bekas getah daun dan sisa tanah yang menempel.
"Kamu itu gimana sih?" omel wanita itu dengan tatapan khawatir saat Audi menghampirinya.
Audi kecil tertawa memperlihatkan giginya. "Maaf ya bu."
Wanita itu menghela napas pelan, lalu menatap Audi. "Kamu kan udah janji nggak mau main kotor-kotoran lagi," jedanya. "Besok orang tua angkat kamu kan, mau datang."
Audi terdiam, lalu tiba-tiba cemberut. "Kenapa kalau punya orang tua harus pergi dari sini?" tanyanya memandang wanita itu. "Audi kan udah betah di sini."
Tangan wanita itu bergerak mengambil daun kering dan ranting dari rambut Audi. "Kamu kan mau tinggal di rumah baru. Di rumah itu, kamu bisa menikmati semuanya sendiri, nggak usah rebutan sama anak-anak yang lain."
"Tapi," Audi menatap wanita itu dengan tatapan sedih. "Kenapa Bu Rima nggak bisa ikut?"
Lagi-lagi wanita itu—yang dipanggil Bu Rima—menghela napasnya. "Di sini kan, Bu Rima masih harus bagi-bagi perhatian sama yang lain." Ia lalu membungkukkan badan, menyamai tinggi matanya dengan Audi. "Di rumah baru, Audi bisa dapat perhatian sepenuhnya dari ibu dan ayah."
Audi memanyunkan bibirnya, lalu memeluk Bu Rima erat dengan bajunya yang masih kotor. "Malam ini Bu Rima harus tidur sama aku!" perintahnya.
Bu Rima tertawa kecil mendengarnya. "Iya." Ia mengelus rambut Audi.
#
Audi duduk dengan punggung kaku, kedua pergelangan kakinya bertautan di bawah kursi. Ia meremas kedua lututnya dan sesekali menundukkan kepala setiap kali matanya bertemu dengan mata sepasang suami istri di depannya.
Bu Rima yang duduk di sebelahnya, menatap suami istri itu dengan senyuman ramah. Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari map yang ada di meja. "Ini satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh orang tua kandungnya." Ia menyerahkan kertas itu.
Sang istri mengambil kertas dan membacanya pelan. "Jadi namanya itu pemberian orang tua kandungnya?" tanyanya.
"Betul," jawab Bu Rima.
"Usia kamu berapa?" tanya sang suami tiba-tiba, ia memandang Audi.
Audi tampak ragu untuk menjawab.
"Tujuh tahun," jawab Bu Rima sambil melihat ke arah Audi.
Sang suami kemudian memandang istrinya. "Sebetulnya kami sudah lama menantikan kehadiran anak di rumah kami." Ia lalu mengelus bahu istrinya. "Semoga dengan kehadiran Audi, hal itu bisa terobati."
Bu Rima tersenyum mendengarnya. "Audi anak yang baik dan ceria, semoga Bapak dan Ibu bisa merawatnya dengan baik," ujarnya dengan tatapan penuh harapan.
"Saya akan memberikan yang terbaik untuknya." Janji sang istri, ia kemudian tersenyum pada Audi.
"Syukurlah." Bu Rima lega mendengarnya. "Untuk berkas administrasi sudah saya masukkan ke dalam map." Ia menyerahkan map yang ada di meja itu.
Sang suami mengambil map dan mengeceknya. "Baik, sudah lengkap."
"Terima kasih ya bu," ucap sang istri, kemudian ia bangkit menghampiri Audi.
Audi melihat kedatangannya dengan tatapan cemas.
Bu Rima yang sadar akan hal itu, mengelus punggung Audi berusaha menenangkannya. "Nggak apa-apa."
Sang istri kemudian duduk di tempat yang kosong, tepat sebelah Audi. "Ayo Audi, kita pulang ke rumah." Ia mengelus rambut Audi lembut.
***
Tak terasa sudah setahun Audi tinggal di rumah barunya. Ternyata ketakutannya di pertemuan pertama itu hanyalah perasaan cemas belaka. Suami istri yang merawatnya adalah orang yang baik dan penyayang.
"Aduh." Sang istri—ibu angkat Audi—meringis saat akan mengambil sebuah barang dari rak diatasnya.
Audi yang sedang asyik merangkai manik-manik seketika langsung menoleh ke arah ibu angkatnya. Ia berlari kecil menghampirinya.
"Ibu sakit?" tanyanya polos.
Ibu angkatnya memandang ke arahnya. "Ibu cuma lagi sakit perut aja, nggak apa-apa kok." Ia mengelus rambut Audi. "Kamu lanjutin lagi ya mainnya."
"Audi nggak lagi main, Audi lagi bikin ini bu." sahutnya sambil menunjukkan manik-manik yang telah ia rangkai.
"Wah, cantik banget." Puji ibu angkatnya dengan mata berbinar.
"Nanti kalau udah jadi gelang, Audi kasih ke Ibu!" serunya bersemangat.
Ibu angkatnya tertegun, matanya berkaca-kaca. "Maaf ya sayang," ucapnya pelan.
"Audi mau bikin yang bagus! Biar Ibu bisa pakai jalan-jalan." Audi masih tampak bersemangat.
Ibu angkatnya terdiam. "Makasih ya sayang." Ia mengelus perlahan rambut Audi.
"Audi mau lanjutin lagi bikin gelangnya ya bu," sahut Audi berbalik ke tempatnya semula.
Dari ambang pintu, tampak seorang pria yang sedari tadi mendengar obrolan mereka. Ia berjalan mendekati istrinya yang masih memandang pilu ke arah Audi.
"Jadi, kamu udah yakin?" Sang suami berbisik.
Sang istri menoleh, menatap suaminya dengan perasaan bersalah. Tangannya bergerak menyentuh perutnya yang cukup menonjol.
"Ya, aku ingin merawatnya." Ia mengelus perutnya lembut, lalu memandang Audi yang masih sibuk dengan kegiatannya.
#
Pagi itu, Audi bersama kedua orang tua angkatnya sedang menikmati sarapan bersama di atas meja. Audi makan dengan sangat lahap.
"Udang krispinya enak sayang?" tanya ibu angkatnya Audi. Ia menopang dagunya dengan kedua tangannya, menatap Audi dengan penuh perhatian.
"Suka!" Audi menelan makanan di mulutnya. "Ini kan udang krispi kesukaan Audi!"
Ibu angkatnya tersenyum. Ia meraih tangan kecil Audi dari atas meja, lalu menggenggamnya.
"Nggak ada yang lebih enak dari udang krispi buatan Ibu!" serunya bersemangat.
Ibu angkatnya Audi terdiam, ia melonggarkan sedikit genggaman tangannya.
"Bisa aja sih kamu," sahut ayah angkatnya.
"Masakan ibu kan selalu enak yah!" protesnya dengan mulut yang masih penuh makanan.
Ayah angkatnya tertawa. "Iya, telan dulu itu yang di mulut."
"Audi." Ibu angkatnya tiba-tiba bersuara. Ia memandang suaminya sebentar. "Hari ini kita jalan-jalan yuk, udah lama kan kamu nggak jalan-jalan?"
Mata Audi langsung berbinar. "Ayo!" serunya setengah berteriak.
#
"Wah!" Mata Audi terbuka lebar. Tangannya beberapa kali menyentuh kaca jendela mobil, ia tampak bersemangat.
Dipandangnya jalanan yang ia lewati. Terbesit di pikirannya bahwa ia pernah melewati jalanan itu dulu.
"Audi kangen tempat ini nggak?" tanya ibu angkatnya tiba-tiba, ia menengok ke arah Audi yang duduk di bangku belakang.
"Kangen bu!" jawab Audi yang sedang menyambungkan ingatan dengan apa yang ia lihat.
"Nanti, kita lihat danau yang ada di depan itu ya." Ibu angkatnya menunjuk sebuah danau di depan jalan.
"Ya!" Audi mengangguk bersemangat.
Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan semak-semak, yang di belakangnya terdapat danau kecil yang asri.
"Ibu dan ayah mau parkir dulu, kamu tunggu di sini ya," jelas ibu angkatnya, saat Audi hendak turun dari mobil.
"Ya," jawab Audi mengerti, lalu turun dengan muka yang ceria.
#
Audi berjongkok di depan semak-semak, ia menopang dagu dengan kedua tangannya. Sesekali ia menengok ke kanan dan kiri, menantikan kehadiran orang tuanya.
"Audi!" Suara seorang wanita memanggilnya.
Dengan bersemangat Audi langsung berdiri, menoleh ke sumber suara. "Eh," Ia terdiam. "Bu Rima?"
Bu Rima datang dengan mata berkaca-kaca, memandang Audi pilu. Ia memeluk tubuh mungil di hadapannya itu erat.
"Bu Rima kangen aku ya?" tanya Audi polos dalam pelukannya.
Bu Rima menatap mata Audi dalam, sambil memegang kedua bahunya. "Ayo kita pulang," ajaknya.
"Loh?" Audi melongo. "Ibu mau ke sini, mau lihat danau sama aku."
Bu Rima menghela napas. "Ibu nggak akan jemput kamu," balasnya.
"Hah?" Audi melongo kembali, tak mengerti.