Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #7

Kikai no Hi

KIKAI NO HI

Audi berlari saat telah menemukan Bagas dan Prama di antara kerumunan remaja di taman. Ia langsung menghampiri mereka dengan muka panik.

"Ada sesuatu?" tanya Bagas, sadar akan kehadirannya.

"Kalian tau besok ada apa?" ucap Audi menatap keduanya.

Bagas dan Prama saling pandang, tampak kebingungan.

"Emang ada apa?" tanya Prama penasaran.

"Katanya, ada rekreasi." Queen menyahut dari kursi di sebelah mereka, membuat mereka bertiga langsung menoleh ke arahnya.

Audi menengok ke kanan dan kirinya. "Kamu mau ikut gabung?" tawarnya pelan.

"Kalau dia gabung, berarti tuh bocah ikut juga dong," ujar Prama yang membuat Bagas terkekeh.

"Bocah?" gumam Audi, namun ia langsung tahu saat Radit datang membawa dua gelas jus mangga dan memberikannya satu pada Queen.

"Makasih ya." Queen menerima gelas itu dengan senyuman hangat, lalu menatap Audi. "Apa boleh?"

"Hah? Mau ngapain?" Radit yang baru datang dibuat bingung.

Audi mengangguk ke arah Queen, lalu duduk di kursi yang kosong. Queen langsung bergerak menggeser kursinya mendekat, sementara Radit mengikuti dengan muka yang masih bingung.

"Jadi besok ada rekreasi?" Bagas berusaha memastikan.

"Iya," jawab Audi dan Queen berbarengan.

"Bentar," jeda Prama ia tampak sedang mengingat sesuatu. "Apa Kikai no Hi yang dibilang Dimas itu rekreasi?"

"Hah?" Mereka berempat langsung melongo menatap Prama.

"Kikai no Hi? Rekreasi?" gumam Audi sambil mengerutkan dahi.

"Di gerbang lo, dikasih tau soal rekreasi?" tanya Bagas tiba-tiba pada Radit.

"Nggak," balas Radit tak acuh. "Bukannya bagus kalau kita pergi rekreasi? Nggak pada bosen lo semua di sini?"

"Aku nggak pergi," jawab Audi cepat. "Cuma gerbang aku yang nggak pergi."

Mereka semua dibuat diam oleh ucapan Audi.

"Besok," Bagas tiba-tiba bersuara. "Pas rekreasi atau apalah itu namanya, gue minta lo semua waspada," pesan Bagas serius.

"Bukan cuma besok, tapi dari sekarang." Prama menambahkan.

Bagas, Queen, dan Audi mengangguk menyetujuinya, sementara Radit tampak ragu.

"Kalian semua hati-hati. Besok, aku mau cari tau tentang Shihaisha," ujar Audi sambil memandang satu per satu temannya.

"Apa lagi itu?" tanya Queen. "Tadi Kikai sekarang Shihaisha." Ia tampak frustasi.

Shihaisha? Kok kayak pernah denger? Batin Bagas sambil mengorek kembali ingatannya.

Seorang pria tiba-tiba datang dan memberi tatapan tajam pada mereka.

Queen mengernyitkan keningnya, seperti tak asing dengan pria itu.

"Kalian mengganggu remaja lain," jedanya. "Tolong jangan berkumpul."

#

Bagas melangkah masuk ke Gerbang Kedamaian dan memandang sekelilingnya heran. Kok tumben banyak pelayan?

Pelayan wanita berpakaian alat barat dan pelayan pria bersetelan jas memenuhi koridor, memberikan hanya sedikit jalan bagi orang yang lewat.

Para pelayan itu tersenyum ramah dan membungkuk sedikit saat Bagas melintas. Bagas membalasnya dengan senyum tipis, sampai matanya bertemu dengan mata Bintang.

Ia langsung melebarkan matanya pada Bintang dan memberi isyarat. "Kak ha-ti-ha-ti." Bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, namun Bintang malah menatapnya heran.

#

Bagas menutup pintu kamarnya setelah melewati para pelayan di sepanjang koridor. Ia menarik napas dan berjalan menuju ranjangnya.

Tok tok tok, pintu kamarnya di ketuk. Bagas mengernyitkan kening, lalu mendekati pintu perlahan.

"Saya bawakan sirup," ucap seorang pelayan laki-laki ketika Bagas membuka pintu. Ia masuk ke kamar, membawa nampan berisi segelas sirup berwarna merah.

"Oh," Bagas memperhatikan gelas sirup itu. "Terima kasih."

"Silakan kamu minum dulu." Pelayan itu menyodorkan gelas sirup tadi pada Bagas.

Bagas menelan ludahnya. Dengan hati-hati ia mengambil gelas itu, menatap sirup merah itu ragu. Ia melirik pelayan tadi yang sedang menunggunya untuk minum.

Dengan hati-hati ia mendekatkan gelas itu pada bibirnya, lalu berpura-pura meneguk sirup yang masih ia tahan di mulut. Kemudian salah satu tangannya bergerak mengelap mulut. Saat pelayan itu tersenyum dan mengambil kembali gelas dari tangan satunya, buru-buru ia meludahkan sirup itu ke telapak tangannya. Sepersekian detik ia langsung mengelap tangannya ke celana yang ia kenakan.

"Nanti tolong dihabiskan." Pelayan itu menyimpan gelas sirup sisanya di atas meja dan pamit keluar kamar.

#

"Ya-" Queen terkejut saat membuka pintu kamarnya. Seorang pelayan perempuan membawa gelas berisi cairan berwarna merah di atas nampan.

"Kamu bilang mau coba teh rosela, kan?" Pelayan itu tersenyum ramah. "Saya bawakan."

"Terima kasih," ucap Queen hendak mengambil gelas, namun tindakannya langsung terhenti.

"Biar saya bawakan ke dalam, biar kamu bisa langsung meminumnya," ujar pelayan itu melangkah masuk.

Queen sedikit terkejut, matanya memandang pelayan itu curiga. "Ah!" Ia tiba-tiba memegangi perut.

Pelayan itu kaget dan langsung menyimpan nampan berisi gelas tadi di meja, buru-buru menghampiri Queen.

"Saya harus ke toilet." Queen menolak bantuan dari pelayan. "Tehnya nanti saya minum habis dari toilet. Tolong jangan tunggu saya," pesan Queen sambil berlari menuju kamar mandi.

Pelayan itu tak punya pilihan selain membiarkan teh rosela itu tergeletak di atas meja.

#

Prama langsung bergerak membuka pintu saat terdengar suara ketukan.

"Maaf mengganggu istirahatmu, saya bawakan jus stroberi segar." Seorang pelayan wanita berdiri di depan pintu membawa nampan berisi segelas jus.

"Ah iya, terima kasih." Prama mengambil gelas itu dan memandang isinya sedikit ragu.

"Tolong diminum ya." Pelayan itu menatap Prama, mengisyaratkannya untuk segera minum.

"I-iya." Prama langsung meneguk jus itu sampai sepertiga gelasnya kosong. Ia lalu mengacungkan jempolnya pada pelayan dan menutup pintunya.

Ia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan jus itu di wastafel. "Hampir aja gue telen." Ia berjalan kembali ke ranjangnya.

"Eh iya, Dimas!" serunya panik berlari menuju pintu.

"Kok nggak bisa dibuka?" Ia mencoba membuka pintu, namun pintu itu sepertinya di kunci dari luar. Lalu ia memperhatikan lubang kuncinya. "Kunci yang biasa ada di sini kok nggak ada ya?"

#

"Ada apa?" tanya Radit pada seorang pelayan laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu.

"Kamu mau coba moktail?" Pelayan itu menunjukkan segelas moktail berwarna merah, yang membuat mata Radit berbinar.

"Tapi," Radit tampak ragu. "Ini aman untuk anak tujuh belas tahun?"

"Aman," sahut pelayan itu cepat. "Ini bukan koktail." Ia tersenyum.

Radit dengan santainya meminum segelas moktail itu. "Ahhh ..." Ia meneguknya dan menyerahkan gelas kosong pada pelayan.

Pelayan itu tersenyum lebar. "Selamat beristirahat." Ia berlalu.

Radit menutup pintu kamarnya, lalu beranjak menuju toilet. "Emang rasanya kayak gitu ya?" gumamnya.


***


Keesokan harinya, Bagas dibuat bingung dengan kondisi Gerbang Kedamaian yang sepi. Di setiap ruangan, bahkan di ruang makan sekali pun tak ada seorang pelayan. Kejanggalan itu membuatnya mengendap-endap menuju pintu gerbang, untuk mengintip kondisi taman. Namun, hal yang sama pun terjadi di taman, tak ada seorang pun di sana.

Suara ketukan pintu membangunkan Bagas yang terlelap, ia tertidur karena terlalu lama menunggu adanya orang di luar. Ia pun bangkit untuk membuka pintu.

"Maaf mengganggu." Pelayan itu membungkuk meminta maaf. "Apa kamu masih mengantuk dan lemas?" tanya pelayan itu khawatir.

Bagas mengerutkan dahi, tak mengerti.

"Kamu sudah minum sirupnya ya?" Pelayan itu melirik gelas sirup merah yang ia simpan di meja kemarin. Gelas itu sudah kosong.

Bagas terdiam, lalu matanya membesar. "Ah iya," jedanya. "Ngantuk banget gue dari tadi."

Pelayan itu tampak prihatin melihatnya. "Tidak apa-apa kan, kalau sekarang bersiap?" jedanya. "Kita akan pergi rekreasi."

#

Prama berusaha tampil seperti remaja lain, mengikuti arahan petugas dengan langkah lemas dan mata yang sedikit tertutup. Ia berjalan menyusuri ruangan-ruangan menuju sebuah basement. Di sana, ada empat bis yang sudah terparkir.

Ia melebarkan matanya, mengamati sekitar dengan penuh kecurigaan. Tiba-tiba, muncul seorang petugas di sebelahnya.

"Naik!" Petugas itu setengah berteriak, membuat Prama dan beberapa remaja terkejut. Satu per satu dari mereka pun masuk ke bis.

Prama mengayunkan kakinya naik ke bis, dilihatnya para remaja yang sudah duduk dalam kondisi tertidur. Prama duduk di salah satu kursi kosong, di samping seorang gadis yang masih setengah sadar. Begitu melihat Prama, gadis itu langsung membulatkan matanya.

"Hai Prama." Baru saja dia menyapa, kepalanya langsung ambruk di bahu Prama.

Prama tersentak kaget, tapi ia tak tega membangunkan gadis itu. Akhirnya ia membiarkannya dan pura-pura tidur seperti yang lain, supaya tak menimbulkan kecurigaan petugas.

Dengan mata yang sedikit terbuka, Prama mengamati jalanan yang dilaluinya. Ia penasaran ke mana bis itu akan membawanya.

Lihat selengkapnya