GERBANG TERAKHIR
"Yang itu bukan bangunannya?" tanya Bagas sambil melirik Prama.
"Iya, yang besar itu," jawab Prama, yakin pada ingatannya.
Mobil pick up itu memasuki kawasan lahan yang luas. Di tengah lahan itu, sebuah bangunan besar dari beton berdiri kokoh. Seluruh dinding luarnya dicat putih. Namun, tak ada satu pun jendela yang terpasang, seperti sengaja menyembunyikan aktivitas di dalamnya. Mobil itu berhenti di depan sebuah pintu besi besar yang sangat tinggi.
Bagas mematikan mesin mobil sambil memandang pintu besi di depannya.
"Ayo turun dit," ajak Queen yang menyadari mobil telah berhenti.
Mobil hitam yang sedari tadi mengikuti mereka muncul, tepat di belakang mobil pick up. Sepersekian detik, tiga orang pria dewasa berpakaian hitam turun dari mobil, membuat Queen dan Radit terperanjat di tempat.
"Mereka siap-"
Belum selesai Radit bicara, tiga pria itu langsung menyergapnya dan Queen yang duduk di bak belakang. Prama yang melihatnya dari kaca spion bergegas untuk turun menolong.
"Bro," Bagas menghentikan tindakannya. "Lo, masuk ke pintu itu setelah gue turun." Bagas menunjuk sebuah pintu kecil di samping pintu besi tadi.
Prama menoleh ke arahnya seolah berkata 'Hah kenapa?'.
"Cari Audi." Bagas langsung turun dari bangku depan, lalu menghantam salah satu pria yang menyergap Queen dan Radit.
Prama yang sempat bingung, langsung tersadar dan berlari ke pintu yang Bagas maksud.
Seorang pria turun dari mobil hitam, saat Bagas sedang menyerang pria-pria tadi dengan liar. Ia langsung memberikan pukulan keras tepat di pipi Bagas, membuatnya sedikit limbung.
Dalam ketakutan, Radit melihat Bagas yang diserang dari segala arah dan Queen yang menjerit karena seorang pria menariknya paksa. Timbul kemarahan di hati Radit, membuatnya mengepalkan tangan sekuat tenaga.
Bukk! Radit akhirnya memberikan serangan pertamanya, tepat di di hidung pria yang menyerang Bagas.
Bagas sampai terkejut melihat gerakan cepat Radit, dan tersirat senyum bangga di wajahnya.
Queen yang melihat aksi Radit, terpacu untuk menyerang pria yang sedari tadi berusaha mengangkatnya keluar dari bak terbuka. Ia menggunakan kekuatan sikutnya untuk menyerang perut pria itu.
Meski sempat kesakitan, pria yang diserang Queen itu langsung mengunci gerakan tangan gadis itu, membuatnya hanya bisa menendang-nendang kakinya ke udara. Salah satu pria yang sedang menyerang Bagas, mendekati mereka dan ikut menahan kaki Queen. Sedetik kemudian, kedua pria itu langsung mengangkat Queen dan menggotongnya masuk ke dalam bangunan putih.
"Queen!!" Radit yang sedang kewalahan melawan pria di depannya, terdistraksi.
Bagas mengamati keadaan sambil tetap menghalau serangan. "Selamatin Queen dit, biar mereka gue yang urus," bisiknya pada Radit.
Radit sempat ragu. Namun, begitu Bagas bergerak cepat menendang paha pria yang menyerangnya sampai pria itu tersungkur, Radit langsung yakin untuk meninggalkan Bagas sendiri.
Sementara itu, kedua pria yang menggotong Queen dibuat terkejut saat melihat pintu kecil di samping pintu besi sudah terbuka lebar.
"Pintunya ada yang dobrak!" seru pria yang mengunci lengan sekaligus membekap mulut Queen.
Pria yang menahan kaki Queen langsung mengeluarkan HT dari saku celananya. "Lapor, darurat! Ada yang menyelinap masuk ke Pintu Putih."
#
Teeett ... Teeett ... Teeett ...
Alarm peringatan berbunyi, menggema di seluruh ruangan bangunan itu. Lampu darurat berwarna merah berkedip-kedip di sepanjang koridor. Audi yang sejak tadi menyendiri di ruangan kosong, terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang, matanya was-was.
Apa mereka sadar aku kabur dari gerbang? Batinnya sambil mengawasi pintu ruangan dengan mata yang sembab.
Ia menarik celananya hendak berdiri, membuat luka di pergelangan kaki kanannya yang mulai mengering, tergores lagi. Ia meringis pelan, namun segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Tampak sebuah tongkat besi untuk berjalan, ada di pojok ruangan dekat pintu
"Kok aku baru sadar ada tongkat ya?" Ia meraih tongkat itu, lalu terdiam. "Aku bawa dulu, buat jaga-jaga."
Audi segera berlari keluar ruangan, menuju jendela berteralis yang menghubungkan koridor ke kamar mandinya di Gerbang Harapan. Tongkat yang ia bawa cukup membantu kakinya untuk berlari di sepanjang koridor. Matanya berkeliaran, mencari jendela berteralis itu.
Tiba-tiba seorang penjaga muncul di ujung koridor, mengagetkannya.
"Jadi kamu, yang menyelinap masuk?!" Ia berjalan menghampiri Audi dengan tatapan tajam.
Audi melangkah mundur dengan tatapan cemas, ia lalu mengayunkan tongkatnya sebagai pelindung diri.
"Ck." Penjaga itu berdecak kesal. "Ngerepotin aja lu."
Dengan cepat ia mengambil ujung tongkat yang diarahkan kepadanya, berusaha menariknya. Tapi cengkeraman Audi terlalu kuat sehingga tongkat itu tak kunjung lepas.
Penjaga itu akhirnya mendorong tongkat itu sekaligus tubuh Audi, masuk ke dalam ruangan di belakang Audi.
#
"Woi lepasin tongkatnya!" Penjaga itu masih menarik tongkat dengan penuh emosi.
Keringat bercucuran di dahi Audi, tangannya yang mencengkeram tongkat pun sudah memerah.
Penjaga itu tiba-tiba melepaskan tangannya. "Sialan." Ia mengepalkan tangan sambil membunyikan jari-jarinya, melangkah mendekati Audi.
Audi menempelkan badannya ke dinding ruangan, tongkat itu ia angkat tinggi-tinggi ke wajah si penjaga. Dadanya naik turun, bunyi napasnya terdengar, dan tangannya gemetar.
Bukk! Seseorang memukul kepala penjaga itu dari belakang.
Penjaga itu berbalik dengan napas memburu. Terlihat Prama yang sudah berdiri di belakangnya dengan sorot mata penuh amarah.
Tanpa aba-aba, penjaga itu langsung menghajar Prama dan menyerangnya tanpa ampun.
Meski sedikit kewalahan dan tubuhnya tak sebanding dengan penjaga itu, Prama dengan gesit menghalau serangannya. Saat pria di hadapannya itu lengah, ia balik menghajarnya.
Audi tak mau diam saja melihat adegan itu. Dengan sisa kekuatannya, ia menghantam punggung penjaga dengan tongkat besi di tangannya, memukulnya berkali-kali penuh kekesalan.
Setelah mendapat serangan dari depan dan belakang tanpa henti, penjaga itu tak sanggup lagi. Ia pun ambruk di tempat.
Keduanya menyaksikan penjaga tadi terkapar di lantai. Prama kemudian menatap Audi dengan napas terengah-engah, sementara Audi masih memperhatikan penjaga itu.
Prama pun melangkah mendekati Audi. Sembari melangkah, ia memperhatikan bekas darah di pergelangan kaki Audi.
"Audi-"
"Makasih banyak ya." Audi memotong ucapannya.
Prama berdiri tepat di hadapan Audi. "Kaki lo kenapa?" Tersirat kekhawatiran dari sorot matanya.
"Ah," Audi tersenyum tipis. "Tadi luka sedikit."
Prama memperhatikan lagi bekas darah yang cukup banyak di kaki Audi, ia mengernyitkan keningnya.
"Yang lain di mana?" tanya Audi tiba-tiba.
Prama menghela napas berat. "Mereka, nanti ke sini."
Audi membulatkan mata. "Ayo kita cari mereka!" ajak Audi bersemangat.
"Audi." Prama menatap mata Audi. "Lo cari tempat aman, lo butuh istirahat."
Audi terdiam, tak menjawabnya.
"Kalau ada petugas, lo harus lari-lari. Kaki lo bisa tambah parah," ujar Prama khawatir.
Audi menghela napas. Lalu ia menyerahkan tongkat yang sedari tadi digunakannya kepada Prama. "Ini."
Prama memandang tongkat itu dan Audi bergantian, bingung.
"Pakai ini, sampai kita ketemu lagi." Pesan Audi, lalu ia melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Eh, lo nggak mau dianter?" tanya Prama cemas.
"Nggak perlu." Audi berjalan meninggalkan Prama, dengan kakinya yang terluka.
#
Bagas mengamati sekelilingnya dengan napas terengah-engah dan wajah yang babak belur. Tatapannya tajam, seperti memburu sesuatu. Ia terus berjalan, hingga sampai di tempat ia dikumpulkan bersama remaja lainnya sebelum mereka pergi. Taman hijau yang damai dan asri.
Kakinya melangkah mendekati tangga putih. Saat tiba di ujung tangga, matanya menatap lurus ke sebuah pintu yang berada jauh di depannya. "Gue yakin itu ruangannya."
Ia mengayunkan kakinya, naik ke anak tangga pertama. Napasnya memburu, tampak ingin segera meraih pegangan pintu itu dan membukanya.
Keinginannya itu seketika terpatahkan oleh cengkeraman seorang penjaga yang menarik pundaknya dari belakang. Baru sedetik Bagas menoleh, sebuah tinju langsung mendarat di rahangnya.
Tubuhnya tersungkur di atas anak tangga. Darah segar menetes dari ujung bibirnya, menciptakan noda merah di tangga putih.
"Sok jagoan banget lo bocah!" seru si penjaga sambil tertawa mengejek.
Bagas melirik para penjaga yang berdiri di belakang penjaga itu. Mereka semua memandangnya sambil tertawa merendahkan.
Ia mengelap kasar darah yang keluar dari bibirnya dengan punggung tangan, lalu bangkit berdiri. Karena posisi tangga yang lebih tinggi, ia bisa menatap semua orang di bawahnya tajam.
Sepersekian detik kemudian, Bagas menerjang orang-orang di bawahnya, mengamuk penuh amarah. Ia melayangkan pukulan, sikutan, tendangan ke setiap penjaga yang memandangnya rendah tadi. Jika ada yang menyerangnya balik, ia akan menghajarnya lebih keras. Luapan amarah tersirat di matanya.
Dengan napas memburu dan tubuh yang gemetar, Bagas berhasil menumbangkan para penjaga. Lalu segera berlari menuju pintu di samping Gerbang Harapan, yang sedari tadi ia tuju. Seperti sebuah takdir, pintu itu tak dikunci, membuatnya bisa langsung masuk ke dalam.
#
Radit terus membuntuti dua pria yang menggotong Queen, hingga mereka sampai di koridor yang sepi.
"Mmph! Mmmph?!" Queen yang mulutnya dibekap, meminta tolong saat kedua pria itu menyeretnya masuk ke sebuah ruangan.
Radit mengintip dari ujung koridor sambil mengepalkan tangannya. Dalam keadaan cemas, ia berpikir bagaimana cara menyelamatkan Queen.