Pintu Putih

Hilwa Athifah
Chapter #9

Rumah

RUMAH

Pegangan pintu putih di sudut pasar malam yang sepi itu tiba-tiba bergerak.

"Hah, akhirnya!" Muncul wajah Radit penuh kelegaan dari balik pintu.

Queen yang melangkah di belakang Radit, langsung menatap langit remang di atasnya. Matanya berbinar. "Itu, langit beneran kan?"

"Nggak nyangka gue, bisa balik ke tempat ini," seru Prama menyusul di belakang Queen, dengan raut muka bahagia.

Hawa dingin khas fajar, menyentuh kulit Audi saat ia keluar pintu. Sebuah senyuman langsung tercipta di wajahnya.

Bagas menutup pintu putih itu, lalu menghela napas panjang. Ia memandangi suasana dunia normal yang sudah lama ia rindukan.

"Pintunya ... apa bisa kebuka lagi?" tanya Audi tiba-tiba di tengah kebahagiaan mereka.

Bagas langsung paham maksud Audi. Ia memeriksa kembali pegangan pintu itu, memastikannya sudah rapat dan tak bisa dibuka.

"Kayaknya, itu nggak cukup deh bro," ujar Prama sambil memperhatikan pegangan pintu tadi. "Dit, ambilin batu besar di sana," perintahnya sambil menoleh ke arah Radit.

"Lo mau rusak pegangan pintunya?" tebak Bagas.

Prama mengangguk, sementara Radit bergerak cepat mengambil batu yang dimaksud.

"Kalau gitu," jeda Audi menatap Queen. "Kita cari terpal yang nggak dipake."

"Eh, buat apa di?" tanya Queen bingung.

"Nutupin pintu ini," jawab Bagas cepat.

Queen mengangguk paham dan langsung menemani Audi berjalan mencari terpal.

Setelah Radit kembali dengan sebuah batu besar, Prama menyerahkan batu itu pada Bagas. Keduanya meyakinkan Bagas untuk menghancurkan pegangan pintu itu.

Bam! Pegangan pintu itu terlepas dari pintu putih, karena batu besar yang dipukul Bagas.

Audi dan Queen yang baru datang membawa selembar terpal kusam, terlonjak kaget mendengar suara hantaman.

Mereka berlima buru-buru menutupi pintu itu dengan terpal tadi. Bahu membahu kelimanya menutupi pintu, hingga dapat tersamarkan di sudut pasar malam.

Kelimanya menarik napas lega, lalu berdiri di depan pintu yang tertutup terpal itu dengan perasaan campur aduk.

#

"Gue tunggu lo mampir ke toko," ucap Prama tiba-tiba pada Radit.

Radit mengerutkan dahi. "Ngapaian? Lo nyuruh gue beli sembako?" tanyanya polos.

"Ini warung Madura woi! Semua ada, bukan cuma sembako," protes Prama sekaligus mempromosikan toko tempatnya bekerja.

"Nggak mau gitu lo dit, nongkrong lagi bareng gue sama Prama?" ucap Bagas ikut bersuara.

Radit mendengus pelan. "Tapi sekalian ajarin gue bela diri ya?"

"Gimana kalau ... ajarin dulu gue bikin cupcake," sahut Prama, yang langsung membuat Bagas tertawa dan Radit cemberut.

Audi yang berdiri di samping Bagas, ikut tertawa pelan.

"Nanti kalau boleh, gue minta temenin mamah dateng ke panti lo," seru Queen pada Audi tiba-tiba.

Audi menoleh ke arah Queen, menatapnya bingung.

"Kita ngobrol, jalan-jalan, beli makanan enak," jelas Queen dengan tatapan hangat.

Audi memandangnya, tampak tersentuh. Meski Queen bukan teman yang sepuluh tahun ia nanti, tapi gadis itu berhasil membuat Audi bisa merasakan kembali kehangatan seorang teman.

#

Akhirnya, kelimanya saling berpisah di depan pintu yang menyisakan kenangan manis dan pahit.

"Queen!" seru Radit histeris. "Pokoknya kita harus ketemu lagi." Ia menatap Queen sedih.

Queen mengangguk sambil tersenyum. "Semoga bisa ya."

Di sisi lain, Prama menghampiri Audi yang masih menatap pintu tadi. "Lo, bisa pulang sendiri?" tanyanya khawatir.

Audi menyimpulkan senyum. "Kan ada tongkat ini." Ia mengangkat sedikit tongkat yang ia pegang ke atas.

Audi lalu menatap Prama dan Bagas yang berdiri di dekatnya. "Makasih ya, udah mau berkorban banyak di tempat itu." Matanya melirik pintu itu lagi.

"Gue malah bersyukur masuk ke sana." ucap Bagas tiba-tiba sambil melirik pintu itu. "Banyak yang gue tau." Sorot matanya memancarkan kekecewaan.

"Ya ... meskipun habis ini kita harus balik ke kehidupan kita lagi," jeda Prama membuat keempat temannya menatapnya. "Tapi, kita punya rumah yang lebih aman kan?"


***


Queen tersenyum dari balik kaca jendela sebuah kafe, melihat mobil putih yang baru saja tiba.

"Mamah lo, udah jemput?" tanya Kiara yang duduk di sebelah Queen.

"Udah," jawab Queen masih tersenyum, senyuman yang tak dipaksakan.

Ia lalu membereskan barangnya, bersiap untuk pergi. "Gue duluan ya."

Teman-temannya mengangguk mengiyakan, tanpa sahutan kecewa yang biasanya mereka lontarkan.

"Gue anter ke depan ya," tawar Kiara hendak bangkit dari duduknya.

Queen terdiam memandangnya. "Boleh," ucapnya tanpa keraguan.

Lihat selengkapnya