"Alya, tunggu!"
Suara cempreng itu membuat Alya yang baru saja melompat dari anak tangga terakhir teras rumahnya berhenti dan berbalik.
Senyumnya langsung merekah begitu melihat sahabatnya, Rafi, berlari tergopoh-gopoh dengan ransel yang berguncang-guncang di punggungnya.
Napas Rafi terdengar memburu saat ia berhenti tepat di depan Alya, menumpukan kedua tangannya di lutut.
"Kamu ini, lari seperti dikejar hantu saja," ledek Alya sambil tertawa kecil. Tawanya renyah, seperti bunyi lonceng angin di pagi hari.
Rafi mengangkat wajahnya, cengiran lebar menghiasi mukanya yang sedikit berkeringat. "Bukan dikejar hantu, Aku mengejar sesuatu yang lebih penting."
"Oh ya? Apa itu?" tanya Alya, memiringkan kepalanya.
Rambut hitamnya yang sebahu ikut bergerak.
"Mengejar dosis pagiku," jawab Rafi dengan nada serius yang dibuat-buat.
Ia lalu menunjuk pipi Alya yang bersemu merah jambu alami di bawah sinar matahari pagi. "Pipi Merah Candu. Aku belum dapat jatah semangat pagi ini."
Alya tertawa lagi, kali ini lebih keras. Ia sudah hafal dengan istilah aneh ciptaan sahabatnya itu.
Rafi selalu bilang, melihat pipi merah Alya di pagi hari bisa membuatnya bersemangat sepanjang hari. Katanya, itu adalah "candu bahagia" yang paling manjur.
"Ada-ada saja kamu, Raf," kata Alya, tapi ia tidak menolak saat Rafi mendekat dan menatap pipinya dengan tatapan berbinar.
"Sudah? Dosisnya sudah cukup?"
"Sudah! Baterai semangatku sekarang seratus persen!" seru Rafi sambil menegakkan tubuhnya dan membusungkan dada.
"Ayo berangkat! Nanti kita terlambat dan kena omel Pak Guru Bram."
Mereka pun berjalan beriringan menyusuri jalan setapak desa yang masih sepi.
Udara pagi terasa sejuk, dan aroma embun yang menguap dari dedaunan menemani langkah kecil mereka. Seperti biasa, Rafi tidak pernah kehabisan cerita. Ia bercerita tentang mimpi semalam, di mana ia menjadi kapten kapal bajak laut yang menemukan pulau berisi cokelat seukuran gunung.
Alya mendengarkan dengan saksama, sesekali tertawa mendengar imajinasi Rafi yang liar. Itulah yang ia sukai dari Rafi. Dunianya selalu penuh warna dan petualangan.
"Menurutmu, di hutan belakang desa kita ada harta karun tidak, Al?" tanya Rafi tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah rimbunnya pepohonan di kejauhan.
Alya mengangkat bahu. "Tidak tahu. Kata Ibu, di sana hanya ada pohon-pohon besar dan beberapa tupai. Kenapa?"
"Hanya membayangkan saja," ujar Rafi.
"Kalau kita menemukan harta karun, kita bisa membeli toko es krim dan makan es krim sepuasnya setiap hari."
"Kamu ini, isinya makanan terus," sahut Alya.
Pembicaraan mereka terhenti saat mereka tiba di gerbang Sekolah Dasar Tunas Harapan.