Pipi merah candu

bagus aprilianto
Chapter #2

Bayangan di Pesta Ulang Tahun

Seminggu telah berlalu sejak Nara bergabung dengan kelas empat. Selama itu, ia lebih banyak diam dan mengamati.

Ia adalah seorang pengamat yang ulung. Ia memperhatikan bagaimana Alya selalu dikelilingi teman-teman saat istirahat, bagaimana Pak Guru Bram sering memujinya karena jawabannya yang cerdas tapi rendah hati, dan bagaimana Rafi seolah menjadi pengawal pribadi yang siap membela Alya kapan saja.


"Lihat, deh. Jawaban Alya benar lagi," bisik seorang siswi bernama Dita kepada teman sebangkunya, cukup keras untuk didengar oleh Nara yang duduk di belakang mereka.


"Dia memang pintar, sih. Sudah pintar, baik hati, lucu lagi dengan pipi merahnya," sahut temannya.


Nara yang sedang mencoba menyelesaikan soal matematika yang sama di bukunya, mengertakkan gigi tanpa sadar. Ia juga sudah menemukan jawabannya, bahkan mungkin lebih cepat dari Alya. Tapi kenapa tidak ada yang memperhatikannya? Kenapa semua pujian selalu tertuju pada gadis itu?


"Nara, apa kamu sudah selesai?" Suara Pak Bram membuyarkan lamunannya.


Nara terkejut. "Ah, iya, Pak. Sudah."


"Bagus. Coba kamu tuliskan jawabanmu di papan tulis," pinta Pak Bram.


Ini adalah kesempatannya. Dengan langkah percaya diri, Nara maju ke depan kelas. Ia menuliskan jawaban dan cara penyelesaiannya dengan rapi dan cepat. Tulisan tangannya bagus, dan langkah-langkahnya sangat sistematis.


Pak Bram mengangguk-angguk puas.


"Jawaban yang sangat baik, Nara. Cara penyelesaianmu juga sangat efisien. Hebat! Anak-anak, ini adalah contoh yang bagus. Ada beberapa cara untuk menyelesaikan satu soal, dan cara yang Nara gunakan ini sangat efektif."


Nara merasakan sedikit kebanggaan di hatinya. Ia melirik ke arah bangku Alya, berharap melihat ekspresi terkejut atau mungkin sedikit kagum.


Tapi yang ia lihat, Alya justru tersenyum tulus ke arahnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Tidak ada tanda-tanda persaingan sama sekali di wajah itu. Entah kenapa, reaksi Alya itu justru membuat Nara merasa lebih kesal. Rasanya seolah Alya tidak menganggapnya sebagai saingan sama sekali.


Di akhir pekan, Rina, salah satu teman sekelas mereka, merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Ia mengundang semua teman sekelas ke rumahnya untuk sebuah pesta kebun kecil. Tentu saja, Alya dan Rafi datang bersama. Bu Maya mengantar mereka dengan sepeda motornya, dengan Alya yang memegang sebuah kado besar di pangkuannya.


"Selamat bersenang-senang, ya, Sayang," kata Bu Maya sambil mengusap kepala Alya. "Ingat, jangan makan kue terlalu banyak."


"Iya, Bu," jawab Alya sambil mencium pipi ibunya.


Pesta Rina sangat meriah. Halaman belakang rumahnya yang luas dihiasi dengan balon warna-warni dan pita-pita.


Ada meja panjang yang penuh dengan kue, permen, dan minuman sirup.


Anak-anak berlarian dengan gembira, memainkan berbagai permainan yang dipandu oleh kakak Rina.


Alya, dengan kehadirannya yang ceria, langsung menjadi pusat perhatian.


"Alya, ayo kita main petak umpet!" ajak Bima.


"Tidak, main bentengan saja, lebih seru!" sahut Fajar.


"Bagaimana kalau kita minta Alya bercerita saja? Cerita Alya kan selalu seru," usul Dita.


Alya tertawa melihat teman-temannya berebut.


"Satu-satu, dong. Kita main semuanya nanti, ya?"


Nara, yang datang sendirian, berdiri di sudut taman sambil memegang segelas sirup. Ia mengenakan gaun yang indah, jauh lebih mahal dari gaun sederhana yang dipakai anak-anak lain.


Lihat selengkapnya