PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #1

Pita Tanpa Label

Tiga belas nama untuk satu suara.

Siang itu, toko Seno Audio masih sepi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar malas di langit-langit dan lagu Chrisye dari radio kecil di dekat meja kasir.

Laras duduk di balik meja panjang, sibuk menempelkan label pada beberapa kaset pesanan pelanggan. Di sebelah tangannya ada mesin tik, gunting, pulpen, dan tumpukan kotak kaset kosong.

Pintu toko terbuka.

Pak Seno masuk sambil membawa sebuah tape recorder besar berwarna hitam.

“Ras, sini bantu.”

Laras langsung berdiri.

“Apaan, Pak?”

“Barang bongkaran.”

Pak Seno meletakkan tape recorder itu di meja dengan suara berat.

Buk.

Debu beterbangan dari bagian speakernya.

Laras mundur sedikit.

“Ya ampun. Ini tape apa lemari?”

Pak Seno tertawa sambil mengusap tangannya pada celana.

“Makanya saya bawa. Coba dicek. Kalau masih hidup, kita jual.”

Tape recorder itu terlihat tua. Salah satu tombolnya hilang, bagian pegangan dililit isolasi hitam, dan sisi kirinya penuh goresan.

Laras memperhatikannya.

“Dapat dari mana?”

“Setiabudi.”

“Beli?”

“Borongan barang rumah.”

Pak Seno mengambil rokok dari saku kemeja.

“Rumah lama dibongkar. Ada radio, kipas, piringan hitam, macam-macam. Saya ambil beberapa barang yang kira-kira masih bisa diselamatkan.”

Laras menekan tombol eject.

Tidak terbuka.

Ia mencoba lagi.

Tek.

Pintu kaset hanya terangkat sedikit lalu berhenti.

“Macet.”

“Congkel.”

“Kalau patah?”

Pak Seno menyalakan rokok.

“Kalau enggak patah, namanya bukan barang saya.”

Laras mendengus.

Ia mengambil obeng kecil dari laci.

Tak lama kemudian Damar datang dari pintu belakang sambil membawa dua gelas kopi plastik.

“Wah, pasien baru?”

Pak Seno menunjuk tape recorder.

“Coba lihat. Katanya Laras enggak sanggup.”

Laras langsung menoleh.

“Saya enggak pernah bilang begitu.”

Damar terkekeh. “Baru datang sudah mau diadu.”

Ia meletakkan kopi lalu ikut melihat tape recorder.

Laras berhasil membuka pintunya beberapa senti.

“Ada kaset.”

Damar mendekat.

“Nyantol?”

“Iya.”

Mereka membuka bagian depan tape recorder. Beberapa menit kemudian Laras berhasil menarik kaset yang tersangkut di dalamnya.

Kaset itu langsung menarik perhatian mereka.

Seluruh cangkangnya hitam.

Tidak ada merek.

Tidak ada judul lagu.

Tidak ada nama pemilik.

Bahkan tidak ada tanda sisi A atau sisi B.

“Hm.”

Damar mengambilnya dari tangan Laras.

“Kaset kosong?”

“Mana saya tahu.”

Pak Seno melirik dari meja kasir.

“Buang saja.”

Laras hendak mengambil kembali kaset itu ketika melihat sesuatu.

“Tunggu.”

Ia menunjuk bagian atasnya.

Ada goresan tipis pada plastik.

Damar memiringkan kaset ke arah cahaya.

“X... I... I... I.”

“Tiga belas,” kata Laras.

Pak Seno menyahut, “Nomor kaset mungkin.”

“Kenapa digores?”

“Orang zaman dulu banyak waktu.”

Laras tersenyum tipis.

Damar memutar salah satu roda kaset menggunakan jari.

“Pitanya masih bagus.”

Laras langsung menoleh.

“Bisa diputar?”

“Coba.”

Pak Seno mengangkat wajah.

“Jangan pakai deck utama.”

“Iya, Pak.”

Laras membawa kaset itu ke tape deck abu-abu di meja belakang. Mesin tersebut biasa mereka gunakan untuk menguji kaset bekas sebelum disalin.

Damar ikut berdiri di sebelahnya.

“Kalau ternyata lagu dangdut?”

“Ya dengarkan.”

“Kalau ceramah?”

“Dengarkan juga.”

“Kalau orang ngutang?”

Laras tertawa.

“Kasih ke Pak Seno.”

“Eh,” protes Pak Seno dari depan.

Laras memasukkan kaset.

Ia menekan tombol play.

Klik.

Hanya suara desis.

Mereka menunggu.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Damar mulai kehilangan minat.

“Kayaknya kosong.”

Laras hendak menekan stop.

Tiba-tiba terdengar suara napas.

Keduanya terdiam.

Lalu suara seorang laki-laki muncul dari speaker.

“Nama saya Jaka.”

Laras menatap Damar.

Beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi.

“Nama saya Anton.”

Damar mengernyit.

“Orang yang sama?”

Laras mengangguk.

“Nama saya Rahman.”

Tidak ada perubahan suara.

Tidak ada orang lain.

Laki-laki yang sama menyebut nama yang berbeda.

Kemudian—

“Nama saya Seno.”

Pak Seno yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Damar menahan senyum.

“Dipanggil tuh, Pak.”

“Apaan?”

Laras menunjuk tape deck.

“Di kaset.”

Pak Seno mendekat.

Suara laki-laki itu berlanjut.

“Nama saya Bambang.”

Hening sebentar.

“Nama saya Hadi.”

Pak Seno memandang kaset.

“Kaset orang latihan drama kali.”

Belum ada yang menjawab ketika suara lain muncul.

Suara perempuan.

Pelan.

Tenang.

“Jangan berhenti.”

Laras spontan menoleh ke speaker.

Lihat selengkapnya