PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #2

Sisi B

Jangan dengarkan setelah lampu padam.

Pagi berikutnya, Laras datang lebih awal dari biasanya.

Pintu toko masih terkunci. Jalan di depan belum terlalu ramai. Beberapa warung baru membuka terpal, tukang koran menyusun dagangan, dan aroma kopi bercampur dengan asap kendaraan pertama yang lewat.

Laras membuka gembok lalu mengangkat pintu harmonika.

Hal pertama yang ia lihat setelah menyalakan lampu adalah laci meja.

Kaset hitam masih ada di dalam.

Ia tahu karena semalam ia sendiri yang menguncinya.

Tetapi tetap saja tangannya langsung memeriksa.

Kunci diputar.

Laci dibuka.

Bungkusan kertas itu masih tergeletak di tempat yang sama.

Laras mengeluarkannya.

Kaset hitam.

Goresan XIII masih terlihat di bagian atas.

Tidak ada yang berubah.

“Ya memang enggak mungkin berubah,” gumamnya.

Ia meletakkan kaset di meja.

Beberapa menit kemudian Pak Seno datang membawa koran pagi.

“Tumben.”

Laras sedang menyapu lantai.

“Enggak bisa tidur.”

Pak Seno berhenti.

“Gara-gara kaset?”

“Enggak.”

“Berarti gara-gara utang.”

Laras tersenyum kecil.

Pak Seno duduk lalu membuka korannya.

Tidak lama kemudian Damar muncul.

Ia mengenakan kemeja abu-abu dan membawa kantong kertas berisi gorengan.

Begitu masuk, matanya langsung mencari meja belakang.

“Masih ada?”

Laras menunjuk kaset.

Damar mendecakkan lidah.

“Saya kira semalam dibawa pulang.”

“Buat apa?”

“Teman tidur.”

“Lucu.”

Pak Seno menurunkan korannya.

“Kalian belum selesai juga sama barang itu?”

Damar mengambil sepotong bakwan.

“Belum.”

Laras mengambil buku catatan kemarin.

Tiga belas nama masih tertulis di sana.

Ia membuka halaman baru.

“Putar lagi.”

Damar berhenti mengunyah.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Belum sarapan.”

“Kemarin katanya cuma kebetulan.”

“Iya.”

“Saya mau buktiin.”

Pak Seno menatap mereka bergantian.

“Buktikan apa?”

Laras tidak menjawab.

Damar mengerti.

Ia mengambil kursi dan duduk dekat tape deck.

“Kalau enggak ada nama saya?”

“Berarti kita berhenti.”

“Serius?”

Laras mengangguk.

“Buang kasetnya?”

Laras tidak langsung menjawab.

Damar tertawa pendek.

“Nah.”

“Ya... kita simpan saja.”

“Bedanya?”

“Enggak didengar lagi.”

Pak Seno mengangkat tangan.

“Sebentar. Ini sebenarnya kalian ngomongin apa?”

Damar menunjuk Laras.

“Semalam nama dia disebut.”

Pak Seno menurunkan korannya.

“Laras?”

“Iya.”

Pak Seno menatap Laras.

“Kau kenal orang di kaset?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Makanya.”

Pak Seno diam sebentar lalu tertawa.

“Nama Laras banyak.”

“Itu juga yang saya bilang.”

“Ya sudah.”

Damar mengambil gorengan lagi.

“Sekarang kami mau cari nama saya.”

Pak Seno menggeleng.

“Kalau ada, baru saya percaya.”

Laras memasukkan kaset.

Sisi pertama.

Ia menekan play.

Mereka mendengarkan dari awal.

Nama-nama keluar satu per satu.

Jaka.

Anton.

Rahman.

Seno.

Pak Seno tidak bereaksi.

Bambang.

Hadi.

Rudi.

Yusuf.

Daniel.

Wawan.

Darsono.

Imam.

Marwan.

Tidak ada Damar.

Damar mengangkat kedua tangan.

“Nah.”

Laras belum puas.

“Belum selesai.”

Mereka menunggu bagian berikutnya.

Dialog antara laki-laki dan perempuan terdengar sama seperti kemarin.

Tentang rumah.

Tentang tidur.

Tentang tidak tahu harus pulang ke mana.

Sampai akhirnya rekaman berakhir.

Tidak ada nama Damar.

Damar bersandar.

“Sudah?”

Laras membalik kaset.

Sisi kedua.

Pak Seno ikut mendekat.

“Yang nama Laras di sini?”

“Iya.”

Kaset kembali diputar.

Suara perempuan.

“Hari ketujuh.”

Suara laki-laki.

“Pusing.”

Beberapa menit berlalu.

Lalu bagian yang mereka tunggu.

“Tidak ada yang memanggil.”

“Ada.”

“Siapa?”

“Laras.”

Pak Seno menatap Laras.

Damar tersenyum tipis.

“Tetap serem sedikit.”

Laras tidak menjawab.

Rekaman berlanjut.

“Siapa Laras?”

“Enggak tahu.”

“Kenapa menyebutnya?”

“Dia dengar.”

Pak Seno kali ini tidak membuat komentar.

Sampai bagian akhir.

“Kalau kau dengar ini... jangan percaya kalau mereka bilang saya punya tiga belas nama.”

Lalu:

“Saya cuma satu orang.”

Jeda.

“Cuma sudah terlalu lama dipanggil orang lain.”

Pita terus berjalan.

Damar menunggu.

Laras juga.

Mereka pikir rekaman akan berhenti seperti semalam.

Tetapi ternyata masih ada sesuatu.

Suara sangat kecil.

Mendekati ujung pita.

Laras menaikkan volume.

Desis.

Lalu suara laki-laki itu berkata:

“Besok jangan bawa Damar.”

Tidak ada yang bergerak.

Damar perlahan menurunkan bakwan yang belum sempat ia makan.

Pak Seno menatap tape deck.

Laras merasa telapak tangannya dingin.

“Putar lagi,” kata Damar.

Tak ada yang bercanda sekarang.

Laras menekan rewind beberapa detik.

Kemudian play.

Desis.

“Besok jangan bawa Damar.”

Jelas.

Tidak mungkin salah dengar.

Pak Seno berdiri.

“Matikan.”

Laras menekan stop.

Lihat selengkapnya